Tuesday, 7 July 2015

Catatan TKW

Because I Love my life and I love my family, too.

*Judul kepanjangan-- ra popo yaa :D 

Tadi pagi, sekitar pukul 10 am. Dengan ngantuk yang masih kental banget, karena baru tidur dari jam 7 pagi. Pukul 9:30 am, karyawan boss yang mau mengantar saya buat surat jalan atau surat cuti sudah nelpon, menyuruh siap-siap. Dan alhamdulillah sekarang bisa langsung buat KTKLN di KBRI di sini, gak pake lama pula. Walaupun sebenarnya gak terlalu niat untuk pulang lagi, tetapi jika keadaan mendesak ya gitu aja pokoknya.

Tentu saja ini merupakan hal yang paling menyenangkan, melapor untuk pulang cuti ke Kedutaan dan menjawab semua pertanyaan dengan penuh rasa syukur. Mulai dari gaji yang mencukupi, kebutuhan yang diperhatikan, hingga respect yang luar biasa dari keluarga ini. Berbincang seputar masalah pekerjaan dengan petugas di KBRI serasa memperbincangkan jalan ke surga. Wajah Bapak sudah menari-nari di pelupuk mata. Bayangan wajahnya, senyumnya, hingga cara beliau berjalan, dan memanggil namaku sudah begitu dekat.

Ah, saya gak sabar nunggu tanggal itu. Begitu selesai cetak kartu baru, aku pun diminta datang mengambil surat perjanjiannya sore harinya. Tapi si assistent boss mengatakan sibuk, hingga besok pagi saja katanya diambil. Sekalian nge'check visa UK-nya si teman yang masih proses.

Pertama menuruni tangga, saya hanya membagi senyum pada wanita yang masih cukup muda itu. Kulitnya putih, wajahnya juga cantik. Memakai abaya dan di tangannya ia menggenggam beberapa kertas dan entah amplop apa. Ia duduk di salah satu tangga sebelum pintu masuk. Saya mengira ia sedang menunggu majikannya.

Dua kali melewatinya hanya senyum yang terlempar. Wajahnya mulai terlihat gusar dan seperti menahan sesuatu yang membuat hatinya bergejolak. Saya masih cuek .. masih berpikiran si teteh ini majikannya ngaret bikin persyaratan.

Tapi ... sekembalinya dari ruangan pembuatan kartu, dengan wajah sumringah saya melewatinya lagi, matanya terlihat berisyarat, tapi kembali saya hanya membagi senyum. Satu langkah terlewati ... tiba-tiba ia memanggil dengan suara yang membuat saya tertegun.

"Teteh ...," panggilnya, serak seperti orang mau menangis. Spontan aku membalikan badan dan melihat ke arahnya.

"Eh, iyaa. Ada apa?" tanyaku. Ia terlihat memelas. Auranya terlihat jelas sekarang, ia lagi bingung.

"Teteh punya majikan orang Indonesia? Aku pengen kerja tapi gak punya paspor."
Ternyata ini masalahnya.

"Majikan saya Kuwaity, Teh. Emang paspor teteh kemana?"

Dia enggak jawab. Tapi saya tau kenapa enggak jawab, malah bilang hal lain.

"Maunya sih pulang ... tapi susah bangett. Pusing."

"Kenapa gak buat paspor baru aja?"

"Harus punya uang banyak, Teh."

Padahal bukan uang yang utama dalam pembuatan paspor tapi juga izin dari majikan pertama yang dulu membuatkan visa untuk datang dan bekerja. Yaa hal ini penting, apalagi statusnya house maid. Apa-apa harus ada persetujuan dari kafil/majikan awal. Saya sudah bisa nebak.

"Tolong Teh, kalau bisa bantu."

Nah, di sini mulai bingung. Hilanglah keceriaan tadi. Entah kenapa saya juga perasaan banget. Ini mau lebaran. Terkatung-katung di negara orang tanpa dokumen bukanlah hal yang mengasyikan tentunya.

"Yaudah nanti dikabari yaa Teh kalau saya bisa," bahaya gak bahaya, kasian juga melihat keadaannya. Akhirnya cuma jawab begitu. Semua orang pun tau resiko memperkerjakan orang-orang kaburan tanpa dokumen. Well, saya lari setelah kehabisan kata. Mirip menghadapi orang yang sekarat, mau bilang stop jangan diambil nyawanya, sama Allah? Gak mungkin kan?

Nah si Teteh ini kalau gadgetnya sih sampai ada dua. Tapi tetap untuk masalah dokument dia gak bisa mengatasi. Artinya ... dear ladies yang pergi dari rumah dengan niat bekerja di perumahan, jangan sampai gak kuat iman oleh godaan kehidupan di luar. Saya gak nge'judge dia bagaimana liku-liku hidupnya. Tapi ini negara orang-- bukan Jakarta, Depok, Bekasi, dan sekitarnya.

Saya juga gak bilang sabar itu mudah. Sebelum sampai ke majikan ini, delapan bulan lamanya bagai tahanan yang mau lihat matahari saja susah. Majikan keluar, saya dikunci di dalam rumah. Tentu dia gak berpikir bagaimana jika flatnya kebakaran atau misal keadaan darurat. Bahkan saking sebalnya saya kadang meminta gini sama Allah, "Yaa Allah gak kebakaran aja nih rumah, biar bisa keluar dan lari dari sini."

Makanan kurang bahkan gak diperhatikan sama sekali. Kebutuhan harus tanggung sendiri. Uang gaji harus dia yang simpan. Telpon di jatah, bahkan handphone di tangan pembantu sepertinya sesuatu yang haram. Enggak dia aja yang begitu ... dari buyut ke samping kanan, kiri, depan, belakang keluarga besarnya sama semua. Tersiksa? BANGET! Paling miris kalau goreng telor satu saja harus nunggu dia berangkat kerja, lalu setelah makan parno nyari pengharum ruangan. Itu belum selesai di situ, karena nanti dia tau kalau telornya berkurang ... wkwkwk. Maka dia akan ngomel sepulang kerja tentang adab dan segala macam dalil haram karena pembantunya makan telor satu.

Delapan bulan, hanya mampu menulis puluhan surat untuk curhat kepada teman sesama pembantu di keluarga besarnya. Karena kami dibatasi jika saling bertemu, bahkan jika setelah keluar, ia akan memeriksa ada apa dibadanku, di saku baju, atau di dalam kaos kaki. Kalau sekarang mirip ketika memasuki UK border. Tentunya para security takut kita membawa barang haram, atau yang membahayakan, bukan selembar surat dari sesama teman yang saling curhat, tapi dirampas dan disobek begitu saja oleh si Majikan dedemit itu.

Jadi, sabar itu emang gak mudah. Bahkan sampe nangis pun gak bisa lagi. Bohong terus menerus sama kelurga bilang alhmadulillah semua baik-baik saja. Padahal hati begitu sakit. Namun karena saya pergi baik-baik dari rumah ... pulang pun ingin baik-baik saja. Ingin kembali ke pelukan mereka tanpa cela. Tanpa harus membawa cerita buruk dan membagikannya pada mereka.
Delapan bulan itu terlalu singkat untuk sebuah ujian. Di sana ... banyak tkw lainnya yang sampai bertahun-tahun bertahan dengan segala kekerasan majikannya. Banyak yang tidak digaji, banyak yang sengaja gak dibolehin pulang, dan lain-lain.

Nah, maka bagi yang baru sebulan aja dicerewetin majikan sudah kabur dan kerja serabutan di luar asal bebas dan banyak duit .... ketika mau pulang susah, apa wajib dibantu? Yup ... orang-orang di KBRI itu tugasnya menolong dan melindungi, tapi kalau saya kerja di sana dan pasti paham sangat dengan masalah TKW/TKI kaburan pasti engganlah pusing-pusing ngurus warga yang yakin banget yang dia pilih dan lakukan itu benar.

Emang sih lari ke agency atau balik ke agency itu horror. Tapi setidaknya dokument gak hilang. Perlindungan kita masih bisa diperjuangkan.
Sekarang, saya yakin banyak di sini yang kehidupan mungkin hedonis. Gonta-ganti gadget. Bebas keluyuran. Tapi gak punya dokumen yang bisa membuat perasaan nyaman. Karena untuk membuat paspor itu gak segampang seperti saat berpikiran' KABUR ITU LEBIH BAIK' dari pada ini dan itu.

Ini negara orang, kita seperti bertamu. Tamu yang baik tentu tak akan meninggalkan jejak hitam pada si tuan rumah. Bagi saya, jadi pembantu di perumahan itu sedikit lebih aman dibanding hidup di luar, kerja bebas. Emang gak ada libur di sini, tapi saya bisa libur ke tanah air tanpa bingung enggak yang ngurus.
75% yang kabur dari majikan untuk alasan spele, saya yakin dia menyesal. Karena ketika handpone yang kau genggam sudah setara dengan handphonenya tuan rumah, tetap tidak akan memudahkan kepulangan ke tanah air jika gak punya dokument lengkap.

Kan maluu ... handphone-nya iPhone tapi gak bisa pulang, atau handphone-nya Samsung terbaru, gaya berpakaian up to date, tapi pulangnya dideportasi karena tak punya dokumen.
Jari saya kok pegal yaaa ... kayaknya udah panjang banget. Hehhe ....


@Zahraa Senja