Monday, 31 March 2014
JADILAH KATE MIDD KW 2
Ketika mereka menikah, sontak seluruh negeri memberitakannya dan saat itu kebetulan aku lagi di London. Amazing! hampir seantero London di penuhi photo kedua insan itu. Di toko souvenir full dengan berbagai macam barang-barang berphoto keduanya.
Bahkan menurut penuturan beberapa orang ada warga dari negara lain yang sama sekali tidak di undang namun datang ke London hanya untuk ikut menyaksikan arak-arakan pesta pengantinnya.
Aku sih sebenarnya gak tertarik sama pesta ataupin nasibnya baiknya Kate. Yang bikin aku tertarik malah berita tentang putus nyambungnya kedua insan ini saat masih pacaran.
Ternyata Kate pernah di putuskan melalui seluler saja oleh sang Pangeran. Hanya karena waktu itu dia masih labil dengan keputusan sang Ayah. Yang menarik... Apakah saat di putuskan Kate langsung naek ke Tower Big Ben dan mengancam akan bunuh diri? Enggak bebz... menangis boleh saja iya, tapi dia tegar. Malahan di kemudian hari Kate tanpa segan-segan mengupload photonya bersama kawan-kawannya. Lebih sering ke Night Club dan terlihat lebih ceria. (Bagian *sering ke Night Club'--- jangan di tiru -_- )
Hellowwww... apa yang terjadi? Prince William menyesal akhirnya. Dan meminta Kate untuk menemuinya lagi. Dan lihat, mereka sekarang sudah menikah dan punya anak. Coba kalo dulu Kate bunuh diri pas di putusin... mungkin cerita bahagia itu tak akan ada.
Back to my point! Eh jadi apa maksudnya ngomongin Kate? Maksudnya gak banyak kok .
Dear Ladies, baca ini,
Ketika seorang lelaki memilih pergi dari kehidupan kita, biarkanlah dia pergi. Ikhlaskan walaupun sakit, dan ingatlah betapa berharganya hidupmu walaupun tanpa dia. Tak peduli seberapa lama kamu dengannya, seberapa besar pengorbananmu, dan seberapa besar cintamu... relakan.
Kamu sangat berharga, dan tak ada yang perlu kamu takutkan ketika cintamu pergi. Bisa saja itu adalah jalan terbaik yang Tuhan sengaja berikan untukmu. Ditinggalkan semasa pacaran adalah Golden Way menuju orang yang lebih setia, yang se-level denganmu ( Ala Mario Teguh, ngomongnya).
Siapa tahu laki-laki yang menyakitimu itu akan menyesal, terus meminta kembali, yaa kalau masih cinta (terima) kalau terlalu sakit (abaikan), dan kalau menurut aku... kalau laki-laki itu seperti Prince William... pikir 100 kali buat tak balikan lagi, tetapi kalau laki-laki itu cuma prince Ngibul... gak usah dipikir lagi deh!
Langsung saja teriakan lagunya Christina Perry...''Who do you think you are?''
Saturday, 29 March 2014
SEBENARNYA SAYA 'PENDENDAM'
Beberapa hari yang lalu membaca sebuah artikel yang bahasanya sombong dan angkuh sekali. Di kait-kaitkan dengan keadaan Saudara seperjuangan saya Satinah yang entah sedang apa saat ini. Yang kesalahannya pun belum tentu seperti yang ramai dibicarakan.
Geram adalah saat membaca kalimat ''Namanya juga TKW, ya pastilah bodoh, gak punya kemampuan memaksa pergi ke Negara orang, akhirnya membuat masalah dan memalukan bangsa.''
...
Apakah anda-anda tahu? mudah sekali menghakimi orang lain itu, enak sekali menghina kekurangan orang lain itu, senang sekali tertawa di atas penderitaan orang lain itu... tapi anda tidak akan tahu kapan waktunya anda akan dihakimi dan dihina serta ditertawakan orang lain.
Para ustadz pasti geram saat title ustadz mereka dipermalukan seorang dari kalangan mereka, pun begitu para Guru, akan merasa tercoreng saat gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dicoreng oleh satu dua orang yang berlaku tak patut dicontoh. TNI-Polri dan sebagainya juga kesal saat beberapa dari mereka berbuat di luar tindakan yang tak seharusnya terjadi. Para seniman/sastrawan/sastrawati pasti tak lupa kepada satu dua sosok dari kalangan mereka yang tidak hanya terkenal dengan karyanya namun juga terkenal dengan kasus memalukannya. Para Dokter/Bidan/Suster juga tak akan lupa kepada teman sejawat mereka yang terpaksa menjadi bulan-bulanan polisi dan menuai berbagai macam ejekan.
Terus... masih bisa teriak kasus TKW di hukum pancung di Arab memalukan bangsa? Saya pikir... Para pembantu Negara di Tanah air saat ini pun sudah sangat-sangat-sangat memalukan bangsa!
Jika para TKW memalukan, bisa jadi sesuai pendapat Anda; karena mereka bodoh, tidak berpendidikan dan tak punya keterampilan. Tetapi jika orang-orang berpendidikan itu berbuat sesuatu yang memalukan apakah kami harus bilang '' Kami mengerti Pak/Bu... Anda juga manusia biasa tak peduli setinggi apa pendidikannya suatu saat Anda bisa melakukan kesalahan dan memalukan juga, jadi saya MAKLUMI!''
Wednesday, 26 March 2014
Kerudung BUNDA
KERUDUNG BUNDA
Ibu masih terduduk, terlihat sekali pancaran kekhawatiran tersirat dari wajahnya. Pandangannya tertuju ke arah pintu yang tertutup. Beliau sedang menunggu kakakku, Risma. Sepertinya Kak Risma memang tak sayang sama Ibu. Sehingga tak pernah dia menggubris semua nasihat dan omongan Ibu.
''Bu, sudah malam. Ibu istirahat ya. biar Ayu yang nunggu Kak Risma pulang...'' Aku menawarkan diri.
Ibu menghela napas panjang. Terdengar berat, pertanda beban batin yang selalu saja ditorehkan kakakku hampir setiap hari. Pergi pagi pulang malam, dengan busana minim yang sama sekali tak layak dipakai.
''Ya sudah, nanti kalau dia pulang tanyakan sudah makan apa belum. Makanan sudah ibu siapkan. Ibu tidur dulu'' Kemudian ibu pun bangkit dari duduknya. Perlahan gontai menuju kamar. Aku hanya termangu, menatap jalannya Ibu yang mulai lambat. Ya Allah, Ibu sudah tua, tapi kenapa kakakku tak sadar akan hal itu? Masih saja dia keras kepala dan tak pernah menghiraukannya.
Aku duduk termangu, perlahan aku buka buku yang tadi siang aku pinjam dari Mas Dimas. Buku tentang kisah seorang gadis yang menjual dirinya demi untuk bertahan hidup. Hmm... gadis bodoh saja yang ada di cerita ini. Tak apalah kubaca saja, sambil buang suntuk menunggu Kak Risma pulang.
Lama-lama ceritanya menarik juga. Sampai hampir satu jam berlalu, ketika tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu. Ternyata Kak Risma, dengan agak menggigil dia masuk tanpa menoleh sekelilingnya, bahkan keberadaanku pun seolah tak dia tahu. Aku yang memang sudah agak kesal, spontan menyapanya.
''Baru pulang kak?''
''Seperti yang kamu lihat...'' ujarnya datar tanpa menoleh, kemudian melangkah menuju kamarnya. Parah... Apa tak ada kata lain untuk menjawab sapaanku?
''Kakak sudah makan? Ibu buatkan makanan kesukaan Kak Ris... coba cicipi Kak''
Aku menunjuk ke arah meja, memang di sana ada dua piring makanan yang sudah Ibu siapkan sejak tadi.
''Aku cape! Makan saja sana kalau kamu mau. Aku mau istirahat... cerewettt!!'' ketusnya sambil langsung menutup pintu kamar.
Serasa ada pukulan hebat tepat ke jantungku. Yang membuat napas turun naik dengan kencang. Sampai kapan aku kuat seperti ini? Menghadapi sikap Kakak semata wayangku yang sama sekali sudah hilang pikiran sehatnya.
Mataku tertuju ke atas meja di mana makanan yang ibu siapkan masih tertutup rapih. Hatiku terasa bagai diiris-iris, teringat bagaimana semangatnya wajah Ibu saat tadi memasak masakan kesukaan anak sulungnya itu. Kesedihan menyeruak cepat, membangunkan emosiku yang selalu tertindas sikap kerasnya Kak Risma kepada kami.
Tanpa pikir panjang lagi, aku mengambil sepiring makanan itu dan menuju ke arah kamarnya. Ku ketuk pintunya dengan keras, walaupun sudah di pastikan si empunya belum tertidur. Sayup-sayup kudengar dia tengah berbicara dengan seseorang. Dia sedang teleponan rupanya.
Kuketuk lagi pintu kamarnya dengan lebih keras. Hingga akhirnya dia membukakan pintunya untukku.
''Mau apa sih?'' tanyanya garang, sambil melemparkan teleponnya ke kasur. ''Gak puas kamu ganggu aku terus?''
''Cuma mau bilang, tolong makan sedikit saja Kak! Ini buatan Ibu, tolong hargai Kak!'' Aku menyodorkan sepiring makanan itu dengan sekuat tenaga menahan amarah yang mulai meledak-ledak. Mata Kak Risma menatapku tajam. Dengan satu gerakan cepat dia mengambil piring yang aku sodorkan. Kemudian merogoh saku celana pendeknya yang hampir memamerkan seluruh bagian pahanya, mengeluarkan uang Lima Ribu Rupiah dan melemparkannya ke mukaku.
''Nih... harga buat ke sok'an kamu jadi anak baik...!'' seraya membuka penutup piring lalu dengan tak kusangka sama sekali, dibuangnya makanan itu ke tong sampah di pinggir pintu kamar. Setelah semuanya masuk ke tempat sampah, dia meletakan kembali piring itu ke tanganku.
''Selamat berbohong lagi anak manis!'' ujarnya dengan senyum sinis '' Aku tau kamu tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, berbohong saja demi Ibu. Kasihan kerudung sok sucimu itu!'' Kak Risma mendorongku kemudian menutup pintu kamarnya dengan keras. Crekk!! Terdengar dia mengunci pintunya.
Napasku naik-turun dengan kencang, mata tertuju pada piring kosong dan selambar uang yang jatuh tepat ke ujung kakiku. Tanpa sadar air mata menetes deras, terasa sakit sekali mendapat perlakuannya yang terus-terusan seperti itu.
Apa mungkin aku bukan adik kandungnya? Apa mungkin aku bukan anak dari Ibunya yang begitu sayang sama dia? Mengapa dia begitu benci kepadaku...
Aku menyusut air mata yang masih deras di pipi. Lalu aku menuju ke arah kamar Ibu. Kubuka perlahan pintunya, ahh... lega rasanya. Ibu terlihat nyenyak tidur, aku yakin Beliau tidak mendengar keributan kecil yang baru saja terjadi.
Pagi itu aku sengaja bangun lebih awal. Alasanku biar ibu tak sampai melihat seonggok nasi goreng buatannya untuk Kak Risma di tempat sampah. Dengan alasan mengantarkan baju bersih yang sudah disetrika, aku memaksa untuk masuk ke kamar Kak Risma.
"Kak... tolong buka pintunya. Aku bawakan baju bersih kakak" ujarku dari depan pintu yang masih tertutup. Harap-harap cemas karena masih terlalu pagi, pasti dia belum terbangun.
"Kak!" seruku lagi.
Pintu terbuka. Dan wajah kusutnya pun tampak. Masih setengah mengantuk.
"Ngapain?" tanya Kak Risma datar.
"Cuma mau naro baju Kakak... maaf agak pagi soalnya jam 7 harus udah ke Kampus." Aku beralasan.
Dia tak menjawab, kembali ke kasurnya dan lanjut tidur. Hmm... baguslah! yang penting aku bisa ngambil sampah dari kamarnya.
Masih terasa sakitnya saat melihat nasi tak berdosa bersemayam bersama macam-macam sampah lainnya. Aku hanya mampu menahan sakit. Secepatnya keluar dari kamar dan langsung menuju tempat sampah di depan rumah.
"Ayu...!"
Terdengar suara Ibu memanggil. Aku segera masuk menemuinya.
"Iya Bu..." jawabku, sambil berjalan ke arahnya.
"Kakakmu belum bangun?"
"Belum, tadi sih bangun cuma bukain pintu saja. Ayu naro baju."
"Gimana semalam? Dimakan nasi buatan Ibu?" Ibu bertanya tanpa menolehku... ya Allah, izinkan aku berdusta sekali lagi!
"Iya Bu... dimakan sampai habis oleh Kak Risma. Enak katanya." aku mengelus-elus pundak ibu. Sementara sesungging senyuman menghiasi bibirnya.
Ya Allah... sampai kapan Kau biarkan anak-anaknya ini membohonginya? kini aku membenci diriku sendiri. Aku banyak mengucapkan kebohongan karena sikap kakakku yang kelewat batas. Sementara untuk meminta Kakakku sadar, aku pun tak mampu.
"Ayu berangkat dulu ya Bu..." pamitku sambil mencium tangannya.
"Hati-hati di jalan ya... usah ngebut-ngebut, masih pagi toh."
Aku mengangguk pelan. Sambil mengenakan helm aku melirik ke arah kamarnya Kak Risma. Hmm... masih sepi belum ada tanda-tanda dia bangun lagi.
Semoga saja dia nanti tidak mengatakan macam-macam depan Ibu. Dengan agak berat aku pun berangkat ke Kampus.
***
Sekitar jam 11 a.m aku keluar dari Kampus. Mataku berbinar saat melihat sosok pemuda hitam manis duduk di bangku taman depan Kampus. Ah... Mas Dimas. Dia seniorku, yang sangat menyukai tulis-menulis, darinya pula aku selalu dapat pinjaman buku, novel dan sebagainya.
Aku cepat-cepat menghampirinya.
"Eh... Mas Dimas. Nungguin siapa nih, tumben?" kukerlingkan mataku ke arahnya sambil tanpa ragu-ragu duduk di sampingnya.
"Menunggu Nona Rahayu... " jawabnya dalam tawa. Terlihat barisan giginya yang putih rapih, menambah menawan wajah ovalnya yang selalu terlihat ceria.
"Yang benar saja menungguku, apa ada maunya?" selorohku.
"Ya gitu juga sih... Mas mau ngambil buku Sastra yang kamu pinjam. Sudah kelar kamu baca?" jawabnya polos.
Sementara aku langsung malu. Lupa kalau sudah lama meminjam buku Sastranya Mas Dimas dan belum sempat aku kembalikan.
"Astagfirullah... Ayu lupa. Upss, maaf ya Mas. Mana ada di rumah lagi... duh!"
Aku salah tingkah jadinya.
"Ya nggak apa-apa. Nanti sore Mas ke rumahmu ya... "
"Beneran Mas gak apa-apa? Kalau penting Ayu bisa pulang kok sekarang. Ayu ambil bukunya." Aku mencoba membela diri.
"Udah... beneran nggak apa-apa. Nanti sore, biar Mas yang ke sana." Mas Dimas meyakinkan sambil membereskan buku-bukunya.
"Sekarang Mas pulang duluan ya, ada teman minta di antar buat interview." Mas Dimas pun beranjak dari duduknya.
"Ayu juga mau pulang kok Mas" ujarku.
"Ohh... mau pulang bareng? Tapi Mas gak bisa antar sampai rumah paling sampai terminal depan." tawarnya.
"Aku bawa motor kok Mas... makasih ya Mas. Nanti sore aku tunggu ya, atau kalau Mas sibuk... sms aku aja. Biar aku yang antar."
"Okay, ya sudah Mas duluan ya!" seraya berjalan menuju parkiran, meninggalkanku yang masih duduk tercengan di bangku taman.
Mas Dimas berlalu. Aku pun ingin segera pulang. Takut ada debat-debat antara Ibu dan Kak Risma lagi.
***
"Assalamu Alaikum... " ucapku, saat memasuki ruang tamu. Tak ada yang menjawab salamku, tapi aku kaget mendapati Kak Risma sedang duduk tenang di ruang tamu. Di tanganya terdapat Novel yang semalam kubaca. Ya Allah... aku lupa membawanya ke kamar semalam. Dan rupanya Kak Risma lagi membacanya.
"Tumben Kak gak keluar?" tanyaku memecahkan suasana hening.
"Libur." jawabnya dingin.
Hm... aku pun tak ada niat ngomong lebih lama. Hanya saja itu Novel milik Mas Dimas. Aku tau kebiasaan Kak Risma kalau sudah mengambil barang-barangku yang di sukainya pasti tanpa basa-basi.
"Bagus ya ceritanya? Itu novel best seller. Punya Mas Dimas." tuturku yang kemudian di balas dengan kernyitan alisnya yang tebal.
"Tak ada yang menarik tuh!" ujarnya sambil melemparkan novel itu ke meja.
Aku tak mau debat lagi. Sudah pasti ujungnya panas. Secepatnya aku mengambil novel itu dan langsung menuju kamarku.
Kesal campur marah, ingin rasanya aku ngomong sesuatu yang pedas ke dia. Berani-beraninya melemparkan barang milik orang lain seenaknya. Apalagi... barang-barang milik Mas Dimas. Aku ingin marah!
Aku tak pernah menyangka jika kehidupan ini akan berubah hanya karena seorang pria yang menjadi dambaan hati, memilih kakak yang sering menyakitiku. Entah bagaimana semua bisa terjadi.
''Yu,...Ayu!'' Ibu terdengar namaku dari ruang tamu.
''Ya Bu,... ada apa ya?''
Aku menjawab dan keluar dari kamar sambil merapikan kerudung, menuju ruang tamu.
''Ini Yu,... ada Dimas datang.''
Kudapati lelaki berperawakan tegap dengan kulit sawo matang itu tengah duduk di ruang tamu. Matanya sedang tertuju pada setumpukan majalah wanita dengan cover wanita sexy milik Kak Risma. Ooh tidak! tak sengaja mata laki-laki yang diam-diam aku puja itu sudah ternodai pandanganya.
''Eh, Mas Dim..., kok ndak sms atau kabari Mas hendak ke mari?'' sapaku langsung, sambil pura-pura merapikan meja. Padahal tujuan utamaku adalah menyingkirkan majalah-majalah wanita sexy itu.
''Punyamu?'' Tanya Mas Dimas. Bukannya menjawab tetapi malah menanyakan benda yang seharusnya tidak ada di meja saat ini. Arggghh... entahlah! Tiba-tiba rasa cemburu menguasaiku saat melihat padangan lelaki itu lekat ke cover majalah.
''Ohh, bukan kok. Ini punya Kak Risma. Dia memang sukanya majalah beginian, katanya banyak tips kecantikan di dalamnya'' jelasku, sambil meletakan semua majalah itu di rak dekat tivi.
''Ohh,...'' ujarnya pendek.
''Mas sudah lama di mari?''
''Ndak kok. Baru saja, tapi sudah dibuatin minuman sama Ibu.'' Seraya menempelkan mulutnya ke bibir cangkir yang berisi teh hangat.
''Enakkk!'' Cetusnya, setelah hampir menghabiskan sepertiga cangkir teh.
Aku cuma menatapnya dengan indah, seandainya saja dia tahu bahwa perempuan yang di depannya sedang memperhatikannya. Mas Dimas memang cool, sikapnya yang lembut juga membuatku semakin mengharapkannya dari hari ke hari.
Akhirnya diapun membuka obrolan. Seputar beberapa kegiatan Kampusnya yang menurutnya sangat menyebalkan. Lucu juga melihat mimik wajahnya saat menceritakan beberapa kekesalannya terhadap Dosen di Kampus.
Sesekali gelak tawa diantara kami menambah hangat suasana. Sampai-sampai beberapa kali cangkir teh meminta diisi kembali. Suasana nyaman ini harusnya tidak berakhir, apalagi jika harus berakhir dengan kekesalan dan cemburu dalam diriku.
Tiba-tiba saja pintu terbuka, dan sesosok perempuan cantik dengan busana minim itupun masuk. Tanpa salam atau apa, seraya melenggang melewati kami yang tengah bincang-bincang. Paha mulusnya sesekali terlihat putih mulus, saat rok baju terusan pendeknya tersingkap seiring langkah kakinya.
''Hi, Dimas ya?'' Celetuknya tiba-tiba, sambil matanya tertuju ke Mas Dimas yang juga tengah memandangnya. Kak Risma sepertinya tidak melihatku ada di situ. sementara aku sudah mulai gerah, entah mengapa tiba-tiba merasa tak senang dengan kehadiran kakakku.
''Eh, Iya nih. Baru pulang kerja ya Ris?'' Mas Dimas tersenyum ke arahnya.
''Iya. Baru pulang kerja, biasalah... kalau gak gini siapa yang bayar kulianya dia.'' Ujarnya tanpa aling-aling sambil melirik ke arahku.
Deg! Jantungku berdegup kencang. Sejak kapan dia mulai membantuku dalam meringankan biaya pendidikan kuliahku?
Tapi, seperti biasa aku hanya mampu diam, apalagi di depan Mas Dimas. Aku sama sekali tak ingin membuat keributan. Aku telan mentah-mentah ucapan dan lirikan kakakku.
''Kakak yang baik! jempol deh buat kamu... '' Mas Dimas mengacungkan jempolnya sambil tertawa ke arah Kak Risma, disambut dengan tawanya Kak Risma yang sepertinya baru kali ini aku dengar. Karena jangankan tertawa, tersenyumpun jarang dia padaku.
''Bisa aja sih kamu. Gak berubah yaa sejak SMA... haahaa... aku ganti baju dulu ya, stay tune!! balik lagi kok...'' Ujarnya sambil mengerlingkan matanya. Aku tiba-tiba merasa jadi patung diantara mereka. Bisu dan tak bergerak sedikitpun.
Kak Risma meninggalkan ruang tamu. Aku masih termenung tak jelas. berbagai macam perasaan berkecamuk. Entah apa namanya. Kebersamaan yang hangat beberapa jam yang lalu tiba-tiba saja lenyap.
''Hei, kok malah bengong?'' Mas Dimas melemparkan pulpennya kepangkuanku. Membuatku terkejut dan tersadar dari lamunanku.
''Risma belum mau berhijab ya? padahal dia cantik.'' Ujarnya tampa expresi.
Aku terbelalak mendengarnya,...
''Cantik...?'' Desisku, sambil menatap ke arah lelaki itu. Tapi tak kuasa lama. Cepat-cepat kutundukkan pandanganku. Kupingku terasa panas saat mendengarnya memuji kakakku.
''Iya. Kakakmu memang cantik, sepertimu lah...!'' Imbuhnya, tapi tak sedikitpun mengurangi sakitnya luka yang baru saja tergores.
Memang benar kakakku cantik, bahkan dia sangat cantik. Matanya yang hitam dan bundar dengan wajah oval dan kulit putih. Perawakannya yang langsing dengan rambut kecoklatan panjang menutup bahunya. Dia memiliki senyum yang manis dan manja, siapapun pasti suka. Tapi tidak bagiku! Di hadapanku, tingkah lakunya yang kasar serta dinginnya sikapnya yang dingin menelan lenyap semua keindahannya sebagai seorang kakak.
Tak lama kakakku ke luar dari kamarnya. Bajunya yang sexi telah berganti dengan T-shirt lengan panjang warna pink, dipadu celana putih yang menutupi sepertiga betisnya. Terlihat cantik dan lebih sopan.
''Ayu, Ibu mana?'' Tanyanya, sambil duduku di sofa tepat depan Mas Dim.
''Tadi sih di rumah bude.'' jawabku pendek.
Aku perhatikan sekilas dirinya. Mata Kak Risma tertuju ke Mas Dimas yang sedang membalas pesan di-handphonennya.
Dan dengan sekali candaan yang di buat Kak Risma, tak ku sangka mereka semakin asyik saja mengobrol dan tertawa. Secepat kilat aku tersisih. Apalagi aku tak selincah kakakku saat ngobrol dengan Mas Dimas.
Akhirnya aku memutuskan untuk pamit duluan dari hadapan mereka. Daripada menjadi pendengar setia yang di kasih kesempatana untuk tertawa pun tidak. Ya... selucu apapun cerita mereka, hatiku sakit.! Sakit sekali, meskipun mungkin ini hanya perasaanku dan mereka tidak salah.
Thursday, 20 March 2014
KARMA
''Apakah dia akan menceraikanku? Lalu mengambil anak-anakku?'' ulangnya. Matanya mulai berkaca-kaca, genggaman tangannya semakin erat kurasa. Aku semakin kalut, apa yang harus kujawab? Sama sekali aku bukan Tuhan yang mampu menjelaskan apa yang akan terjadi sebelum manusia itu mengalaminya.
''Sudahlah..., percayakan semua sama Allah. Berdo'a saja semoga semua baik-baik saja.'' Aku mencoba menenangkannya. Air matanya meleleh, membasahi wajahnya yang masih terlihat cantik meskipun sudah menginjak kepala empat. Lima anak yang telah Tuhan amanahkan kepada mereka berdua. Lima anak kini yang entah bagaimana nasibnya jika perceraian ini terjadi.
''Aku rindu suamiku Sri, aku ingin memeluknya!'' rintihnya dengan memilukan. Lengan kirinya masih membiru, dengan lebar luka memar yang hampir sebesar telapak tangan. Entah bagaimana pukulan itu bisa mendarat ke lengannya yang putih mulus.
Kembali aku menarik nafas panjang, terasa pun beban batin tengah dia alami, namun apalah daya. Apa yang bisa aku perbuat? Statusku di sini hanyalah seorang pengasuh anak perempuan satu-satunya mereka. Ke empat anak mereka, lelaki. Hanya seorang saja, anak terakhir terlahir perempuan.
Dan setiap kali si kecil terbuai di pelukanku, di sanalah tangisku merebak. Celoteh bibir mungilnya tak lagi membuatku riang. Usianya yang menginjak enam tahun sudah cukup bisa untuk mengerti situasi di sekitarnya.
''Kok mama tidurnya di kamar aku terus?'' Celotehnya, saat bangun tidur mendapati Ibunya tidur di matras yang digelar di lantai.
''AC di kamar Mama rusak sayang, jadi Mama sementara tidur di kamar Chika dulu... gak apa-apakan?'' Aku menjelaskan dengan sebisa mungkin.
''Terus Papa tidur di mana? Papa juga kasiankan kepanasan?'' Chika kembali bertanya sambil masih tiduran di kasurnya, memeluk Teddy Bear kesayangannya.
''Papa Chika tidurnya di ruang tamu.''
''Kenapa gak di kamar Chika aja? Papa sama Mama bisa kok tidur di kamar Chika, kamar Chika kan luas...'' katanya lagi dengan polos. Deg...! jantungku seperti di hantam palu. Andai saja alasanku tadi benar adanya, sudah tentu kamar Chika akan seperti yang Chika katakan. Bisa menampung Mama dan Papanya tidur.
''Sudahlah, jangan ribut Mamanya masih tidur. Yuk ke kamar mandi yuk! Chika harus ke Sekolah...'' ajakku mengalihkan pertanyaan polosnya.
Begitulah setiap hari, saat aku diharuskan menjawab pertanyaan Chika yang melihat perubahan suasana rumahnya. Ini dikarenakan dari waktu dia masih bayi sampai usia sekarang jarang sekali kena tangan Ibunya. Bermain, belajar, hingga tidur, Chika hanya mengenalnya dariku. Kini saat tiba-tiba Ibunya seharian hingga berminggu-minggu diam di kamarnya tentu saja menimbulkan tanya bagi Chika walaupun pertanyaan terbilang biasa, sebagaimana layaknya anak-anak. Berbeda dengan ke empat anaknya yang laki-laki. Mereka sama sekali tak mencium bau apapun di dalam rumah. Apalagi si sulung sudah kuliah, sudah jarang di rumah. Paling pulang ganti baju, kadang makan pun tidak kemudian menghilang lagi. Pun begitu yang masih SMA. Hanya dua orang yang masih aktif di rumah, yang masih SMP dan kakak Chika yang baru kelas 5 SD.
Selepas mengantarkan Chika ke Sekolah, nyaris tak ada yang bisa aku lakukan di rumah. Bahkan untuk makan dan mandi pun kadang terburu-buru. Keadaan Nyonya besarku benar-benar sudah seperti pasien dengan penyakit akut stadium akhir. Penjagaannya harus ketat dan tak bisa di spelekan.
Seharian dia telpon ke sana ke mari, jika kebiasaannya bertanya tanpa henti, mulai ku acuhkan. Kadang untuk menyuruhnya makan pun aku sudah lelah untuk terus berada di sampingnya. Karena makanan hanya diajak bicara, dengan mengutarakan berbagai macam analisis dan kemungkinan dari apa yang akan diperbuat suaminya.
''Sri, di mana Suamiku?'' tanyanya dengan suara lemah, di suatu pagi yang gerimis. Ini hampir seminggu mereka bertengkar dan tidak ada komunikasi.
''Bapak sedang membaca koran di ruang tamu." jawabku, sambil memasukan baju-baju Chika yang sudah disetrika.
''Tidak menanyakanku, Sri?''
''Tidak, Bu.''
''Aku ini masih istrinya, bagaimana bisa dia tak ingin tahu keadaanku?" ujarnya parau. '' Apa dia tak bisa memaafkanku? Apakah kesetiaanku selama 20 tahun akan terhapus hanya dengan satu kesalahan kecil saja?''
Aku hanya diam. Tanpa menolehnya yang terus-terusan merajuk. Tak tahu harus menjawab apa.
''Jawab Sri, hanya kamu yang bisa membantuku. Tolong Aku Sri, aku tak ingin kehilangan suamiku!''
Aku menoleh ke arahnya, tampak wajah pucatnya sangat memilukan.
''Sebaiknya Ibu makan dulu, saya siapkan makanan ya?'' aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
''Aku tak butuh makan! Tolong jawab pertanyaanku saja Sri!'' sergahnya, sambil menatapku tajam namun tetap tersirat kesedihan yang dalam.
''Bu,... Saya bukan Tuhan Bu, mohon maaf. Saya gak bisa mengira-ngira apapun yang akan terjadi esok hari. Masalah Ibu sama Bapak terlalu rumit buat saya, dan pertanyaan Ibu di luar kapasitas saya.'' aku menjelaskan. Sebenarnya kurang jelas apa, usiaku baru saja 24 tahun dan belum menikah. Apa yang aku tahu seputar dunia Rumah Tangga? Kelebihanku hanyalah menyukai anak-anak. Memberikan kasih sayang semurni-murninya meskipun itu bukanlah anakku. Tapi justru karena merasa aku pun dibayar mahal aku pun harus memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tapi bukan untuk menjudge kelanjutan Rumah Tangganya yang sedang carut marut.
Aku hanya tak mau ikut-ikutan stress. Pembelaannya dengan 20 tahun kesetiaan yang rusak hanya gara-gara satu sms mesra membuatku pusing. Pernyataannya tentang suaminya yang punya watak dingin hingga godaan akhirnya merasuk ke dalam diri sang Istri.
''Apa sebenarnya kekurangan Bapak selama jadi suami Ibu?'' tanyaku tanpa sungkan. '' Selama ini Bapak di mata saya seorang yang bijaksana, baik hati dan rajin ibadah. Pun begitu dengan materi. Apa yang tak bisa Bapak belikan buat Ibu? Mobil banyak, rumah besar. Semuanya tertera nama Ibu sebagai pemilik.''
Mendapati pertanyaan seperti itu, Nyonya besarku hanya terdiam, menunduk sambil memainkan ujung rambutnya.
''Aku tahu Sri, hampir semua kekaayaannya sudah jadi milikku. Tapi aku benar-benar menyesal dan tak ingin apa-apa kecuali Bapak bisa memaafkanku dan tidak menceraikanku!'' jawabnya datar.
''Terus kenapa Ibu sampai hati main-main dengan perasaannya?''
''Itu hanya sms Sri... tak lebih dan sudah kujelaskan!''
''Sekecil apapun, ini merusak kepercayaan Bapak, sekaligus menghancurkan kesetiaan Ibu selama ini."
''Jika begitu, kenapa aku tak boleh marah saat di handphone-nya ada chat dari wanita lain?" belanya sambil tetap memelintirkan ujung rambutnya.
''Ibu juga berhak marah kalau Ibu mau." tawarku dengan lembut.'' Asalkan Ibu punya bukti kuat kenapa Ibu harus memarahi Bapak.''
Nyonya besarku tercenung, raut wajahnya kusut sekali. Ingin rasanya aku menggeledahnya ke kamar mandi. Eurika Ramadhani... yang terkenal galak dan angkuh dengan make up tebal dan rambut goldennya. Kini hanyalah wajah pucat sepucat orang sakit yang tak mampu ke rumah sakit untuk berobat. Inikah karma? Karma saat seorang istri mengkhianati kepercayaan suaminya? Kepercayaan suami yang sudah memberikannya kehidupan yang layak bahkan serba mewah. Lalu sebegitu mengerikannya kekuatan setan yang berhasil membuatnya menjadi seorang pengkhianat? Kini dia terbujur lesu, lemah dan pasrah.
*****
Nurrie. March 2014.
Tuesday, 18 March 2014
SELODIST (With You)
''Berapa lama kau di sana? Bersama sekian rindu dan sejumlah janji yang kau bilang serta merta setia, senja ini menantimu. Cepatlah kembali!''
Aku masih merasakan hangat genggaman tangannya. Wajahnya yang tirus, matanya yang berbinar indah dan rambut hitamnya yang terurai.
''Berhenti menatapku seperti itu sayang, kamu pikir aku ini lucu ya?'' ujarnya manja. Kerlingan matanya tak sanggup ku tolak, untuk tidak mencubit pipinya yang lembut.
''Kau lebih dari lucu, sehingga kata lucu itu tak pantas untukmu!" jelasku. Aku masih menatapnya, enggan rasanya mengalihkan pandangan meskipun di sekelilingku, bunga-bunga bermekaran indah.
''Gombal!'' selorohnya, sambil melengos membuang pandangan matanya ke arah matahari yang sebentar lagi akan bersembunyi. Aku merasa alam pun tersipu, aku terlalu romatis, terlalu terbuai saat menatapnya.
''Kamu cantik!''
''Kamu cantik!''
''Kamu cantik!''
Bisikku. Matanya mulai sayu. ''Hm... kau bilang aku gombal, itu baru dua kata. Aku tau kau menyukainya.''
Bidadariku tersenyum manis, melambungkan anganku jauh ke atas langit ke tujuh. Dia masih tersenyum, kemudian mengerlingkan matanya,.. ya Tuhan! Aku kehilangan ingatanku selain tentang dia.
''Aku Cinta Kamu...'' bisikku di telinganya. Dia tak menjawab, namun tersipu. Aku tau dan tak butuh jawabmu. Sebelum sunrise esok hari ku nikmati sendiri, sebelum akhir pekan aku lewatkan penuh kegalauan, Bidadariku... berjanjilah! Semusim yang memisahkan kita, akan membuat Sakura bersemi sepanjang tahun.
N.Z, March'2014
Friday, 14 March 2014
Dear Jean Belelku,
ingin ku cari kamu
dan ku ajak ke keramaian kota...
disana ku gerai rambutku
bersama angin yang selalu bilang
''KAMU CANTIK''
Tapi perempuan berjubah itu
terlanjur membuatku iri
hatiku disayat penyesalan
ntahlah masih ingin bersamamu
atau menyesal pernah bersamamu
Hei jean belelku,
Kepadamu dan dirinya aku sampaikan
Aku sudah menutup lekuk tubuhku
Meskipun kemudian dia menutup diri
Aku tak menyesal pernah denganmu
Dear jean belelku
Ku tutup kenangan bersamamu
Meski aku merindukanmu
Aku malu dengan Tuhanku.
Monday, 10 March 2014
YOU ARE PRECIOUS
Sakit hati menjadi seorang wanita yang banyak kekurangannya itu memang gak bisa di anggap enteng. Siapapun kamu, pasti akan merasa bahwa dunia ini tak adil. Terlalu kejam. Dan kita terlalu naïf.
Aku adalah salah satunya. Seorang yang merasa bahwa kekuranganku terlalu banyak, hingga aku tak bisa bahagia. Padahal andai aku punya waktu sedikit saja untuk bersyukur, semua akan baik-baik saja. Bahkan akan lebih indah dari yang sebenarnya.
Aku mulai bosan dengan kepura-puraan. Aku merasa mereka menghargaiku adalah sebagai hianaan halus. Terkadang aku benci mereka, dan tak ingin melihatnya.
Sunday, 9 March 2014
Saturday, 8 March 2014
WUJUD TANPA MIMPI ( TRAVEL TO LONDON)
Sepertinya adalah hal yang special saat seseorang mengatakan '' aku pernah lho ke London " dan special banget bagi orang ndeso '' walaahhh,.. abi mah asa teu percaya da, eta aya jam gede pisan euy dina tembok bangunan. Kumaha nyieun na nya?''
Well, sebaiknya aku tulis saja. Apa yang aku lihat dan aku alami selama sekitar 4 tahun bolak-balik ke Negara Ratu Elizabeth ini sampai-sampai pas Dia ulang tahun kemaren aku juga datang menghadirinya. Cuma pas William menikah, ada rasa sakit yang membuatku menahan diri dari undangannya. Hehehe...
Kota London memang kota yang indah bangunan nya yang tua klasik tapi kalian akan berdecak kagum jika melihat apa-apa saja yang tersembunyi di dalam gedung tua yang kadang terlihat menyeramkan. Salah satunya gedung Theather Musical di dekat Convent Garden... bangunannya yang tua dan kokoh, seperti di film-film.Tapi coba saja masuk ke dalamnya, deretan kursi dengan karpet merah dan tata ruang bak palace atau istana akan memanjakanmu minimalnya 3 jam untuk menikmati broadshow musical yang menakjubkan.
I LOVE MUSICAL SHOW. Yeah, love it... silahkan bagi kalian yang mungkin akan menginjakan kaki di sana, jangan lupa untuk nonton musical show. MAMA MIA, LION KING, CHARLIE AND THE COCHOLATE FACTORY, MATILDA, SHREK, THE WHITE HORSE, dan banyak lagi musical show-musical show lainnya yang romantic, cocok di tonton dengan pasangan tersayang ( suami/istri). Yang menjadi favorite aku adalah The Wicked musical show. Selama pertunjukan aku sempat nangis, kesal, terharu, dan tertawa.
Tempat nongkrong yang paling asyik di malam hari adalah Picadilly. Disana seolah tak pernah tidur. Gedung-gedung tua dengan berbagai macam karya seni akan membuat mata terbelalak. Souveir shop menjamur di sepanjang jalan. Night club yang di depan pintu masuknya pasti bertengger dua body guard super kekar yang rapih bak teller Bank. Hehehe..The Casino di kala malam minggu antrian sepanjang 10 meter berjejer wanita-wanita cantik berrambut pirang dengan busana nyaris telanjang. ( close your eyes,.. even only the left one ).
Ada tempat yang aku suka disini, yaitu Trocaderro. Game Fun center yang menyediakan movie 6 D. Kalau pikiran lagi mumet ya disinilah tempatnya, walaupun sekedar minum kopi di Rainbow café sambil melihat anak-anak tenager dance. Ya di salah satu sudut ruangan ada tempat khusus buat mereka para teenagers menari-nari. Macem di Step up to the Street aja, pokoknya keren banget.
Kerennya apa? tempatnya lusuh penuh coretan, tapi gak ada satupun sampah walopun itu secuil tissue. Bersih... bersih..bersih.
DEAD SUNSET
Tuhan begitu baik dan tak sedetik pun melupakanku , menjaga ku dan mengantarkanku hingga detik ini untuk menuliskan sekilas cerita beberapa jam lalu .
Picadilly adalah tempat yang sangat ramai , selain restorant restorant mewah , souvenir shop , dan berbagai macam shop dengan merk dan brand terkenal pun sepertinya tak kehabisan pengunjung , London memang jantung dunia ,dimana semua orang di belahan bumi pasti menginginkan datang ke Negara Ratu Elizabeth ini . Di ingat-ingat mungkin ini ke 12 kalinya berkunjung ke London ini . Pekerjaan yang terkadang di pandang sebelah mata oleh mereka-mereka yg bernasib lebih baik sudah membuat ku mengenal dunia lebih dalam lagi .
Ini lebih dari sayatan pisau , untuk setiap luka dan duka yang pernah terjadi .Dan ini lebih dari sekedar surga dimana mimpi yg tak pernah hadir, nyata di dalam hidupku . Aku tahu Allah SWT adalah Maha adil yg seadil-adilnya .
Memang beberapa hari ini aku terkena depresi berat dengan masalah pekerjaan ku selama ini , entah setan mana pula yg buat aku so down akhirnya galau-galau'an update status di facebook tiap menit , mengelu-elukan keluhan dan cengengnya diri sendiri , sungguh memalukan...!
Sore tadi sekitar jam 7 malam tapi suasana terang benderang seperti jam 3 sore , karena memang summer time disini sunsetnya sekitar jam 10 malam.Pertama-tama membawa Lulu , princess keras kepala ,dan menjengkelkan setiap waktu ku untuk bermain di Trocaderro . Masih di hantui perang semalam , muka ku pun masih kusut dan masam , malas berkomentar atau sekedar mengiyakan omongan majikan perempuan pun malas sekali .
Aku masih ingat pertengkaran semalam , siapa yang salah entah lah! hanya saja aku sensitive banget sampai-sampai malas makan seharian . Manja atau gimana entah lah , yang jelas satu ..CENGENG !!!
Kesalnya hidup yang harus selalu mengikuti berbagai aturan , dan kerap kali pekerjaan di anggap enteng dan tak di hargai membuat hati kecilku ngoceh tak karuan . Mengumpat kesana kemari tapi tetep jadi pengecut dengan tunduk ikut di belakang boss ( shame oh shame ) .
Tapi ,tiba-tiba pandangan mataku tertuju pada seseorang yang mampu membuat gejolak hati terhenti seketika .
Tiba-tiba merasa diriku sangat terkutuk , tak tau di bersyukur , tak tau di untung , seolah tak mengenal Tuhan ...
Seorang beggar ( pengemis ) duduk di pinggiran toko dengan pakaian lusuh , sedang membuka-buka beberapa bungkusan makanan bekas ,dan sambil makan juga dengan mata berbinar , dan terpancar bahagia dengan makanan yg berada di depannya . Makanan yg di sisihkan oleh sebagian mereka yg terketuk hatinya melihat dia :( dan tak cukup itu , yang paling menyedihkan adalah di Karton yg bertuliskan '' I'm Hungry , Please help me . ---homeless--- '' di pasang di tasnya yg kumal yg entah apa isinya pula .

Kalau saja tak malu , aku ingin menangis saat itu juga :'( betapa mereka yang seperti ini sangat menghargai makanan yang mereka dapat . Sementara aku yg Alhamdulillah masih makan di dalam ruangan restorant dengan pelayanan yg memuaskan , makanan super delicious di hidangkan bersih bukan bekasan orang lain , masih sempet-sempet nya merengut dan mencaci maki nasibku .Mengapa harus begini , mengapa harus aku ...bla-bla-bla.... sampai akhirnya mentok pada sebuah pertanyaan.
Bagaimana jika dia adalah aku ? Apa mungkin aku bisa setegar dia , tetap bertahan hidup dengan menjadi beggar ??? MUNGKIN aku akan bunuh diri di hari ketiga tidak makan...
Betapa seringnya aku mengeluh , merasa diri paling susah , paling menderita , paling cape , paling rendah . Tapi ternyata semua itu tidak benar . Betapa banyak di luar sana yang menginginkan hidup lebih baik bahkan mungkin mendambakan bisa makan bersih ,layak saji pun susah . Tidur dimana saja dengan alas lantai dingin yg kotor emperan toko ataupun kantor-kantor , yang terpenting mereka bisa melepas lelah . Dan tak jarang kita yg berkecukupan tidur di bed yg layak bahkan mewah , ruangan yg luas dan terawat , tapi tidak kenal rasa bersyukur .
Ya Allah terima kasih untuk peringatan Mu , terima kasih untuk tetap melindungiku dan memberi rizki untuk ku hingga detik ini.
SIAPA AKU? LAYAK KAH BEGITU?
Palsu di sini, pasti kalian juga tahu yaitu bergaya bak orang kaya padahal hidup susah. Alasannya gak pernah jauh dari gengsi.
Padahal sejatinya, memalsukan gaya hidup dari yang sebenarnya di alami itu sangat menyiksa bro! apa-apa yang di lakukan rasanya gak nyaman, apalagi saat di hadapkan dengan seseorang yang ternyata jujur dan menganggap gaya kita itu adalah bener-bener gambaran kehidupan sehari-hari kita.
Contoh pas berteman dengan seorang Pria yang seorang dokter bedah, karena gengsi mau ngaku kerjaan yang sebenarnya, ya terpaksa cari ide lain biar tetap menjaga image. Sayangnya ide itu gak pake otak, cuma nafsu untuk berteman lebih lama dalam lingkaran social yang bagus saja, akhirnya ya rugi lahir bathin.
Untuk modal ketemuan, karena mengaku seorang Pramugari ya terpaksa sewa mobil, plus sewa supir... karena nyopir sendiri gak bisa, terus di tambah alasan '' aku anak mami, biasa kemana-mana supir yang nyetir'' hahaha...
Itupun belum cukup susahnya, penampilan hei,... masa pramugari fashion nya ketinggalan jaman, keluar pake T-shirt kucel sama jeans belel mana level bagi seorang Dokter? ya termasuk ngebolang sambil ngebatin ke mall, cari baju cantik dan sebagainya. Sampe di situ aja deritanya? kagak!! masih berlanjut, ini masalah branded? masa pramugari pake baju seharga barang-barang di online shop sih?.
Bayangin buat sekali ketemu, gara-gara memalsukan gaya hidup, ruginya udah seumur hidup. Tabungan jebol, hati dongkol, ketemuan canggung, belum lagi saat si doi tahu yang sebenarnya, di situlah kimat sugra akibat ulah sendiri pun tiba.
Siapa kah aku? Layak kah aku begitu? berkaca deh! cermin walopun kecil tetep cermin, masih bisa di pake buat melihat siapa kamu yang sebenarnya.
Thursday, 6 March 2014
THESE DAY WERE SO BLUE
Dear night yang hampir mau subuh,
Aku benci banget dengan nama itu, tapi akan selalu aku jadikan nama di setiap character dalam tulisanku. Kamu tau kenapa? kok bisa-bisanya benci tapi di ingat terus? Itulah caraku untuk membunuh benci, akan ku sebut ribuan kali sehari sampai ketika aku tak lagi merasakan kebencian itu. Namanya sebenarnya bagus, orangnya juga cantik. Tapi ntah kenapa aku merasa sebal sekali.
Iri atau sejenisnya, entahlah. Aku tak ingin menceritakannya di sini. Yang jelas dia sangat beruntung. Tapi kali ini aku boleh bersumpah, bahwa suatu hari nanti, setelah aku merasa semua biasa saja, akan aku buktikan aku pun mampu seperti itu.
Hm,.. boleh jadi suatu hari nanti aku lupa dengan dendamku. Aku harap kamu tidak lupa dengan hinaanmu terhadapku. Perlahan tapi langkahku pasti... akan aku buktikan siapa aku.
Hei gadis sombong, aku tidak bodoh! Bahkan aku bisa saja menyelinap masuk ke dalam mimpimu dan mencuri memory yang kau agung-agungkan!!
Menyebalkan sekali wajah cantikmu itu, sangat menyebalkan.
MAMA, AKU RINDU MARAHMU.
Ma, padahal baru seminggu Mama pergi, tapi rasanya aku sudah tak kuat lagi Ma..., Rara pengen ketemu Mama, Rara siap kok walaupun kali ini Mama akan menasehati Rara sampai pagi. Asal Rara bisa ketemu Mama...
Mama gak kasihan sama Rara? Lihat Rara sekarang Ma,... rasanya untuk bangun berangkat ke sekolah saja aku tak sanggup lagi. Aku merindukan kalimat-kalimat Mama yang aku benci dulu, tolong kembalikan semua itu Ma...
Jemput Rara Ma,... jemput!
Rara
Tiba-tiba airmataku menetes, bulir-bulir bening berjatuhan sampai membasahi surat yang baru saja aku tulis. Meskipun aku sendiri tidak tahu, harus di kirimkan kemana suratku ini? jika harus di titipkan, harus di titipkan sama siapa? agar sampai ke tangan Mama di surga sana. Ya... aku berharap Beliau di surga sekarang. Tanpa rasa sakit yang selama ini dia sembunyikan dari aku dan keluarga.
'' Ra,... sayangnya Papa kok belum tidur?'' suara lembut tiba-tiba membuyarkan lamunanku, rangkulan hangatpun terasa. Ah, Papa... aku membalikan wajahku. Bisa ku lihat wajah Papa, aku tahu Papa pura-pura tegar. Maafkan Rara Pa,... kali ini ketegaran Papa runtuh lagi. saat secarik kertas yang tadi ku tulis tadi berada di tangannya, dengan tatapan mata yang berat Papa menuntunku ke tempat tidur.
'' Rara harus yakin, Mama disana baik-baik saja dan pengen Rara disini baik-baik juga'' Papa menghela nafas berat, sambil meletakan secarik kertas itu di meja kecil di samping tempat tidurku. '' Berdo'a ya,... biar Allah yang menyampaikan salam kangen Rara buat Mama.'' ujar Papa, seraya mengecup keningku, kemudian keluar dari kamarku yang sunyi.
Ya, sunyi sekali. Sepi. Senyap.Seolah tak ada kehidupan lagi. Biasanya aku berbaring dengan kaki yang di naikan ke tembok, headset menutup telinga dengan lagu rock dari Ipodku yang volumenya nyaris full. Tentu saja aku melakukan ini agar omelan itu tidak singgah ke pendengaranku. Tak pernah menyangka jika si pemilik suara indah itu akan segera pergi meninggalkanku.
'' Ra,... kalau habis belajar itu barang-barangmu di bereskan lagi, bisakan Ra?'' ujarnya dengan suara tinggi, Mama tahu kalau aku mendengarkan lagu-lagu kesukaanku pasti dengan volume yang nyaris full. Aku cuma meliriknya santai, tapi bisa ku lihat tangan dengan jari-jarinya yang mungil tetapi cekatan itu sibuk membereskan buku-buku, dan alat-alat tulis lainnya yang hampir menutupi semua meja belajarku.
'' Ra,...bangun sayang, sebentar lagi bisa kesiangan kamu!!'' itu adalah teriakan wajib Mama di setiap pagi saat membangunkanku untuk peri sekolah. '' Ya Allah Ra,... ini baju kok keluar semua? Kan Mama udah berapa kali bilang, baju seragam dan atribut sekolah lainnya di lemari yang ini.!'' Dan kalimat ini seringnya aku dengarkan saat aku sudah melewati pintu pagar, tentunya tanpa aku jawab tapi aku tau pasti saat pulang nanti kamarku sudah rapi lagi.
Begitupun kebiasaanku yang lain seperti mandi lupa bawa handuk, makan sambil ngetik-ngetik hp atau maen game, lupa naruh barang-barang pentingku, dan banyak lagi yang selalu menuai omelan dan kemarahan Mama.
Suatu hari ada yang aneh di rumah, saat aku menemukan berkas-berkas surat chek up dalam amplop dari rumah sakit di meja ruang tamu. Siapa yang sakit ya? pikirku. Perasaan Mama dan Papa baik-baik saja, aku juga tidak sakit. Ketika tanganku hampir membuka amplop, tiba-tiba mama keluar dari dalam kamar '' eitsss... maen buka aja!'' seraya merebut amplop dari tanganku. Aku heran, gak biasanya Mama begitu, bahkan mukanya sedikit pucat tapi cepat-cepat bibir mungilnya tersenyum. '' Ini punya Tante Inn, gak boleh di buka sama siapa saja.'' jelasnya. Tapi entah kenapa ada yang menggelitik hatiku untuk bertanya. '' Emang Tante Inn sakit apa Ma,.. rahasia banget kayaknya?'' tanyaku sambil menuju dapur.
'' Ohh, Mama juga belum tahu sayang'' jawabnya singkat. Aku baru sadar ada yang lain dari penampilan Mama. Gak biasanya memakai T-shirt segede itu, di lehernya juga mengait syal panjang kesayangannya. '' wow,... itu T-Shirt siapa yang Mama pake?'' tanyaku sambil tertawa setengah mengejek. '' Terlalu seksi Ma,..'' sambungku sambil memperhatikan raut wajahnya yang walaupun anaknya hampir dewasa, beliau masih kelihatan cantik.
Mama tersenyum simpul, mendapat pertanyaanku tadi. '' Mama cuma lagi seneng aja sama T-Shirt gede begini. Sudah sana, cepetan Mandi... bau tau!'' tangannya mencubit pipiku, spontan aku meringis '' ihsss Mama, biasaa aja kali Ma. Gak usah pake cubitan, sakit tau!'' rengekku, disambut tawa riangnya. Rupanya itu cubitan terakhir Mama di pipiku.
Besoknya seperti biasa pagi-pagi omelan Mama saat membangunkanku masih terdengar. Aku pun masih sempat berteriak '' Maaaaa,... handuk pleaseeeee!!!'' dan Mama pun datang. Mama juga menemani aku sarapan, tapi seolah di lem pagi ini, aku duduk manis sampai sarapan selesai di tempat, dari yang biasanya sambil mondar-mandir dan sok sibuk di telpon. Saat itulah Mama dengan suara lembutnya menasehatiku kembali. Nasehat terakhir! yaa andai saja aku tahu ini nasehat terakhir. Aku pasti tak akan mampu beranjak dari tempat duduk ku.
'' Ra, kamu kan sudah besar.'' ujarnya lembut tangannya mengelus-ngelus kepalaku '' Kamu anak mama satu-satunya. Pesan Mama tolong di ingat ya, jaga kesehatan kamu dimana pun kamu berada. Inget,... Mama pengen lihat kamu tak hanya dewasa, tapi juga sehat, sampai nanti sampai ada Rara kecil di dalam hidup kamu. Inget pesan Mama ya Ra.'' Aku tidak heran sebenarnya mendengar nasihatnya pagi ini yang agak panjang lebar, tapi ketika dia memeluk ku dan tiba-tiba memekik lirih seperti kesakitan membuatku kaget. '' Mama kenapa? ada yang sakitkah Ma? kok Mama kayak kesakitan gitu?'' tanyaku, sambil memperhatikan raut mukanya yang aneh, wajahnya pucat. Pagi ini lagi-lagi aku melihat Mama dengan sebuah Daster ukuran XL.
'' Mama gak sakit kenapa-napa kok, sudah sana berangkat... ntar kesiangan lho'' jawabnya.
''yakin Maa..?'' tanyaku,
''yakin sayang, sudah... percaya deh.''
Aku masih menyimpan tanya, tapi jam sudah menunjukan pukul 7 lewat. Akupun bergegas pergi. Ada perasaan gak enak saat melewati pagar rumah, kata-kata Mama terngiang-ngiang di telinga. Padahal setiap pagi mendapat omelan, tapi kali ini seperti langsung masuk ke relung kalbu yang terdalam. Ah,... sebenarnya apa arti pekikan lirih mu tadi Ma...?
Andai saja aku tahu, bahwa lima jam kedepan adalah jam terakhirnya Mama di dunia ini. Mama ku yang jelita yang tak pernah mengeluhkan penyakit seriusnya tersebut. '' Ma,.. bangun Maa...! ini Rara, ayo Maa bangun!'' Aku menggoncangkan tubuh kaku Mama. Aku yang tergopoh-gopoh datang dari sekolah di jemput salah satu tetanggaku, ternyata hanya mampu menyentuh jasadnya saja. Aku tak sempat lagi melihat senyumnya, tak sempat lagi mendengarkan omelannya, bahkan sentuhan terakhirnya pun tidak...!!!
'' Pa,... Mama kenapa Paa...?" teriakku histeris, sambil menggoncang-goncangkan tubuh kaku Mama yang sudah di tutupi kain '' Maaaa...Mamaaaaaaaa...!!! Mamaaa bangunn Maaaa...!!" Aku menangis sekencang-kencangnya, hampir mengamuk di samping jasad Mama. Sementara Papa pun menangis tersedu-sedu. Beberapa orang kemudian menenangkanku yang tak henti menangis. Bahkan dari mulai proses memandikan, mengkafani, hingga Mama di shalatkan aku tak henti menangis sedetik pun. Aku masih tak percaya, rasanya ini hanya mimpi buruk. Aku berusah untuk bangun dan lari dari mimpi ini.
Namun, ini bukan mimpi. Kini aku masih menangis di depan pusara nya, di sampingku seorang lelaki yang nyaris aku lupakan keberadaannya pun, menangis tersedu. Tiba-tiba Papa memelukku, kemudian menangis sesenggukan menambah kesedihan yang semakin memuncak. Dengan terbata-bata Papa bicara padaku.
'' Maafin Papa Ra,... Papa lah yang bersalah. Papa tak bisa bercerita sama kamu dari awal, karena Mama selalu melarang Papa. Mama kamu sudah sejak lama mengidap penyakit kanker payudara, semenjak kamu masih duduk di SMP'' Papa menyeka airmatanya, sementara itu aku hampir tak percaya dengan penuturan Papa.
'' Kanker?'' bisikku lirih. Dengan pandangan yang tak pindah dari ujung pusara Mama.
'' Iya Ra,.. dan Mama kamu semenjak di vonis oleh dokter, Mama minta Papa supaya tidak menceritakannya sama siapapun. Mama kamu juga menolak untuk mengangkat payudara nya. Padahal Papa setengah mati memohon, Mamamu tetap pada keinginannya. Kamu masih ingat Ra, alasan kami setiap bulan keluar kota? saat itulah Mama menjalani chek up, saat itulah Mama kamu berobat, bukanlah pelesiran seperti alesan kami'' Papa kembali tersedu.
Duniaku terasa semakin hitam, awan berarak dengan kencang, angin bertiup bagai badai topan. Sampai akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi. Sadar-sadar, aku sudah terbaring di kamarku. Di luar kamar terdengar suara-suara yang agak asing. Aku memandang sekeliling kamarku, tiba-tiba aku teringat Mama, spontan aku lari keluar kamar. " Mana Mamaaa...!!?'' tanyaku dengan galak hingga semua orang yang berada di situ menatapku.
'' Ra,.. Istigfar sayang!'' bisik Papa dengan lirih sambil menarik tanganku. Aku mulai meraung-raung lagi, tatkala mataku tak menemukan sesosok Bidadari yang aku lalaikan kehadirannya itu. "Mamaaaaaaa...!" jeritku.
''Ma... Rara nyesel Maa,..." Hanya itu kalimatku di setiap hari semenjak kepergian Mama. Aku menyesal selama Mama ada, tak pernah mendengarkan nasehatnya. Aku menyesal, ketika Mama ada aku tak pernah mengerti dan tak tahu keadaannya. Aku menyesal telah menjadi seorang Rara yang harus kehilangan Mama sebelum aku bisa berbakhti sekali saja.
Maaa... Rara kangen..! jika aku memberantakan semua buku-buku itu , atau mengeluarkan seluruh isi lemari ini, mau kah Mama datang? Rara mohon Maa,... tegur aku lagi, marahi aku lagi Maa... dan hanya itu saja pintaku. Rara yang akan membereskan semuanya. Rara janji...!
Hening. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Tiba-tiba tangan lembut itu mengusap pipiku, aku membuka mataku dan... '' Rara sayang...'' ujarnya lembut sambil tersenyum. Ah, Mamaa... aku berusaha meraih tangannya...tapi pelan-pelan pemilik senyum paling indah itu bagaikan kabut tersapu angin, perlahan memudar... dan hilang!!!
'' Mamaaaaaaa...!'' jeritku '' Mamaaa jangan tinggalin Rara Maa...! Mamaaaaa !!" Aku berlari mengejar kabut putih yang memudar itu. Tiba-tiba Papa menggoncang-goncangkan tubuhku.
'' Raraa sayang, bangun... istigfar sayang!'' Suara Papa memecahkan mimpiku.
Mamaaaaaaaaaaaaaaaaa.... Rara menyesal Ma..!
Wednesday, 5 March 2014
Dear Ladies,..What Was Your BF Reason To Leave You?
Well, aku mulai ya... mungkin ini adalah tulisan gak ada berharganya sama sekali tapi tak ada salahnya, let take five minute to flash back then simple give me your reason :)
Dear all adorable pretty girls,
Pernah di putusin pacar?
Apa alasan si dia memutuskanmu?
atau,.. pernah di diamkan tiba-tiba tanpa kesalahan yang bisa di mengerti?
alias di gantung, kalo kata Melly Goeslaw.
Apakah kamu sangat mecintai si dia?
bagaimana perasaan kamu saat di putuskan dia walaupun dengan gaya so sad, dia mengatakan alasan
untuk putus?
Apa alasannya?
pekerjaan?
study?
masalah kepercayaan?
restu orangtua?
atau penyakit serius?
Simak cerita-cerita di bawah ini:
Lia sudah lama berpacaran dengan Andy, mereka pacaran sudah cukup lama. Lia berharap suatu hari nanti Andy akan meminangnya dan kemudian menikahinya. Tapi apa yang terjadi? di suatu hari Andy malah memutuskan Lia secara tiba-tiba, alasannya dia di pecat dari pekerjaannya sehingga takut tak bisa membahagiakan Lia secara materi. Padahal Lia adalah perempuan yang baik, selalu mengerti dan tulus menerima apa adanya. Apa yang ada di benak kamu tentang Andy?
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rani sekian tahun jadian dan jalan sama Rendy, Rani juga sama berharap suatu hati mereka bisa menikah. Tapi apa yang terjadi, Rendy belum siap dengan alasan dia masih ingin bebas dalam study dan memilih putus daripada mendengarkan alasan Rani tentang hubungan mereka. Padahal Rani adalah wanita yang super duper sabar, Rani siap menunggu. Tapi Rendy lah yang kemudian curang, memilih selingkuh dan pacaran dengan cewek yang sekampus dengan dia, alasannya simple... jika sama-sama masih study gak bakalan ada yang bahas-bahas rumah tangga sekarang.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Siska terpaksa menerima kenyataan sakit di tinggalkan pacar yang mengaku punya penyakit serius. Sang pacar takut siska tak bahagia karena dia mengidap penyakit berbahaya, padahal sebenarnya Siska adalah wanita yang setia, yang tidak lari begitu saja saat kekasihnya terbukti mengidap penyakit berbahaya. Tapi sang pacar bersikukuh untuk putus.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Amel dan Rio saling mencintai, tapi mereka beda agama. Awalnya mereka sepakat untuk maju bersama apapun alasannya. Tapi apa, akhirnya Rio nyerah. Dia memutuskan Amel dengan dalih beda kepercayaan itu sangat tidak mungkin untuk mereka untuk bersatu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Karin dan Irpan sudah bertahun pacaran, tapi ternyata sang ortunya Irpan tak setuju saat mengetahui hubungan mereka. Lalu dengan mudahnya Irpan pun memutuskan Karin. Padahal pegorbanan Karin sudah sangat banyak selama mereka pacaran. Tapi sepertinya tak membekas sedikitpun di otak Irpan.
Si penulis (aku) merasakan salah satu dilemma di atas :'( sakitnya lumayan girls!
Baca saja tulisanku, jawab saja dalam hatimu... aku tau sakit itu real! nyata dan menorehkan luka.
Tuesday, 4 March 2014
Run After My Broken English
I really know who I'm, please don't be so jealous of me! any way.., we can still go through after this fight in one condition, you will pay me attention.
Girls, I really know that you are better than me, you have all the most meaning full moment in your life. That how were you all lucky. But there's something that you can't deny, The God also want me to be happy, so please don't so rude against me.
Other day, I really impressed with everything you have done, but something inside the fact of your life are too many things hide there. Would you please, just tell me how was your feeling when the most important thing in your whole life has just ended??
And this is my broken English! I wish someday I will meet a right man that can hold this state of mine in Good world.
Saturday, 1 March 2014
TITIPAN ISTRI SUAMIKU
Anganku menerawang jauh, mengingat belasan tahun lalu saat usia pernikahanku dengan Mas Irpan baru menginjak setahun. Aku masih ingat resepsi pernikahanku yang di hadiri sekian ratus orang dengan pesta mewah besar-besaran, karena memang kami berdua berasal dari dua keluarga yang sama mapan bahkan keluarga Mas Irpan bisa di bilang orang terkaya di daerahnya.
Kami menikah karena cinta yang cukup lama bersemi lewat proses pacaran. Setelah sama-sama lulus kuliah dan Mas Irpan langsung bekerja di perusahaan Ayahnya, kami pun menikah. Hari-hari bertambah indah setelah kami menjadi sepasang suami istri, apalagi suamiku seorang yang bisa dikatakan sempurna. Ya... bagiku dia sempurna, sangat sempurna. Bahkan pembicaraan tentang seorang bayi mungil yang kami harapkan segera di anugerahkan pun mulai menjadi topik yang hangat di antara kami.
Tapi benarlah kiranya sebuah pepatah bahwa '' Tak selamanya langit itu cerah, dan air laut pun pasang surut''. Begitupun dengan kisah rumah tanggaku yang tak pernah ku sangka akan seperti ini. Disinilah awal mula kehidupan bagi seorang Amira Zahraa Fatimah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Chapter 1*
GADIS MISTERIUS
Wanita mana yang tak akan sakit jika mendengar pengakuan dari seorang suami yang sangat di cintainya, mengatakan niatnya untuk menikahi perempuan lain?.
'' Apa kamu bilang?? menikah?" tanyaku tak percaya. Yang kemudian di jawab dengan anggukan kepala oleh suamiku.
'' kamu tidak gila kan? kamu masih sadar dengan pernyataanmu barusan?'' tamparku lagi, kini dengan nada yang mulai meninggi. Emosi dan sesak tangis mulai memenuhi rongga dadaku.
Suamiku menatapku dengan tatapan tenang, seolah tak bersalah sama sekali meskipun ini yang pertama kali dia melihatku sangat emosi.
'' Aku tidak gila sayang, aku juga masih sadar, aku minta maaf jika pernyataanku tadi menyakitimu. Aku cuma ingin jujur padamu. Aku ingin menikahinya, aku tahu kamu berhati mulia, besok kamu boleh temui perempuan itu'' tuturnya dengan tenang, seraya meletakan sebuah kertas kecil di meja.
'' Kamu tega!!... kamu jahatt !! keluar sekarang juga dari kamarku!!" teriakku histeris, aku tak kuat lagi menahan tangis, rasanya seluruh rongga tulang penyandang tubuhku berjatuhan membuatku lemas dan ambruk begitu saja setelah berhasil membanting pintu kamarku.
Selama 3 hari, aku menolak semua orang yang ingin menemuiku, termasuk suamiku. Hanya Bi Ipah yang dengan telaten mengingatkanku untuk makan dan hanya itu yang masih bisa aku dengarkan. Untungnya keluarga mertuaku sedang umroh bersama, mama ku pun ikut serta. Jadi masalahku dengan suamiku untuk sementara aman dari pantauan kedua belah pihak keluarga.
Kutatap langit-langit kamarku, tulisan itu masih ada. Tulisan nama kami berdua '' Irpan&Sarah''. Ku pandangi satu-satu, deretan photo kemesraan kami, saat masih sama-sama kuliah, saat anniversary pacaran, saat merayakan ultah bersama, saat wisuda, photo pre wedding, pesta perniakahan, terakhir saat serah terima jabatan di kantornya Mas Irpan. Berderet di tembok dengan berbagai macam ukuran dan variasi frame, Ya Allah..., tak terasa airmata merembes lagi. Sakit sekali rasanya , bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? mana janjinya di depan orang-orang untuk tidak pernah mengkhianati cintaku? mengapa kini dia tertarik kepada perempuan lain??.
'' Non?'' terdengar suara bibi memanggil dan mengetuk pintu kamarku.'' Non harus makan, ntar Non Sarah sakit, sudah beberapa hari non gak makan, bibi merasa berdosa'' tuturnya dengan suara mengiba. Hmm.. Bi Ipah ini memang sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri, dia mengasuhku sejak aku kecil, dan ketika aku menikah Mas Irpan aku mengajaknya untuk tinggal bersama kami saja.
''Masuk saja bi, pintu gak di kunci kok'' jawabku lemah. Perlahan pintu terbuka, langsung ku lihat wajah cemasnya saat melihatku pucat terbaring di tempat tidur. Matanya berkaca-kaca, duduk di sebelahku sambil mengusap-usap kepalaku.
'' Non..., non sakit ya? makan dulu ya, biar bibi suapin kalo Non Sarah mau?'' tawarnya dengan lembut sambil meletakan nampan yang berisi semangkuk sop brokoli kesukaanku.'' Nih bibi buatin sop kesukaan Non, di makan ya Non, biar agak enakan badannya''.
'' Iya bi, sini aku makan sendiri aja bi, gak usah di suapin, masih kuat kok'' ujarku sambil memaksakan bangun dan duduk bersandar ke dinding Bed ku. Ku paksakan makan, walaupun sama sekali tidak lapar. Tapi aku tak mau membuat hati Bi Ipah sedih untuk kesekian kalinya, karena sudah beberapa hari makanan yang dia siapkan sama sekali tak kusentuh.
'' Bi, Mas Irpan kemana?'' tanyaku.
'' Kerja Non, setiap hari juga Mas Irpan selalu ke kantor'' jawab Bi Ipah. Matanya menatapku sejenak, seolah menduga-duga.'' Non lagi marahan ya sama Mas Irpan?'' selidiknya.
''kok bibi tau aku lagi marahan?''
''yaa karena tidurnya tiba-tiba misah, Non juga mengurung diri terus, sampe bibi bingung Non kenapa ndak mau makan juga'' tutur Bi Ipah dengan polos. ''Tapi Non, Mas Irpan menangis tadi malam, bibi heran... ini pertama kalinya lihat Mas Irpan menangis''.
''lho, nangis? gak salah bi?" tanyaku kaget, sampe hampir tersedak sop yang lagi ku makan. Kenapa harus menangis? apa mungkin dia menyesal? hm,... syukur-syukur menyesal, semoga besok dia minta maaf, pikirku.
'' Iya Non, dia menangis. Tapi bibi juga gk berani nanya'' jawab Bi Ipah.
''Kalo boleh tau, tapi maaf ya Non, marahan soal apa toh? gk biasanya sampe Non sarah 3 hari mogok makan?'' Bi Ipah bertanya lagi. Aku menghela nafas panjang, sambil meletakan mangkuk sop kembali ke nampan aku menatap wajah Bi Ipah. Wajah tuanya yang sering buat aku kangen sama mama. Dan saat ini, mungkin hanya Bi Ipah yang boleh tahu masalahku. Ya,... siapa lagi. Aku harus bercerita semua sama Bi Ipah, aku yakin aku akan menemukan solusi dari wanita yang sudah puluhan Tahun menajdi Pengasuhku.
'' Bi, tapi bibi jangan cerita-cerita ke siapapun ya bi, cukup bibi saja yang tau dulu''. Bi Ipah menangguk, aku mengatur nafasku untuk lebih relax, aku akan cerita semua kepada Bi Ipah.
'' Bi, Mas Irpan ingin menikah lagi bi... '' ujarku dengan terisak-isak. Bi Ipah kaget, serta merta menutup mulutnya yang berdesis melapadzkan istigfar. '' Ntah apa kekuranganku di hadapan Mas Irpan...''. Akupun menangis sesenggukan sambil memeluk Bi Ipah.
Akhirnya aku pun meski dengan terbata-bata menceritakan semua nya kepada Bi Ipah, termasuk memperlihatkan kertas kecil yang di sodorkan Mas Irpan di malam itu. Sedikit lega rasanya setelah tangisku pecah dan semua unek-unek pun keluar.
'' Ini apa Non? duhh,... mata bibi sudah rabun. Tulisannya kecil-kecil sekali, bibi gak bisa bacanya. Apa sebelumnya sudah Non baca?'' Bi Ipah membolak-balik kertas kecil itu.
'' Belom bi, coba sini aku lihat.."
Bi Ipah menyodorkan kertas kecil itu. Aku mulai membacanya, hm... ini kan Alamat salah satu Panti Asuhan, apakah perempuan yang Mas Irpan idamkan itu pengurus Yayasan Panti?. Lalu aku baca kembali tulisan yang tertera di bawah alamat tersebut.'' TOLONG TANYAKAN SIAPA FATIMAH, DAN DIMANA DIA TINGGAL, BERSAMA SIAPA. AKU TAU KAMU WANITA BERHATI MULIA, TEMUI DIA DAN DENGARKANLAH KISAHNYA''
Aku membacanya dengan keras, biar Bi Ipah juga mendengarnya. Aku sama Bi Ipah sama-sama keheranan, apa maksud Suamiku ini? Jika dia memang tergiur kemolekan tubuh wanita lain mengapa harus dari sebuah teka- teki Panti Asuhan. Bukannya Panti Asuhan itu identik dengan anak-anak yatim, anak-anak jalanan, dan anak-anak tanpa keluarga?. Mengapa bukan sekretaris pribadinya yang cantik jelita, atau seperti si Vera yang tanpa malu-malu mengaku selingkuhan suamiku?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Besoknya aku mengajak Bi Ipah untuk mencari alamat panti tersebut. Aku sengaja pergi tanpa supir.
"Bilang sama bapak, kalau nanyain saya... saya pergi sama Bi Ipah ke swalayan!" Pesanku kepada pak Diman. Laki-laki separuh baya itu mengangguk hormat. " iya Bu, saya pasti sampaikan. Hati-hati ya bu..." katanya dengan hormat.
Dengan kecepatan yang lumayan membuat Bi Ipah meringis-ringis akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Panti Asuhan yang tertera namanya di kertas itu bangunannya cukup bagus, halaman nya juga luas, di sebelah barat berdiri sebuah masjid yang sederhana.
Sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan mengaji. Ahh...indah sekali. Nyaman rasanya... ada perasaan tenang saat mendengar lantunan ayat suci
yang jujur saja sepertinya lama sudah tak ku dengar.
"Ayo Non, kita masuk yuk" ajak Bi Ipah menghamburkan lamunanku.
"Iya Bi... "
Kami mulai melangkah menuju pintu utama Panti. Sepertinya ini adalah kantornya...,dari jendela terlihat ada seorang perempuan cantik berjilbab ungu sedang duduk depan komputer. Hatiku langsung berdesir... hm, apa mungkin ini wanita yang Mas Irpan maksud.
"Assalamu -Alaikum " Bi ipah mengucap salam sambil mengetuk pintu. Perempuan itu menoleh ke arah pintu, dengan muka ramah dan senyum mengembang dia secepatnya bangkit dari kursinya.
"Waalikum salam... mari masuk bu " jawabnya dengan ramah " silahkan... silahkan duduk..." seraya membuka pintu dan mempersihkan kami duduk.
Sekilas saja mataku berhasil menyapu seluruh pemandangan pada wanita itu. Hm... dia menggunakan gamis warna Putih dengan rok Ungu yang lebar serta kerudung ungu yang juga lebar menutup dadanya. Wanita yang religius dan cantik. Yaa..dia memang cantik. Kulitnya wajahnya putih bersih tanpa make up. Pantaslah jika Mas Irpan naksir juga, pikirku. Rasa iri, dan benci pun tanpa di undang merasuki hatiku.
"Perempuan macam apa? Apa gunanya itu kerudung lebar-lebar tapi tak bisa menahan diri dari menggangu suami orang??" Aku memaki-maki dalam hati. Tapi sebenarnya sepatah katapun belum keluar dari mulutku.
"Ah... ibu pasti dari jauh ya, selamat datang di panti kami bu... perkenalkan nama saya Aisyah " tuturnya dengan lembut. Tetapi selembut apapun ucapanku bagiku bagai sambaran petir...jederrrrrr!!! Nama perempuan ini Aisyah? Jadiiii...
"Eh, ... iya mbak. Terimakasih ya. Kami tidak terlalu jauh dari tempat ini. Oh ya saya Sarah " jawabku gelagapan sambil menjabat tangannya. "Dan ini bibi saya..Bi Ipah" sambungku sambil memperkenalkan Bi Ipah. Keduanya pun bersalaman.
Aku sudah salah sangka rupanya. Perempuan cantik
ini bukanlah Fatimah. Lantas siapakah Fatimah? Apakah pegawai lain panti ini? Tapi lega rasanya saat mengetahui seraya bukan dia, tapi di waktu yang sama ketakutan lain juga muncul.
Bagaimana jika yang bernama Fatimah lebih dari Aisyah ini? Apa mungkin aku masih bisa tersenyum saat melihatnya? Apa mungkin aku masih bisa bertahan menahan rasa sakitku saat bertatap mata dengan perempuan yang di inginkan suamiku?.
" Terima kasih sekali lagi kunjungannya Bu Sarah. Kebahagiaan kami adalah ketika orang-orang berhati mulia seperti anda berkenan singgah ke Panti kami" ucapnya lembut berwibawa " saya admin disini Bu, kebetulan hari ini semua anak panti sedang pengajian, jika ibu mau saya antar ke majlis mereka di sebelah sana " seraya menunjuk ke arah masjid. Ahh ternyata para pemilik suara indah tadi...
Aku masih belum berkata sepatah katapun, hanya menyapukan pandangan ku saja ke sekelilingnya. Sampai-sampai Bi Ipah mencolek lenganku.
"Non..., non Sarah di tanya tadi" bisik Bi Ipah.
Aku kaget. Astagfirullah... saking antengnya dengan pikiranku wanita yang dari tadi ramah berbicarapun tak ku hiraukan.
"Ohh...aduh maaf mbak. Saya sedikit melamun" aku tersipu-sipu.
"Tidak apa-apa bu. Sepertinya ibu ada yang ingin di tanyakan? Silahkan bu..., sekitar masalah anak-anak panti, menjadi orang tua asuh, atau untuk berbagai macam donasi bisa ibu tanyakan sama saya"
Aku menarik nafas panjang. Ya Allah,... aku akan terima apapun yang terjadi. Demi seorang suami yang tak pernah menyakitiku.
"Begini mbak... " aku memulai pembicaraan. " saya kemari untuk menemui seoarang wanita bernama Fatimah" ujarku akhirnya.Mulai harap-harap cemas dengan jawaban yang akan aku dengar dari Aisyah.
"Oh, ibu mencari Fatimah. Ibu mau menemuinya langsung?" Tanya Aisyah.
Aku mengangguk. Sambil hati tak henti berdebar-debar.
"Boleh bu, saya kasih alamat rumahnya ya Bu " jawabnya tenang.
"Lho, emang dia tidak di sini?" Tanyaku kaget. Benar dugaanku, pasti si Fatimah ini pegawai panti ini juga. Makanya dia tidak tinggal di panti ini. Mungkin saja dia sebagai staff pengajar atau apalah... sialan Mas Irpan. Rupanya dia ingin seorang istri yang berprofesi sebagai staff pengajar. Lagi-lagi aku menyimpulkan sendiri dugaanku.
"Dia masih anak Panti kami bu, hanya saja sudah dua hari Fatimah pulang merawat ibunya yang sedang sakit " jawab Aisyah.
Plak !!! Serasa ada yang menampar keras wajahku. Saking kagetnya saat mendengar Fatimah adalah Anak Panti ini juga. Anak Panti???? Jadi..., Mas Irpan naksir sama anak Panti??...
"Sebentar Mbak..., mbak bilang Fatimah anak Panti ini juga?" Tanyaku tak percaya.
"Iya mbak. Dia anak Panti kami, sudah sejak 10 tahun yang lalu dia berada di Panti kami. Sekarang usia nya sudah 18 tahun. Dia seorang gadis yang hebat walaupun kedua matanya buta dia adalah seorang penghafal Al -Qur'an..."
Belum habis Aisyah bercerita tentangnya, aku merasakan jantungku semakin kencang berdegup. Aliran darahku mengalur deras. Tatapanku mulai bekunang-kunang... dan brukkkk!!! Aku tak ingat apa-apa lagi.
IRANIAN BREAD.
Kejadian ini aku petik hikmahnya, ketika mataku melihat dua orang pembuat roti Irani di negara ini. Dua orang ini, secara gantian jika yang satunya membuat roti maka yang satunya lagi melayani pembeli.
Selama bertahun-tahun di negara Arab, memang sudah tak terhitung berapa ratus kali memakan Roti Irani ini. Roti Irani itu sendiri sebenarnya banyak macamnya, tapi yang sangat populer bagiku adalah yang rotinya selebar piring besar, bulat dan kadang seperti bergelembung.
Apa yang menarik dari Penjual plus pembuat roti ini?. Suatu hari dan hanya sekali saja di pagi itu aku terpaksa jalan kaki untuk membeli roti Irani, di karenakan supir sedang keluar. Tak bisa bawa mobil sendiri jadi walaupun mobil berderet terpaksa yang menyelesaikan hanya jalan kaki.
Untung jaraknya tidak jauh, cukup meleleh juga tiba disana. Dan... huff, ternyata harus ngantri. Sementara di dalam antrian tersebut tak ada satupun perempuan. Aku clingak-clinguk mirip orang bego, sebenarnya yang paling aku rasakan adalah setengah mati malu. Mata-mata laki-laki itu melirik keberadaanku.
Akupun tak berani apa-apa cuma tertegun saja. Keringat bercucuran kemana-mana, Ya rabb. Hanya satu harapanku, setelah sampai ke rumah nanti akan ku maki-maki boss sialanku!
'' Ukthi... ta'alli inti judam'' tiba-tiba suara khas orang Arab yang cukup keras membuatku kaget, hampir saja teriak ketakutan.'' ma ya'rep iqraa Qur'an? ma hada maktub? nisaa tawagepp hinaa!'' ujarnya sambil menunjuk ke jendela di sebelah kiri pintu.
Aku cuma ngangguk-ngangguk saja, bukan tak bisa jawab sebenarnya, bukan pula gak baca rule si penjual roti tersebut, bahwa di sebelah pintu lain ada loket khusus pembeli untuk perempuan. Rasa kaget dan canggung membunuh seluruh keberanianku. Biasanya belanja apapun, roti sekalipun selalu dari supermarket tanpa ba-bi-bu.
'' Kam tebii? khomsah wala asrah? khomsah bes miah fils... asrah miteen fils" tanya si laki-laki itu. Aku mengeryitkan dahi, kok murah banget ya? aku pikir sekitar 1 dinar atau berapa gitu. '' asrah, lausamah " jawabku. Selama menunggu itulah aku mengamati mereka. Seharian kedua laki-laki itu di depan perapian, mukanya merah padam, keringat bercucuran, sementara dari setiap satu pembeli tak lebih dari 200 fils. Ya kebanyakan 10 biji roti Irani itu cukup untuk makan satu keluarga dengan jumlah 5 orang.
Bayangkan jika dalam sehari hanya ada 20 pembeli saja, secara tempat penjual roti hampir ada setiap block. 20 orang jika di hitung satu orang membeli 10 biji saja ( 200 fils) berati dalam sehari berpanas-panasan di perapian hanya mendapat 4 dinar saja. Apaka mereka nantinya di akhir jam kerja langsung membagi rata hasil jualan tersebut? berapa kira-kira yang mereka kantongi? gak ada dagangan lain kecuali roti ini, di tempat ini hanya menjual roti Irani.
Sedangkan mereka harus membeli tepung, dan bahan-bahan lain. Juga arang untuk perapian yang full seharian menyala. Apalagi jika kios kecil milik mereka ini masih ngontrak? gimana mereka bayarnya? duhh, kok jadi aku yang bingung ya.?
'' anti ma' jibb cis? wen cis?" tanya laki-laki itu membuat aku kaget lagi. Aku clingak-clinguk lagi. Duh... mana aku tau kalau saat membeli roti irani harus bawa kantong sendiri. Lalu si laki-laki tadi menjelaskan bahwa jika mau membeli roti irani, lain kali bawa kantong sendiri. Mereka tidak menyiapkan kantong apapun.
Akhirnya apa dayaku , setelah merasa jadi manusia paling aneh, sekarang lebih tersiksa lagi saat membawa 10 biji roti selebar piring besar yang masih panas tanpa kantong atau apapun. Jarak beberapa ratus meter saja hampir membunuhku. Ya Allah ini baru Roti yang masih panas, ini makanan!! tapi aku membawanya dengan keluh kesah. Bagiamana nanti di akhirat jika tanganku di gelangi rantai panas, di perintahkan menggenggam besi panas seperti aku menggenggam Roti ini? mungkin mulutku pun sudah sangat ketakutan untuk mengeluh.
Sesampai di rumah langsung aku letakan roti itu di meja, lantas menuju kamar mandi untuk mecuci tangan dan mukaku. Hm,... lumayan merah juga kulit tanganku. Begitu kembali ke meja makan, aku melihat perempuan sialan itu sedang makan dengan lahapnya.
''kamu gak makan?'' tanya nya singkat tanpa menoleh. Aku cuma meliriknya sekilas. '' Aku sudah kenyang, makan saja'' jawabku. Dia menoleh ke arahku, lalu " kamu makan di jalan ya? kenyang makan apa?'' tanya nya.
Aku menjawab sambil meninggalkan ruangan '' Kenyang sama perjuangannya ma'am!''
kesal. Tapi bayang bayanng pembuat roti tadi masih terlihat jelas dimataku. Pekerjaan mereka di tempat yang panas di depan perapian, tapi bisa membuat manusia lain duduk dengan merasakan nikmatnya tanpa harus merasakan betapa panasnya saatnya membuat roti tersebut. Dan sama sekali tak membuat mereka miskin walaupun tujuh turunan setiap hari uangnya di pakai buat membeli roti.
Sungguh pekerjaan halal yang mulia. semoga Allah SWT selalu merahmati para pejuang kehidupan yang mulia seperti mereka, aamiin.
