Dia menggigil di sebuah kamar yang cukup luas. Dosa setahun terakhir membayang. Dia ingat-ingat kapan dirinya mulai mengenakan pakaian ketat di depan tetangga, bercampur baur bersama beberapa di antaranya sambil bergosip. Lalu ia mengingat-ingat, pesan apa yang pertama dia terima dari lelaki itu. Ah, bukannya cuma “Hallo, apakabar?” tetapi dia mengggeleng. Bukan ..., bukan itu. Lalu apa? Tubuhnya kembali menggigil.
“Kapan suamiku pulang?” sentaknya kepada seorang babunya yang diam menunduk. Ia menyeringai dengan galak. Perempuan ‘babu’ itu tak menjawabnya. Hanya diam.
“Kau ingat kapan aku pertama memoleskan gincu, bibir ini terlihat sexy sekali, bukan?” ia kembali menatap perempuan itu. Sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan ia menghampiri cermin besar.
“Lihat, aku masih merasakannya ..., masih merakan sentuhan itu.” Pipinya yang masih ranum, ia usap perlahan. Lalu kembali ke arah wanita yang ia sebut ‘babu’.
Badannya terus menggigil. Ia terdengar mulai menangis.
“Kubilang apa? Aku selingkuh untuk membuktikan bahwa aku cantik! Tapi bukan berarti kau bisa merebut suamiku seenaknya!!!”
Ia menjerit. Kakinya melayang menendang perempuan yang ia sebut ‘babu’. Tubuh yang ditinggalkan nyawanya tadi malam itu terjerembab.