Showing posts with label Kumpulan FF. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan FF. Show all posts

Tuesday, 19 May 2015

Kumpulan FF

-- Karma-

Dia menggigil di sebuah kamar yang cukup luas. Dosa setahun terakhir membayang. Dia ingat-ingat kapan dirinya mulai mengenakan pakaian ketat di depan tetangga, bercampur baur bersama beberapa di antaranya sambil bergosip. Lalu ia mengingat-ingat, pesan apa yang pertama dia terima dari lelaki itu. Ah, bukannya cuma “Hallo, apakabar?” tetapi dia mengggeleng. Bukan ..., bukan itu. Lalu apa? Tubuhnya kembali menggigil.

“Kapan suamiku pulang?” sentaknya kepada seorang babunya yang diam menunduk. Ia menyeringai dengan galak.
Perempuan ‘babu’ itu tak menjawabnya. Hanya diam.

“Kau ingat kapan aku pertama memoleskan gincu, bibir ini terlihat sexy sekali, bukan?” ia kembali menatap perempuan itu. Sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan ia menghampiri cermin besar.

“Lihat, aku masih merasakannya ..., masih merakan sentuhan itu.” Pipinya yang masih ranum, ia usap perlahan. Lalu kembali ke arah wanita yang ia sebut ‘babu’.
Badannya terus menggigil. Ia terdengar mulai menangis.

“Kubilang apa? Aku selingkuh untuk membuktikan bahwa aku cantik! Tapi bukan berarti kau bisa merebut suamiku seenaknya!!!”

Ia menjerit. Kakinya melayang menendang perempuan yang ia sebut ‘babu’. Tubuh yang ditinggalkan nyawanya tadi malam itu terjerembab.

Kumpulan FF || Mitos No More


Mitos No More 


“Trisaaaa ...! Apa ini?” 
Suara Ibu menggelegar dari arah pintu depan. Ah-- sudah pasti omelannya tak jauh dari masalah sapu dan pekerjaan rumah lainnya. Dengan enggan aku menghampirinya.
“Ada apa, Bu?” kulihat mukanya merah padam, ketus. Lalu menunjuk ke arah pojok pintu. 
“Apa itu? Berapa kali Ibu bilang kalau menyapu jangan dikumpulkan kotorannya lalu kamu tinggal begitu saja di pojok pintu!” 
“Maaf, Bu ..., tadi Trisa keburu dipinta Ayah masak air dan buat kopi,” jawabku. 
“Ah, kamu itu selalu alesan. Anak gadis tak tau di aturan kerja dalam rumah. Sudah berapa kali Ibu bilang? Kalau menyapu tak baik kotorannya dikumpulkan saja, lalu orang lain yang ngambil, seperti itu terus apa kamu mau rezekimu diambil orang?” 
Ia terus saja mengomel, mau masalah menyapu, mencuci, memasak dan lain-lain. Selalu saja menyelipkan mitos-mitos dan sumpah serapah yang aku sendiri tidak percaya. Ya-- sama sekali aku tidak percaya mitos itu. Mitos jika menyapu tidak bersih akan begini, jika mencuci tidak bersih akan begitu, jika memasak kurang ini akan terjadi sesuatu, ahh-- bosan, bosan dan bosan. Itu yang malah aku rasakan. 
Apalagi jika kedua adik itu seperti sama-sama ingin mengerjaiku. Rasanya sulit sekali menahan diri dari tidak memukul atau meneriaki mereka. Setiap hariku terlalu padat dan sibuk dengan aturan dan mitos yang dikatakan Ibu pada setiap pekerjaanku. 
Pagi ini, sebuah teriakan kembali terdengar. 
“Trisaaaaaa! Ini apa?” aku mendekat dan melihat apa yang dia tunjukan. 
“Trisa sengaja,” jawabku. 
“Kamu sengaja? Oh, ya? Apa kamu mau rezekimu yang sudah cape-cape kamu kumpulkan diambil orang lain?”


“Tidak ada rezeki lagi dari Trisa yang tersisa, Bu. Bukannya sudah Ibu ambil semua? Bahkan barang-barang Trisa penginggalan Mama juga sudah diambil alih semua oleh Ibu dan anak-anak Ibu.” 
Kulepaskan celemek yang mengikat dipinggangku. Setelah memberikan tatapan terakhir pada seisi rumah, kaki melangkah menuju sinar matahari. Ya-- aku ingin bebas! Bebas dari mitos-mitos yang memperdaya hidupku di bawah naungan Ibu tiri.