''Apakah dia akan menceraikanku?'' bisiknya lirih. Seolah bertanya pada dirinya sendiri. Aku hanya terdiam, tak bisa mengatakan apapun. Dia menggenggam tanganku dengan erat, sorotan matanya yang hampa sarat dengan kepedihan menatapku, mengemis jawaban.
''Apakah dia akan menceraikanku? Lalu mengambil anak-anakku?'' ulangnya. Matanya mulai berkaca-kaca, genggaman tangannya semakin erat kurasa. Aku semakin kalut, apa yang harus kujawab? Sama sekali aku bukan Tuhan yang mampu menjelaskan apa yang akan terjadi sebelum manusia itu mengalaminya.
''Sudahlah..., percayakan semua sama Allah. Berdo'a saja semoga semua baik-baik saja.'' Aku mencoba menenangkannya. Air matanya meleleh, membasahi wajahnya yang masih terlihat cantik meskipun sudah menginjak kepala empat. Lima anak yang telah Tuhan amanahkan kepada mereka berdua. Lima anak kini yang entah bagaimana nasibnya jika perceraian ini terjadi.
''Aku rindu suamiku Sri, aku ingin memeluknya!'' rintihnya dengan memilukan. Lengan kirinya masih membiru, dengan lebar luka memar yang hampir sebesar telapak tangan. Entah bagaimana pukulan itu bisa mendarat ke lengannya yang putih mulus.
Kembali aku menarik nafas panjang, terasa pun beban batin tengah dia alami, namun apalah daya. Apa yang bisa aku perbuat? Statusku di sini hanyalah seorang pengasuh anak perempuan satu-satunya mereka. Ke empat anak mereka, lelaki. Hanya seorang saja, anak terakhir terlahir perempuan.
Dan setiap kali si kecil terbuai di pelukanku, di sanalah tangisku merebak. Celoteh bibir mungilnya tak lagi membuatku riang. Usianya yang menginjak enam tahun sudah cukup bisa untuk mengerti situasi di sekitarnya.
''Kok mama tidurnya di kamar aku terus?'' Celotehnya, saat bangun tidur mendapati Ibunya tidur di matras yang digelar di lantai.
''AC di kamar Mama rusak sayang, jadi Mama sementara tidur di kamar Chika dulu... gak apa-apakan?'' Aku menjelaskan dengan sebisa mungkin.
''Terus Papa tidur di mana? Papa juga kasiankan kepanasan?'' Chika kembali bertanya sambil masih tiduran di kasurnya, memeluk Teddy Bear kesayangannya.
''Papa Chika tidurnya di ruang tamu.''
''Kenapa gak di kamar Chika aja? Papa sama Mama bisa kok tidur di kamar Chika, kamar Chika kan luas...'' katanya lagi dengan polos. Deg...! jantungku seperti di hantam palu. Andai saja alasanku tadi benar adanya, sudah tentu kamar Chika akan seperti yang Chika katakan. Bisa menampung Mama dan Papanya tidur.
''Sudahlah, jangan ribut Mamanya masih tidur. Yuk ke kamar mandi yuk! Chika harus ke Sekolah...'' ajakku mengalihkan pertanyaan polosnya.
Begitulah setiap hari, saat aku diharuskan menjawab pertanyaan Chika yang melihat perubahan suasana rumahnya. Ini dikarenakan dari waktu dia masih bayi sampai usia sekarang jarang sekali kena tangan Ibunya. Bermain, belajar, hingga tidur, Chika hanya mengenalnya dariku. Kini saat tiba-tiba Ibunya seharian hingga berminggu-minggu diam di kamarnya tentu saja menimbulkan tanya bagi Chika walaupun pertanyaan terbilang biasa, sebagaimana layaknya anak-anak. Berbeda dengan ke empat anaknya yang laki-laki. Mereka sama sekali tak mencium bau apapun di dalam rumah. Apalagi si sulung sudah kuliah, sudah jarang di rumah. Paling pulang ganti baju, kadang makan pun tidak kemudian menghilang lagi. Pun begitu yang masih SMA. Hanya dua orang yang masih aktif di rumah, yang masih SMP dan kakak Chika yang baru kelas 5 SD.
Selepas mengantarkan Chika ke Sekolah, nyaris tak ada yang bisa aku lakukan di rumah. Bahkan untuk makan dan mandi pun kadang terburu-buru. Keadaan Nyonya besarku benar-benar sudah seperti pasien dengan penyakit akut stadium akhir. Penjagaannya harus ketat dan tak bisa di spelekan.
Seharian dia telpon ke sana ke mari, jika kebiasaannya bertanya tanpa henti, mulai ku acuhkan. Kadang untuk menyuruhnya makan pun aku sudah lelah untuk terus berada di sampingnya. Karena makanan hanya diajak bicara, dengan mengutarakan berbagai macam analisis dan kemungkinan dari apa yang akan diperbuat suaminya.
''Sri, di mana Suamiku?'' tanyanya dengan suara lemah, di suatu pagi yang gerimis. Ini hampir seminggu mereka bertengkar dan tidak ada komunikasi.
''Bapak sedang membaca koran di ruang tamu." jawabku, sambil memasukan baju-baju Chika yang sudah disetrika.
''Tidak menanyakanku, Sri?''
''Tidak, Bu.''
''Aku ini masih istrinya, bagaimana bisa dia tak ingin tahu keadaanku?" ujarnya parau. '' Apa dia tak bisa memaafkanku? Apakah kesetiaanku selama 20 tahun akan terhapus hanya dengan satu kesalahan kecil saja?''
Aku hanya diam. Tanpa menolehnya yang terus-terusan merajuk. Tak tahu harus menjawab apa.
''Jawab Sri, hanya kamu yang bisa membantuku. Tolong Aku Sri, aku tak ingin kehilangan suamiku!''
Aku menoleh ke arahnya, tampak wajah pucatnya sangat memilukan.
''Sebaiknya Ibu makan dulu, saya siapkan makanan ya?'' aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
''Aku tak butuh makan! Tolong jawab pertanyaanku saja Sri!'' sergahnya, sambil menatapku tajam namun tetap tersirat kesedihan yang dalam.
''Bu,... Saya bukan Tuhan Bu, mohon maaf. Saya gak bisa mengira-ngira apapun yang akan terjadi esok hari. Masalah Ibu sama Bapak terlalu rumit buat saya, dan pertanyaan Ibu di luar kapasitas saya.'' aku menjelaskan. Sebenarnya kurang jelas apa, usiaku baru saja 24 tahun dan belum menikah. Apa yang aku tahu seputar dunia Rumah Tangga? Kelebihanku hanyalah menyukai anak-anak. Memberikan kasih sayang semurni-murninya meskipun itu bukanlah anakku. Tapi justru karena merasa aku pun dibayar mahal aku pun harus memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tapi bukan untuk menjudge kelanjutan Rumah Tangganya yang sedang carut marut.
Aku hanya tak mau ikut-ikutan stress. Pembelaannya dengan 20 tahun kesetiaan yang rusak hanya gara-gara satu sms mesra membuatku pusing. Pernyataannya tentang suaminya yang punya watak dingin hingga godaan akhirnya merasuk ke dalam diri sang Istri.
''Apa sebenarnya kekurangan Bapak selama jadi suami Ibu?'' tanyaku tanpa sungkan. '' Selama ini Bapak di mata saya seorang yang bijaksana, baik hati dan rajin ibadah. Pun begitu dengan materi. Apa yang tak bisa Bapak belikan buat Ibu? Mobil banyak, rumah besar. Semuanya tertera nama Ibu sebagai pemilik.''
Mendapati pertanyaan seperti itu, Nyonya besarku hanya terdiam, menunduk sambil memainkan ujung rambutnya.
''Aku tahu Sri, hampir semua kekaayaannya sudah jadi milikku. Tapi aku benar-benar menyesal dan tak ingin apa-apa kecuali Bapak bisa memaafkanku dan tidak menceraikanku!'' jawabnya datar.
''Terus kenapa Ibu sampai hati main-main dengan perasaannya?''
''Itu hanya sms Sri... tak lebih dan sudah kujelaskan!''
''Sekecil apapun, ini merusak kepercayaan Bapak, sekaligus menghancurkan kesetiaan Ibu selama ini."
''Jika begitu, kenapa aku tak boleh marah saat di handphone-nya ada chat dari wanita lain?" belanya sambil tetap memelintirkan ujung rambutnya.
''Ibu juga berhak marah kalau Ibu mau." tawarku dengan lembut.'' Asalkan Ibu punya bukti kuat kenapa Ibu harus memarahi Bapak.''
Nyonya besarku tercenung, raut wajahnya kusut sekali. Ingin rasanya aku menggeledahnya ke kamar mandi. Eurika Ramadhani... yang terkenal galak dan angkuh dengan make up tebal dan rambut goldennya. Kini hanyalah wajah pucat sepucat orang sakit yang tak mampu ke rumah sakit untuk berobat. Inikah karma? Karma saat seorang istri mengkhianati kepercayaan suaminya? Kepercayaan suami yang sudah memberikannya kehidupan yang layak bahkan serba mewah. Lalu sebegitu mengerikannya kekuatan setan yang berhasil membuatnya menjadi seorang pengkhianat? Kini dia terbujur lesu, lemah dan pasrah.
*****
Nurrie. March 2014.
No comments:
Post a Comment