Mari belajar mengenal Kekuasaan Allah dari hal-hal kecil di sekitar kita.
Kejadian ini aku petik hikmahnya, ketika mataku melihat dua orang pembuat roti Irani di negara ini. Dua orang ini, secara gantian jika yang satunya membuat roti maka yang satunya lagi melayani pembeli.
Selama bertahun-tahun di negara Arab, memang sudah tak terhitung berapa ratus kali memakan Roti Irani ini. Roti Irani itu sendiri sebenarnya banyak macamnya, tapi yang sangat populer bagiku adalah yang rotinya selebar piring besar, bulat dan kadang seperti bergelembung.
Apa yang menarik dari Penjual plus pembuat roti ini?. Suatu hari dan hanya sekali saja di pagi itu aku terpaksa jalan kaki untuk membeli roti Irani, di karenakan supir sedang keluar. Tak bisa bawa mobil sendiri jadi walaupun mobil berderet terpaksa yang menyelesaikan hanya jalan kaki.
Untung jaraknya tidak jauh, cukup meleleh juga tiba disana. Dan... huff, ternyata harus ngantri. Sementara di dalam antrian tersebut tak ada satupun perempuan. Aku clingak-clinguk mirip orang bego, sebenarnya yang paling aku rasakan adalah setengah mati malu. Mata-mata laki-laki itu melirik keberadaanku.
Akupun tak berani apa-apa cuma tertegun saja. Keringat bercucuran kemana-mana, Ya rabb. Hanya satu harapanku, setelah sampai ke rumah nanti akan ku maki-maki boss sialanku!
'' Ukthi... ta'alli inti judam'' tiba-tiba suara khas orang Arab yang cukup keras membuatku kaget, hampir saja teriak ketakutan.'' ma ya'rep iqraa Qur'an? ma hada maktub? nisaa tawagepp hinaa!'' ujarnya sambil menunjuk ke jendela di sebelah kiri pintu.
Aku cuma ngangguk-ngangguk saja, bukan tak bisa jawab sebenarnya, bukan pula gak baca rule si penjual roti tersebut, bahwa di sebelah pintu lain ada loket khusus pembeli untuk perempuan. Rasa kaget dan canggung membunuh seluruh keberanianku. Biasanya belanja apapun, roti sekalipun selalu dari supermarket tanpa ba-bi-bu.
'' Kam tebii? khomsah wala asrah? khomsah bes miah fils... asrah miteen fils" tanya si laki-laki itu. Aku mengeryitkan dahi, kok murah banget ya? aku pikir sekitar 1 dinar atau berapa gitu. '' asrah, lausamah " jawabku. Selama menunggu itulah aku mengamati mereka. Seharian kedua laki-laki itu di depan perapian, mukanya merah padam, keringat bercucuran, sementara dari setiap satu pembeli tak lebih dari 200 fils. Ya kebanyakan 10 biji roti Irani itu cukup untuk makan satu keluarga dengan jumlah 5 orang.
Bayangkan jika dalam sehari hanya ada 20 pembeli saja, secara tempat penjual roti hampir ada setiap block. 20 orang jika di hitung satu orang membeli 10 biji saja ( 200 fils) berati dalam sehari berpanas-panasan di perapian hanya mendapat 4 dinar saja. Apaka mereka nantinya di akhir jam kerja langsung membagi rata hasil jualan tersebut? berapa kira-kira yang mereka kantongi? gak ada dagangan lain kecuali roti ini, di tempat ini hanya menjual roti Irani.
Sedangkan mereka harus membeli tepung, dan bahan-bahan lain. Juga arang untuk perapian yang full seharian menyala. Apalagi jika kios kecil milik mereka ini masih ngontrak? gimana mereka bayarnya? duhh, kok jadi aku yang bingung ya.?
'' anti ma' jibb cis? wen cis?" tanya laki-laki itu membuat aku kaget lagi. Aku clingak-clinguk lagi. Duh... mana aku tau kalau saat membeli roti irani harus bawa kantong sendiri. Lalu si laki-laki tadi menjelaskan bahwa jika mau membeli roti irani, lain kali bawa kantong sendiri. Mereka tidak menyiapkan kantong apapun.
Akhirnya apa dayaku , setelah merasa jadi manusia paling aneh, sekarang lebih tersiksa lagi saat membawa 10 biji roti selebar piring besar yang masih panas tanpa kantong atau apapun. Jarak beberapa ratus meter saja hampir membunuhku. Ya Allah ini baru Roti yang masih panas, ini makanan!! tapi aku membawanya dengan keluh kesah. Bagiamana nanti di akhirat jika tanganku di gelangi rantai panas, di perintahkan menggenggam besi panas seperti aku menggenggam Roti ini? mungkin mulutku pun sudah sangat ketakutan untuk mengeluh.
Sesampai di rumah langsung aku letakan roti itu di meja, lantas menuju kamar mandi untuk mecuci tangan dan mukaku. Hm,... lumayan merah juga kulit tanganku. Begitu kembali ke meja makan, aku melihat perempuan sialan itu sedang makan dengan lahapnya.
''kamu gak makan?'' tanya nya singkat tanpa menoleh. Aku cuma meliriknya sekilas. '' Aku sudah kenyang, makan saja'' jawabku. Dia menoleh ke arahku, lalu " kamu makan di jalan ya? kenyang makan apa?'' tanya nya.
Aku menjawab sambil meninggalkan ruangan '' Kenyang sama perjuangannya ma'am!''
kesal. Tapi bayang bayanng pembuat roti tadi masih terlihat jelas dimataku. Pekerjaan mereka di tempat yang panas di depan perapian, tapi bisa membuat manusia lain duduk dengan merasakan nikmatnya tanpa harus merasakan betapa panasnya saatnya membuat roti tersebut. Dan sama sekali tak membuat mereka miskin walaupun tujuh turunan setiap hari uangnya di pakai buat membeli roti.
Sungguh pekerjaan halal yang mulia. semoga Allah SWT selalu merahmati para pejuang kehidupan yang mulia seperti mereka, aamiin.
No comments:
Post a Comment