Dear Mama, di surga.
Ma, padahal baru seminggu Mama pergi, tapi rasanya aku sudah tak kuat lagi Ma..., Rara pengen ketemu Mama, Rara siap kok walaupun kali ini Mama akan menasehati Rara sampai pagi. Asal Rara bisa ketemu Mama...
Mama gak kasihan sama Rara? Lihat Rara sekarang Ma,... rasanya untuk bangun berangkat ke sekolah saja aku tak sanggup lagi. Aku merindukan kalimat-kalimat Mama yang aku benci dulu, tolong kembalikan semua itu Ma...
Jemput Rara Ma,... jemput!
Rara
Tiba-tiba airmataku menetes, bulir-bulir bening berjatuhan sampai membasahi surat yang baru saja aku tulis. Meskipun aku sendiri tidak tahu, harus di kirimkan kemana suratku ini? jika harus di titipkan, harus di titipkan sama siapa? agar sampai ke tangan Mama di surga sana. Ya... aku berharap Beliau di surga sekarang. Tanpa rasa sakit yang selama ini dia sembunyikan dari aku dan keluarga.
'' Ra,... sayangnya Papa kok belum tidur?'' suara lembut tiba-tiba membuyarkan lamunanku, rangkulan hangatpun terasa. Ah, Papa... aku membalikan wajahku. Bisa ku lihat wajah Papa, aku tahu Papa pura-pura tegar. Maafkan Rara Pa,... kali ini ketegaran Papa runtuh lagi. saat secarik kertas yang tadi ku tulis tadi berada di tangannya, dengan tatapan mata yang berat Papa menuntunku ke tempat tidur.
'' Rara harus yakin, Mama disana baik-baik saja dan pengen Rara disini baik-baik juga'' Papa menghela nafas berat, sambil meletakan secarik kertas itu di meja kecil di samping tempat tidurku. '' Berdo'a ya,... biar Allah yang menyampaikan salam kangen Rara buat Mama.'' ujar Papa, seraya mengecup keningku, kemudian keluar dari kamarku yang sunyi.
Ya, sunyi sekali. Sepi. Senyap.Seolah tak ada kehidupan lagi. Biasanya aku berbaring dengan kaki yang di naikan ke tembok, headset menutup telinga dengan lagu rock dari Ipodku yang volumenya nyaris full. Tentu saja aku melakukan ini agar omelan itu tidak singgah ke pendengaranku. Tak pernah menyangka jika si pemilik suara indah itu akan segera pergi meninggalkanku.
'' Ra,... kalau habis belajar itu barang-barangmu di bereskan lagi, bisakan Ra?'' ujarnya dengan suara tinggi, Mama tahu kalau aku mendengarkan lagu-lagu kesukaanku pasti dengan volume yang nyaris full. Aku cuma meliriknya santai, tapi bisa ku lihat tangan dengan jari-jarinya yang mungil tetapi cekatan itu sibuk membereskan buku-buku, dan alat-alat tulis lainnya yang hampir menutupi semua meja belajarku.
'' Ra,...bangun sayang, sebentar lagi bisa kesiangan kamu!!'' itu adalah teriakan wajib Mama di setiap pagi saat membangunkanku untuk peri sekolah. '' Ya Allah Ra,... ini baju kok keluar semua? Kan Mama udah berapa kali bilang, baju seragam dan atribut sekolah lainnya di lemari yang ini.!'' Dan kalimat ini seringnya aku dengarkan saat aku sudah melewati pintu pagar, tentunya tanpa aku jawab tapi aku tau pasti saat pulang nanti kamarku sudah rapi lagi.
Begitupun kebiasaanku yang lain seperti mandi lupa bawa handuk, makan sambil ngetik-ngetik hp atau maen game, lupa naruh barang-barang pentingku, dan banyak lagi yang selalu menuai omelan dan kemarahan Mama.
Suatu hari ada yang aneh di rumah, saat aku menemukan berkas-berkas surat chek up dalam amplop dari rumah sakit di meja ruang tamu. Siapa yang sakit ya? pikirku. Perasaan Mama dan Papa baik-baik saja, aku juga tidak sakit. Ketika tanganku hampir membuka amplop, tiba-tiba mama keluar dari dalam kamar '' eitsss... maen buka aja!'' seraya merebut amplop dari tanganku. Aku heran, gak biasanya Mama begitu, bahkan mukanya sedikit pucat tapi cepat-cepat bibir mungilnya tersenyum. '' Ini punya Tante Inn, gak boleh di buka sama siapa saja.'' jelasnya. Tapi entah kenapa ada yang menggelitik hatiku untuk bertanya. '' Emang Tante Inn sakit apa Ma,.. rahasia banget kayaknya?'' tanyaku sambil menuju dapur.
'' Ohh, Mama juga belum tahu sayang'' jawabnya singkat. Aku baru sadar ada yang lain dari penampilan Mama. Gak biasanya memakai T-shirt segede itu, di lehernya juga mengait syal panjang kesayangannya. '' wow,... itu T-Shirt siapa yang Mama pake?'' tanyaku sambil tertawa setengah mengejek. '' Terlalu seksi Ma,..'' sambungku sambil memperhatikan raut wajahnya yang walaupun anaknya hampir dewasa, beliau masih kelihatan cantik.
Mama tersenyum simpul, mendapat pertanyaanku tadi. '' Mama cuma lagi seneng aja sama T-Shirt gede begini. Sudah sana, cepetan Mandi... bau tau!'' tangannya mencubit pipiku, spontan aku meringis '' ihsss Mama, biasaa aja kali Ma. Gak usah pake cubitan, sakit tau!'' rengekku, disambut tawa riangnya. Rupanya itu cubitan terakhir Mama di pipiku.
Besoknya seperti biasa pagi-pagi omelan Mama saat membangunkanku masih terdengar. Aku pun masih sempat berteriak '' Maaaaa,... handuk pleaseeeee!!!'' dan Mama pun datang. Mama juga menemani aku sarapan, tapi seolah di lem pagi ini, aku duduk manis sampai sarapan selesai di tempat, dari yang biasanya sambil mondar-mandir dan sok sibuk di telpon. Saat itulah Mama dengan suara lembutnya menasehatiku kembali. Nasehat terakhir! yaa andai saja aku tahu ini nasehat terakhir. Aku pasti tak akan mampu beranjak dari tempat duduk ku.
'' Ra, kamu kan sudah besar.'' ujarnya lembut tangannya mengelus-ngelus kepalaku '' Kamu anak mama satu-satunya. Pesan Mama tolong di ingat ya, jaga kesehatan kamu dimana pun kamu berada. Inget,... Mama pengen lihat kamu tak hanya dewasa, tapi juga sehat, sampai nanti sampai ada Rara kecil di dalam hidup kamu. Inget pesan Mama ya Ra.'' Aku tidak heran sebenarnya mendengar nasihatnya pagi ini yang agak panjang lebar, tapi ketika dia memeluk ku dan tiba-tiba memekik lirih seperti kesakitan membuatku kaget. '' Mama kenapa? ada yang sakitkah Ma? kok Mama kayak kesakitan gitu?'' tanyaku, sambil memperhatikan raut mukanya yang aneh, wajahnya pucat. Pagi ini lagi-lagi aku melihat Mama dengan sebuah Daster ukuran XL.
'' Mama gak sakit kenapa-napa kok, sudah sana berangkat... ntar kesiangan lho'' jawabnya.
''yakin Maa..?'' tanyaku,
''yakin sayang, sudah... percaya deh.''
Aku masih menyimpan tanya, tapi jam sudah menunjukan pukul 7 lewat. Akupun bergegas pergi. Ada perasaan gak enak saat melewati pagar rumah, kata-kata Mama terngiang-ngiang di telinga. Padahal setiap pagi mendapat omelan, tapi kali ini seperti langsung masuk ke relung kalbu yang terdalam. Ah,... sebenarnya apa arti pekikan lirih mu tadi Ma...?
Andai saja aku tahu, bahwa lima jam kedepan adalah jam terakhirnya Mama di dunia ini. Mama ku yang jelita yang tak pernah mengeluhkan penyakit seriusnya tersebut. '' Ma,.. bangun Maa...! ini Rara, ayo Maa bangun!'' Aku menggoncangkan tubuh kaku Mama. Aku yang tergopoh-gopoh datang dari sekolah di jemput salah satu tetanggaku, ternyata hanya mampu menyentuh jasadnya saja. Aku tak sempat lagi melihat senyumnya, tak sempat lagi mendengarkan omelannya, bahkan sentuhan terakhirnya pun tidak...!!!
'' Pa,... Mama kenapa Paa...?" teriakku histeris, sambil menggoncang-goncangkan tubuh kaku Mama yang sudah di tutupi kain '' Maaaa...Mamaaaaaaaa...!!! Mamaaa bangunn Maaaa...!!" Aku menangis sekencang-kencangnya, hampir mengamuk di samping jasad Mama. Sementara Papa pun menangis tersedu-sedu. Beberapa orang kemudian menenangkanku yang tak henti menangis. Bahkan dari mulai proses memandikan, mengkafani, hingga Mama di shalatkan aku tak henti menangis sedetik pun. Aku masih tak percaya, rasanya ini hanya mimpi buruk. Aku berusah untuk bangun dan lari dari mimpi ini.
Namun, ini bukan mimpi. Kini aku masih menangis di depan pusara nya, di sampingku seorang lelaki yang nyaris aku lupakan keberadaannya pun, menangis tersedu. Tiba-tiba Papa memelukku, kemudian menangis sesenggukan menambah kesedihan yang semakin memuncak. Dengan terbata-bata Papa bicara padaku.
'' Maafin Papa Ra,... Papa lah yang bersalah. Papa tak bisa bercerita sama kamu dari awal, karena Mama selalu melarang Papa. Mama kamu sudah sejak lama mengidap penyakit kanker payudara, semenjak kamu masih duduk di SMP'' Papa menyeka airmatanya, sementara itu aku hampir tak percaya dengan penuturan Papa.
'' Kanker?'' bisikku lirih. Dengan pandangan yang tak pindah dari ujung pusara Mama.
'' Iya Ra,.. dan Mama kamu semenjak di vonis oleh dokter, Mama minta Papa supaya tidak menceritakannya sama siapapun. Mama kamu juga menolak untuk mengangkat payudara nya. Padahal Papa setengah mati memohon, Mamamu tetap pada keinginannya. Kamu masih ingat Ra, alasan kami setiap bulan keluar kota? saat itulah Mama menjalani chek up, saat itulah Mama kamu berobat, bukanlah pelesiran seperti alesan kami'' Papa kembali tersedu.
Duniaku terasa semakin hitam, awan berarak dengan kencang, angin bertiup bagai badai topan. Sampai akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi. Sadar-sadar, aku sudah terbaring di kamarku. Di luar kamar terdengar suara-suara yang agak asing. Aku memandang sekeliling kamarku, tiba-tiba aku teringat Mama, spontan aku lari keluar kamar. " Mana Mamaaa...!!?'' tanyaku dengan galak hingga semua orang yang berada di situ menatapku.
'' Ra,.. Istigfar sayang!'' bisik Papa dengan lirih sambil menarik tanganku. Aku mulai meraung-raung lagi, tatkala mataku tak menemukan sesosok Bidadari yang aku lalaikan kehadirannya itu. "Mamaaaaaaa...!" jeritku.
''Ma... Rara nyesel Maa,..." Hanya itu kalimatku di setiap hari semenjak kepergian Mama. Aku menyesal selama Mama ada, tak pernah mendengarkan nasehatnya. Aku menyesal, ketika Mama ada aku tak pernah mengerti dan tak tahu keadaannya. Aku menyesal telah menjadi seorang Rara yang harus kehilangan Mama sebelum aku bisa berbakhti sekali saja.
Maaa... Rara kangen..! jika aku memberantakan semua buku-buku itu , atau mengeluarkan seluruh isi lemari ini, mau kah Mama datang? Rara mohon Maa,... tegur aku lagi, marahi aku lagi Maa... dan hanya itu saja pintaku. Rara yang akan membereskan semuanya. Rara janji...!
Hening. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Tiba-tiba tangan lembut itu mengusap pipiku, aku membuka mataku dan... '' Rara sayang...'' ujarnya lembut sambil tersenyum. Ah, Mamaa... aku berusaha meraih tangannya...tapi pelan-pelan pemilik senyum paling indah itu bagaikan kabut tersapu angin, perlahan memudar... dan hilang!!!
'' Mamaaaaaaa...!'' jeritku '' Mamaaa jangan tinggalin Rara Maa...! Mamaaaaa !!" Aku berlari mengejar kabut putih yang memudar itu. Tiba-tiba Papa menggoncang-goncangkan tubuhku.
'' Raraa sayang, bangun... istigfar sayang!'' Suara Papa memecahkan mimpiku.
Mamaaaaaaaaaaaaaaaaa.... Rara menyesal Ma..!
No comments:
Post a Comment