Andai saja Sakura bisa di pindah tempat populasinya, mungkin aku akan berusaha menanamnya satu pohon saja di depan rumahmu. Meski bertahun lamanya, asalkan dia tumbuh subur dan beranting kuat, hingga akhirnya berbunga meski tanpa autumn. Aku akan sabar.
''Berapa lama kau di sana? Bersama sekian rindu dan sejumlah janji yang kau bilang serta merta setia, senja ini menantimu. Cepatlah kembali!''
Aku masih merasakan hangat genggaman tangannya. Wajahnya yang tirus, matanya yang berbinar indah dan rambut hitamnya yang terurai.
''Berhenti menatapku seperti itu sayang, kamu pikir aku ini lucu ya?'' ujarnya manja. Kerlingan matanya tak sanggup ku tolak, untuk tidak mencubit pipinya yang lembut.
''Kau lebih dari lucu, sehingga kata lucu itu tak pantas untukmu!" jelasku. Aku masih menatapnya, enggan rasanya mengalihkan pandangan meskipun di sekelilingku, bunga-bunga bermekaran indah.
''Gombal!'' selorohnya, sambil melengos membuang pandangan matanya ke arah matahari yang sebentar lagi akan bersembunyi. Aku merasa alam pun tersipu, aku terlalu romatis, terlalu terbuai saat menatapnya.
''Kamu cantik!''
''Kamu cantik!''
''Kamu cantik!''
Bisikku. Matanya mulai sayu. ''Hm... kau bilang aku gombal, itu baru dua kata. Aku tau kau menyukainya.''
Bidadariku tersenyum manis, melambungkan anganku jauh ke atas langit ke tujuh. Dia masih tersenyum, kemudian mengerlingkan matanya,.. ya Tuhan! Aku kehilangan ingatanku selain tentang dia.
''Aku Cinta Kamu...'' bisikku di telinganya. Dia tak menjawab, namun tersipu. Aku tau dan tak butuh jawabmu. Sebelum sunrise esok hari ku nikmati sendiri, sebelum akhir pekan aku lewatkan penuh kegalauan, Bidadariku... berjanjilah! Semusim yang memisahkan kita, akan membuat Sakura bersemi sepanjang tahun.
N.Z, March'2014
No comments:
Post a Comment