Kusebut Ia Cinta
Dia membuatku tak percaya, bahkan kini sulit diterima bahwa kenyataannya memang aku sedang gelisah menunggu. Betapa tidak resah. Ini akan menjadi pertemuan pertama seumur hidup, lalu ia mengatakan bahwa setelah itu tak mungkin ada perpisahan lagi kecuali Tuhan yang berkehendak.
Ah, semua orang yang jatuh cinta akan berkata begitu, bukan? Aku tidak ingin menjadi paranoid karena kalimatnya itu, namun bisa jadi saat ini pun kami tidak saling jatuh cinta tetapi menempatkan posisi masing-masing di tempat utama untuk hari-hari selanjutnya.
Ia seorang lelaki berdarah Minang, Lahir di Sumatera tiga tahun sebelum aku. Laki-laki yang kini mengabdikan hidupnya pada desau pantai, dan ganasnya ombak samudera. Aku rasa, sebagai wanita yang mengalami phobia ombak, bersamanya adalah cara paling indah menantang maut. Aku tak takut jika kakiku digerayangi buih-buih ombak lagi, aku kini punya seorang hero yang bersahabat dengan lautan. Aku yakin mereka akan berkompromi untuk ketakutanku, aku yakin ombak akan lebih lembut menyentuh pergelangan kakiku, perlahan memusnahkan kejadian itu, tatkala nyawaku hampir hilang olehnya.
Ia lelaki yang tak pernah aku impikan apalagi aku harapkan sebelumnya, namun semenjak itu aku memimpikannya bahkan berharap bisa menjadi seseorang yang tiada penggantinya dalam hati dia. Mungkin terlalu berlebih, tetapi inilah yang aku rasakan sekarang.
No comments:
Post a Comment