Tuesday, 7 July 2015

Catatan TKW

Because I Love my life and I love my family, too.

*Judul kepanjangan-- ra popo yaa :D 

Tadi pagi, sekitar pukul 10 am. Dengan ngantuk yang masih kental banget, karena baru tidur dari jam 7 pagi. Pukul 9:30 am, karyawan boss yang mau mengantar saya buat surat jalan atau surat cuti sudah nelpon, menyuruh siap-siap. Dan alhamdulillah sekarang bisa langsung buat KTKLN di KBRI di sini, gak pake lama pula. Walaupun sebenarnya gak terlalu niat untuk pulang lagi, tetapi jika keadaan mendesak ya gitu aja pokoknya.

Tentu saja ini merupakan hal yang paling menyenangkan, melapor untuk pulang cuti ke Kedutaan dan menjawab semua pertanyaan dengan penuh rasa syukur. Mulai dari gaji yang mencukupi, kebutuhan yang diperhatikan, hingga respect yang luar biasa dari keluarga ini. Berbincang seputar masalah pekerjaan dengan petugas di KBRI serasa memperbincangkan jalan ke surga. Wajah Bapak sudah menari-nari di pelupuk mata. Bayangan wajahnya, senyumnya, hingga cara beliau berjalan, dan memanggil namaku sudah begitu dekat.

Ah, saya gak sabar nunggu tanggal itu. Begitu selesai cetak kartu baru, aku pun diminta datang mengambil surat perjanjiannya sore harinya. Tapi si assistent boss mengatakan sibuk, hingga besok pagi saja katanya diambil. Sekalian nge'check visa UK-nya si teman yang masih proses.

Pertama menuruni tangga, saya hanya membagi senyum pada wanita yang masih cukup muda itu. Kulitnya putih, wajahnya juga cantik. Memakai abaya dan di tangannya ia menggenggam beberapa kertas dan entah amplop apa. Ia duduk di salah satu tangga sebelum pintu masuk. Saya mengira ia sedang menunggu majikannya.

Dua kali melewatinya hanya senyum yang terlempar. Wajahnya mulai terlihat gusar dan seperti menahan sesuatu yang membuat hatinya bergejolak. Saya masih cuek .. masih berpikiran si teteh ini majikannya ngaret bikin persyaratan.

Tapi ... sekembalinya dari ruangan pembuatan kartu, dengan wajah sumringah saya melewatinya lagi, matanya terlihat berisyarat, tapi kembali saya hanya membagi senyum. Satu langkah terlewati ... tiba-tiba ia memanggil dengan suara yang membuat saya tertegun.

"Teteh ...," panggilnya, serak seperti orang mau menangis. Spontan aku membalikan badan dan melihat ke arahnya.

"Eh, iyaa. Ada apa?" tanyaku. Ia terlihat memelas. Auranya terlihat jelas sekarang, ia lagi bingung.

"Teteh punya majikan orang Indonesia? Aku pengen kerja tapi gak punya paspor."
Ternyata ini masalahnya.

"Majikan saya Kuwaity, Teh. Emang paspor teteh kemana?"

Dia enggak jawab. Tapi saya tau kenapa enggak jawab, malah bilang hal lain.

"Maunya sih pulang ... tapi susah bangett. Pusing."

"Kenapa gak buat paspor baru aja?"

"Harus punya uang banyak, Teh."

Padahal bukan uang yang utama dalam pembuatan paspor tapi juga izin dari majikan pertama yang dulu membuatkan visa untuk datang dan bekerja. Yaa hal ini penting, apalagi statusnya house maid. Apa-apa harus ada persetujuan dari kafil/majikan awal. Saya sudah bisa nebak.

"Tolong Teh, kalau bisa bantu."

Nah, di sini mulai bingung. Hilanglah keceriaan tadi. Entah kenapa saya juga perasaan banget. Ini mau lebaran. Terkatung-katung di negara orang tanpa dokumen bukanlah hal yang mengasyikan tentunya.

"Yaudah nanti dikabari yaa Teh kalau saya bisa," bahaya gak bahaya, kasian juga melihat keadaannya. Akhirnya cuma jawab begitu. Semua orang pun tau resiko memperkerjakan orang-orang kaburan tanpa dokumen. Well, saya lari setelah kehabisan kata. Mirip menghadapi orang yang sekarat, mau bilang stop jangan diambil nyawanya, sama Allah? Gak mungkin kan?

Nah si Teteh ini kalau gadgetnya sih sampai ada dua. Tapi tetap untuk masalah dokument dia gak bisa mengatasi. Artinya ... dear ladies yang pergi dari rumah dengan niat bekerja di perumahan, jangan sampai gak kuat iman oleh godaan kehidupan di luar. Saya gak nge'judge dia bagaimana liku-liku hidupnya. Tapi ini negara orang-- bukan Jakarta, Depok, Bekasi, dan sekitarnya.

Saya juga gak bilang sabar itu mudah. Sebelum sampai ke majikan ini, delapan bulan lamanya bagai tahanan yang mau lihat matahari saja susah. Majikan keluar, saya dikunci di dalam rumah. Tentu dia gak berpikir bagaimana jika flatnya kebakaran atau misal keadaan darurat. Bahkan saking sebalnya saya kadang meminta gini sama Allah, "Yaa Allah gak kebakaran aja nih rumah, biar bisa keluar dan lari dari sini."

Makanan kurang bahkan gak diperhatikan sama sekali. Kebutuhan harus tanggung sendiri. Uang gaji harus dia yang simpan. Telpon di jatah, bahkan handphone di tangan pembantu sepertinya sesuatu yang haram. Enggak dia aja yang begitu ... dari buyut ke samping kanan, kiri, depan, belakang keluarga besarnya sama semua. Tersiksa? BANGET! Paling miris kalau goreng telor satu saja harus nunggu dia berangkat kerja, lalu setelah makan parno nyari pengharum ruangan. Itu belum selesai di situ, karena nanti dia tau kalau telornya berkurang ... wkwkwk. Maka dia akan ngomel sepulang kerja tentang adab dan segala macam dalil haram karena pembantunya makan telor satu.

Delapan bulan, hanya mampu menulis puluhan surat untuk curhat kepada teman sesama pembantu di keluarga besarnya. Karena kami dibatasi jika saling bertemu, bahkan jika setelah keluar, ia akan memeriksa ada apa dibadanku, di saku baju, atau di dalam kaos kaki. Kalau sekarang mirip ketika memasuki UK border. Tentunya para security takut kita membawa barang haram, atau yang membahayakan, bukan selembar surat dari sesama teman yang saling curhat, tapi dirampas dan disobek begitu saja oleh si Majikan dedemit itu.

Jadi, sabar itu emang gak mudah. Bahkan sampe nangis pun gak bisa lagi. Bohong terus menerus sama kelurga bilang alhmadulillah semua baik-baik saja. Padahal hati begitu sakit. Namun karena saya pergi baik-baik dari rumah ... pulang pun ingin baik-baik saja. Ingin kembali ke pelukan mereka tanpa cela. Tanpa harus membawa cerita buruk dan membagikannya pada mereka.
Delapan bulan itu terlalu singkat untuk sebuah ujian. Di sana ... banyak tkw lainnya yang sampai bertahun-tahun bertahan dengan segala kekerasan majikannya. Banyak yang tidak digaji, banyak yang sengaja gak dibolehin pulang, dan lain-lain.

Nah, maka bagi yang baru sebulan aja dicerewetin majikan sudah kabur dan kerja serabutan di luar asal bebas dan banyak duit .... ketika mau pulang susah, apa wajib dibantu? Yup ... orang-orang di KBRI itu tugasnya menolong dan melindungi, tapi kalau saya kerja di sana dan pasti paham sangat dengan masalah TKW/TKI kaburan pasti engganlah pusing-pusing ngurus warga yang yakin banget yang dia pilih dan lakukan itu benar.

Emang sih lari ke agency atau balik ke agency itu horror. Tapi setidaknya dokument gak hilang. Perlindungan kita masih bisa diperjuangkan.
Sekarang, saya yakin banyak di sini yang kehidupan mungkin hedonis. Gonta-ganti gadget. Bebas keluyuran. Tapi gak punya dokumen yang bisa membuat perasaan nyaman. Karena untuk membuat paspor itu gak segampang seperti saat berpikiran' KABUR ITU LEBIH BAIK' dari pada ini dan itu.

Ini negara orang, kita seperti bertamu. Tamu yang baik tentu tak akan meninggalkan jejak hitam pada si tuan rumah. Bagi saya, jadi pembantu di perumahan itu sedikit lebih aman dibanding hidup di luar, kerja bebas. Emang gak ada libur di sini, tapi saya bisa libur ke tanah air tanpa bingung enggak yang ngurus.
75% yang kabur dari majikan untuk alasan spele, saya yakin dia menyesal. Karena ketika handpone yang kau genggam sudah setara dengan handphonenya tuan rumah, tetap tidak akan memudahkan kepulangan ke tanah air jika gak punya dokument lengkap.

Kan maluu ... handphone-nya iPhone tapi gak bisa pulang, atau handphone-nya Samsung terbaru, gaya berpakaian up to date, tapi pulangnya dideportasi karena tak punya dokumen.
Jari saya kok pegal yaaa ... kayaknya udah panjang banget. Hehhe ....


@Zahraa Senja

Tuesday, 19 May 2015

Kumpulan Cerpen || Kufur Nikmat

Kufur Nikmat

Inggit terbangun malam itu, suara gaduh dari kamar Papanya terdengar nyaring di tengah kesepian malam. Dengan tergesa-gesa Inggit keluar dari kamar dan mngendap menuju ke kamar orang tuanya. Kemudian berdiri di depan pintu yang tertutup rapat. Tapi suara keduanya terdengar jelas.

“Seharusnya kamu tau kalau itu sudah jelas-jelas di luar batas! Kamu keterlaluan, Mira!” terdengar suara Papanya dengan nada tinggi. Padahal Pak Indra terkenal pria yang lemah lembut.

“Kau bilang itu salahku? Ooo ..., tidak! Kamu yang tidak tau di aturan. Itu sudah jelas milik kita! Kenapa masih kamu biarkan diambil seenaknya sama adikmu itu?”

“Diam kamu! Jangan sok tau!”

“Aku tidak akan diam! Selama kamu masih gila ..., aku tidak akan diam!”

Inggit tertegun di depan pintu kamar, mendengarkan semua pertengakaran dua insan di dalamnnya. Nafanya seperti tersenggal batu. Ia merasa sesak. Inggit paham apa yang selalu jadi bahan keributan di antara mereka. Cuma karena sebuah rumah tua peninggalan Nenek, yang kini ditinggali oleh adik satu-satunya Papa.
Setelah beberapa menit, Inggit membalikan tubuhnya dan kembali ke kamar.
**

Esoknya, Inggit bangun seperti biasanya. Bi Imah sudah menyiapkan sarapan. Inggit mendapati Papanya sudah rapi untuk berangkat ke kantor.

“Selamat pagi, Pa,” sapa Inggit dengan senyum manis seperti biasanya. Setelah mengecup kening Papanya, Inggit segera duduk di kursi sebelahnya. Sama sekali Inggit tidak mau pria itu tahu, jika semalam ia menguping pertengkaran mereka.

“Pagi sayang, ayo kita sarapan bareng,” jawab Papanya.

“Mama mana, Pa? Kok gak sarapan sama kita?” tanya Inggit

“Mungkin dia masih tidur. Sudahlah, kamu sarapan saja ..., jangan sampai telat ke sekolah.”

Inggit menurut. Ia secepatnya mengambil makanan dan dengan lahap memakannya. Untuk lebih mencairkan suasana, Inggit segera membicarakan beberapa kegiatannya di sekolah kepada Pak Indra. Hingga sarapan pagi selesai dan Pak Indra berangkat ke kantor, Inggit pun bersiap ke sekolah.

“Non, Pak supir sudah menunggu. Non sudah siap? Tas sudah bibi masukan ke dalam mobil,” lapor Bi Imah. Inggit keluar dari dalam rumah diantar Bi Imah.

“Bi, Mama kemana?” Bisik Inggit sebelum masuk ke dalam mobil. Inggit melihat ke sekeliling halaman yang luas itu, dan mobil kesayangan wanita itu tak ada di tempatnya.
Bi Imah meringis, lalu dengan setengah berbisik menjawab.

“Nyonya subuh-subuh sekali keluar, Non. Bawa koper segala. Bibi tak tahu mau kemana, takut mau bertanya juga, kayaknya nyonya lagi marah.”

Inggit mengangguk-angguk. Rupanya itulah kenapa pagi-pagi Bu Mira tak kelihatan. Inggit tak berkata lagi, ia masuk ke dalam mobil untuk diantarkan ke sekolah.
**

“Kamu serius, Mir? Astagfirullah Mir, nyebut Mir ..., nyebut!” Rani membuatku heran. Baru kali ini curhatanku dijawab dengan seperti itu.

“Nyebut apaan Ran? Aku sudah nekad kok, kalau dia tak mau mengambil rumah itu dan membaginya sesuai hak masing-masing aku akan mengajukan permintaan cerai!” jelasku lagi.

“Kamu kurang apa, Mira? Suamimu kaya, pekerjaan bagus, direktur lho! Anak tirimu juga anak yang baik tak pernah macam-macam bahkan menyayangimu. Apa yang kamu harapkan dari rumah itu?”

“Tapi tetap Ran, ada uang Indra di sana. Uang suamiku dan uangku juga!” Aku bersikukuh.

“Lebih baik kamu bersyukur deh, Mir! Gak usah pake kabur-kaburan segala. Pulanglah Indra pasti khawatir.”

Aku tak bisa banyak bicara lagi. Rani kali ini seperti bukan sahabatku lagi. Perkiraan akan mendapat support malah menambah kesal dan amarah. Aku keluar dari flat Rani, tujuanku tentu saja bukan ke rumah, tapi ke mana saja asal dapat ketenangan.
Kupacu mobil dengan kecepatan tinggi, dengan hati yang penuh kekesalan dan otak yang panas, aku tak peduli dengan keadaanku. Hingga pada sebuah tikungan aku tak mampu lagi mengendalikan mobilku yang meluncur bagai anak panah. Hanya dalam hitungan menit, sebelum aku lupa diriku yang berdarah-darah terhimpit mobil yang sudah terbalik.
**

“Ya Allah berikan kekuatan kepada hamba untuk menerima semua ini, semoga ini menjadi pelajaran bagi hamba dan Mira,” bisik hati pak Indra saat mendorong kursi roda yang diduduki istrinya yang kini tak berkaki.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku.“(QS. 2:152)

Kumpulan FF

Gadis

Ruang sunyi. Kebaya menggantung menitikan air mata. Tuhan mengambil kembali cinta yang bukan milikmu.

"Jangan menangis ..., semoga ini yang terbaik."
Kamu bisa melihat wajah tua itu menatapmu saat kau membalikan badan. Tak urung bulir-bulir yang hanya seperti milikmu menghiasi wajah rentanya.

"Dia bilang semua akan baik-baik saja, Mak? Mana buktinya?"
Kamu mencoba menagih janjinya yang sama sekali bukan dari mulut Ibumu. Kamu keliru, tetapi Ibumu paham.

"Mak pernah bilang sama kamu, tak baik memaksakan kehendak, Nak."

"Lalu apakah aku tak boleh menjadi istri keduanya? Sedangkan aku ikhlas Mak ...."

Kamu tak mendapat jawaban. Wanita yang kau panggil Mak sudah menghilang. Sejarah tak pernah kau pelajari, dan sejarah tak mengajarimu. Itulah kenapa sampai sekarang kau tak melihat wujud Bapakmu. Karena Bapakmu tak seperti lelaki yang baru saja meninggalkanmu ... Bapakmu lemah. Ia menikahi wanita lain dan mencampakan kau dan Ibumu.

Kumpulan FF

-- Karma-

Dia menggigil di sebuah kamar yang cukup luas. Dosa setahun terakhir membayang. Dia ingat-ingat kapan dirinya mulai mengenakan pakaian ketat di depan tetangga, bercampur baur bersama beberapa di antaranya sambil bergosip. Lalu ia mengingat-ingat, pesan apa yang pertama dia terima dari lelaki itu. Ah, bukannya cuma “Hallo, apakabar?” tetapi dia mengggeleng. Bukan ..., bukan itu. Lalu apa? Tubuhnya kembali menggigil.

“Kapan suamiku pulang?” sentaknya kepada seorang babunya yang diam menunduk. Ia menyeringai dengan galak.
Perempuan ‘babu’ itu tak menjawabnya. Hanya diam.

“Kau ingat kapan aku pertama memoleskan gincu, bibir ini terlihat sexy sekali, bukan?” ia kembali menatap perempuan itu. Sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan ia menghampiri cermin besar.

“Lihat, aku masih merasakannya ..., masih merakan sentuhan itu.” Pipinya yang masih ranum, ia usap perlahan. Lalu kembali ke arah wanita yang ia sebut ‘babu’.
Badannya terus menggigil. Ia terdengar mulai menangis.

“Kubilang apa? Aku selingkuh untuk membuktikan bahwa aku cantik! Tapi bukan berarti kau bisa merebut suamiku seenaknya!!!”

Ia menjerit. Kakinya melayang menendang perempuan yang ia sebut ‘babu’. Tubuh yang ditinggalkan nyawanya tadi malam itu terjerembab.

Pernikahan Yang Tak Dirindukan

Pernikahan Yang Tak Dirindukan

Aku melihat dia paling berbeda di antara mereka yang tengah hadir. Rambut yang mirip model rambut Upin-Upin itu selaras dengan wajah yang tampak semakin jelek dengan cengengesannya. Fostur tubuhnya yang lumayan kerempeng dengan kulit hitam legam membuat penampilan sempurna 100% jelek.

Hampir saja sendok yang aku genggam berubah jadi debu, saking panasnya amarah yang bergejolak di dalam dada. Entah bagaimana caranya lelaki itu tiba-tiba resmi jadi suamiku. Beribu kali jemari ini menampar wajahku sendiri, tapi tak merubah keadaaan. Semua orang tidak peduli dengan keadaanku yang tersiksa.

Di tengah keadaan yang menyiksa batin itu, tiba-tiba Bude Ratih mendekat, sambil mencolek pipiku.
“Selamaaaaaaaaaaaaatt! Akhirnya kau bersuami juga, Nduk! Secepatnya punya momongan ya ...,” seraya melirik mahluk mengerikan yang tengah asyik bercengkrama dengan keluarga laki-laki di sana. “Lihat! Dia senang sekali mendapatkanmu, kamu pasti dia perhatikan sebaik-baiknya.”

Aku tak menjawab. Rasanya kepala mau meledak. Punya momongan? Hahhaaa ..., Bude tidak becanda kan? Big no! Bahkan saat ini aku masih bersikeras untuk tidak tidur bersamanya. Aku menggerutu dalam hati, terus-terusan memaki-maki keadaan yang kini menderaku. Terus terang, rasanya ingin bunuh diri ketika bayangan Bang Aldo menari-nari di pelupuk mata. Laki-laki yang kucinta dan kudamba sepenuh hati, yang diharapkan menjadi suami seumur hidup, tapi nyatanya takdir menjadi lain. Aku malah berjodoh dengan lelaki entah keturunan mana.

Acara makan malam dimulai. Dari semenjak resmi menjadi istrinya aku malah tak berselera makan apapun. Padahal ada sop Iga favoritku yang favorit Ayah. Kebetulan Ayah masih di mesjid, belum hadir untuk makan. Tiba-tiba mahluk sialan itu menghampiri meja makan, tanpa basa basi mengambil hampir setengahnya dari sop Iga. Yang membuat emosi adalah ia belagak mencicipi dengan sendok yang dia pegang, masuk ke mulutnya lantas masuk lagi ke dalam mangkuk sop sampe beberapa kali. Tentu saja yang melihat akan merasa jijik, siapa yang mau makan sop itu setelah beberapa kali terobok-obok oleh sendok yang masuk ke mulutnya?
Aku bergidik! Tanpa bisa menahan amarah aku berteriak kepadanya dengan lantang.

“Hei barbarian! Sop itu bukan untuk kau saja! Ngerti? Seenaknya ngeluar masukin sendok yang sudah masuk ke mulut kau!” Spontan dia kaget. Lalu menoleh ke arahku. Sambil meletakan sendok dengan kasar, ia bersungut-sungut.

“Tolong bilang sama Ayah, jangan makan sop iga itu. Kotor!” jeritku, sebelum aku lari ke dalam kamar dan mengunci pintu. Aku tak peduli bagaimana tanggapan mereka. Yang kulakukan hanya mengunci diri dan menangis di dalam kamar. Kususupkan wajahku ke bantal yang empuk. Aku ingat kembali sama Bang Aldo. Kubuka layar hapeku, wajahnya yang langsung nongol. Maklum wajah gantengnya aku jadikan wallpaper di hapeku.

Aku segera menekan tombol call; menelponnya. Tapi tak ada jawaban. Hingga kuulang beberapa kali, hasilnya nihil. Ah, apakah dia sudah berubah karena aku tak jadi menikah dengannya? Padahal demi Tuhan aku tak mencintai lelaki itu, bahkan aku tak habis pikir mengapa mesti menikah dengannya.
Terdengar ketuka beberapa kali. Namun tak kuindahkan. Hingga ketukan berubah menjadi gedoran.

“Rismaaaaaaaaa ...! Buka pintunya woi! Bangunn! Lo mau kerja kagak?”
Aku kaget?!Kok?

Itu suara Dewi, iyaa suara Dewi. Perlahan kubuka mataku. Sambil mengucek mata aku menoleh pada jam dinding. Hah! Jam 7 pagi kurang lima menit!! Serentak aku loncat dari ranjang, menuju pintu kamar dan langsung memeluk Dewi yang melonjak terkejut.

“Aihhh ... Gila lu ya! Apa kumat? Ngapain lu peluk-peluk gue!” Seraya meronta. Aku melepaskannya dan tertawa ..., lalu aku balik ke kamar dan mengambil handphone. Kutekan tombol call pada kontak Bang Aldo.

“Hallo, met pagi Sayang ...,” terdengar suara merdunya dari ujung sana.
Aku menjatuhkan diri ke kasur, ahh .... AKU BELUM MENIKAH. BELUM MENIKAH. Alhamdulillah.

Kumpulan FF || Mitos No More


Mitos No More 


“Trisaaaa ...! Apa ini?” 
Suara Ibu menggelegar dari arah pintu depan. Ah-- sudah pasti omelannya tak jauh dari masalah sapu dan pekerjaan rumah lainnya. Dengan enggan aku menghampirinya.
“Ada apa, Bu?” kulihat mukanya merah padam, ketus. Lalu menunjuk ke arah pojok pintu. 
“Apa itu? Berapa kali Ibu bilang kalau menyapu jangan dikumpulkan kotorannya lalu kamu tinggal begitu saja di pojok pintu!” 
“Maaf, Bu ..., tadi Trisa keburu dipinta Ayah masak air dan buat kopi,” jawabku. 
“Ah, kamu itu selalu alesan. Anak gadis tak tau di aturan kerja dalam rumah. Sudah berapa kali Ibu bilang? Kalau menyapu tak baik kotorannya dikumpulkan saja, lalu orang lain yang ngambil, seperti itu terus apa kamu mau rezekimu diambil orang?” 
Ia terus saja mengomel, mau masalah menyapu, mencuci, memasak dan lain-lain. Selalu saja menyelipkan mitos-mitos dan sumpah serapah yang aku sendiri tidak percaya. Ya-- sama sekali aku tidak percaya mitos itu. Mitos jika menyapu tidak bersih akan begini, jika mencuci tidak bersih akan begitu, jika memasak kurang ini akan terjadi sesuatu, ahh-- bosan, bosan dan bosan. Itu yang malah aku rasakan. 
Apalagi jika kedua adik itu seperti sama-sama ingin mengerjaiku. Rasanya sulit sekali menahan diri dari tidak memukul atau meneriaki mereka. Setiap hariku terlalu padat dan sibuk dengan aturan dan mitos yang dikatakan Ibu pada setiap pekerjaanku. 
Pagi ini, sebuah teriakan kembali terdengar. 
“Trisaaaaaa! Ini apa?” aku mendekat dan melihat apa yang dia tunjukan. 
“Trisa sengaja,” jawabku. 
“Kamu sengaja? Oh, ya? Apa kamu mau rezekimu yang sudah cape-cape kamu kumpulkan diambil orang lain?”


“Tidak ada rezeki lagi dari Trisa yang tersisa, Bu. Bukannya sudah Ibu ambil semua? Bahkan barang-barang Trisa penginggalan Mama juga sudah diambil alih semua oleh Ibu dan anak-anak Ibu.” 
Kulepaskan celemek yang mengikat dipinggangku. Setelah memberikan tatapan terakhir pada seisi rumah, kaki melangkah menuju sinar matahari. Ya-- aku ingin bebas! Bebas dari mitos-mitos yang memperdaya hidupku di bawah naungan Ibu tiri. 

Monday, 18 May 2015

Kamar Tanpa Jendela


Kamar Tanpa Jendela. 
Oleh : Zahraa Senja 

Ammy menjerit ketika pintu berhasil didobrak Bianca. Bianca, si jago karate memang tak setengah-setengah mengeluarkan tenaganya untuk mendobrak pintu itu. 

“Stttt .. Jangan teriak, Ammy! Shhh ..., hanya akan menambah bahaya!” Bianca secepatnya menutup mulut Ammy yang sudah menganga untuk jeritan kedua. Hingga gadis itu megap-megap. Lalu setelah mengangguk, telapak tangan Bianca baru terlepas dari mulutnya. 

“Be calm! Okay? Inget kita tidak boleh gagal!” ujar Bianca lagi dengan beringas. Ammy cuma mengangguk-angguk dengan sebelah tangan menutup mulutnya. Kedua gadis itu mulai berjingkat-jingkat. Berusaha tidak menginjak benda-benda yang berserakan di lantai dan yang membuat Ammy berteriak adalah bercak darah yang hampir memenuhi ruangan itu. 
Ammy berusaha tenang. Gadis berambut pirang itu memang penakut. Ia seorang model di kampusnya. Kulitnya yang putih bersih dengan wajah cantik dan golden curly hair. Perawakan yang semampai dengan betis bak betis bonekaberbie, jemarinya pun lentik, setiap gerakannya lentur. Berbanding dengan gadis yang tengah ia ikuti, Bianca. Meskipun sama-sama cantik, perbedaan fisik terlihat jelas. Gerakan Binanca sungguh gesit, otot-otot lengannya seperti otot laki-laki. Ia salah satu murid karate tersohor di kampus. Keduanya bersahabat semenjak mereka masuk di universitas yang sama. 
Rumah besar yang berada di tengah hutan ini keseluruhannya terbuat dari kayu. Dindingnya terbuat dari kayu gelondongan sebesar betis orang dewasa. Pun begitu desain rumah ini unik. Terdiri dari tiga ruangan besar yang dipenuhi furniture klasik. Lalu beberapa kamar yang masing-masing pintunya di beri nomor urut. Ada lima kamar dengan nomor yang berurutan. 
Ammy terlihat semakin pucat, keringatnya membasahi sekujur tubuhnnya, ketika keduanya berada di salah satu ruangan besar. 

“Bianca ... A-akuu takut!” desis Ammy dengan gemetaran. Sebelah tangannya menarik ujung T-shirt Bianca. 
“Kita harus mencari Cellia sampai ketemu. Mungkin dia dalam bahaya saat ini,” ujar Bianca. 
“Tapi rumah ini angker, dan darah itu ---” kalimat Ammy terpotong ..
“Kita periksa satu persatu kamar-kamar itu. Bagaimana kalau kita bagi tugas?”
“What!?” mata Ammy membelalak. Tentu saja Bianca tidak sedang bercanda, namun mengatakan hal itu pada Ammy seperti sebuah lelucon.
“Ya. Bagi tugas, agar waktu kita tidak lama di sini.”
“Big no! Are you crazy? How you could you say like that to me? I’m scared and I’m not acting!” Ammy malah marah-marah. Sambil mengikuti langkah Bianca yang mendekat pada kamar nomor dua. 
“Seharusnya kita memeriksa kamar nomor satu dulu,” usul Ammy sambil tetap memegang ujung T-shirt Bianca.
“Just shut up!” 
Keduanya mengendap. Tangan kuat Bianca mulai memegang pegangan pintu. Krekkk ...! Daun pintu terbuka perlahan. Aroma mistik tercium oleh keduanya. Pegangan tangan Ammy pada T-shirt Bianca semakin kuat. Nihil. Tak ada satu orang pun di dalam. 
Bianca melenguh. Kemudian dua gadis cantik itu kembali mengendap menuju kamar selanjutnya. Kamar nomor tiga. Tetapi sama halnya, mereka tak menemukan apapun. Hingga kamar nomor empat dan nomor lima, semua kosong.
“Aku yakin Cellia tidak berada di sini,” ujar Ammy, “kita keluar saja, yuk! Kita kembali ke kemah. Lagian Mr. Greg dan teman yang lain sedang mencari juga. Tugas kita selesai.” 
“Last room, Ammy. Tuh ...!” Bianca menunjuk ke kamar yang paling ujung. Kamar dengan nomor urut satu. Letaknya memang terpencar dari empat kamar lainnya. Kamar itu terpisah oleh salah satu ruangan besar, namun pintunya terlihat jelas dari tengah-tengah ruangan. 
Ammy mendesah. Ia kembali gelisah. Otaknya mulai berimajinasi liar. Terbayang sesosok cantik Cellia tergantung di tengah-tengah kamar dengan tali yang mengikat lehernya. Darah mengucur dari luka-luka di sekujur tubuhnya. Wajahny biru dan lebam. Belum lagi jika ternyata ia diperkosa si pembunuh sadis itu. Pasti Cellia di tusuk-tusuk pisau di ruangan tadi, hingga darahnya mencerat kemana-mana. Kemungkinan Cellia memberontak ketika akan diperkosa, sehingga tubuhnya bertubi-tubi dipukul lalu setelah pingsan tubuhnya dibawa oleh si pembunuh sadis itu ke kamar nomor satu dan digantung di sana. Ammy semakin gemetaran. 
“Kau kenapa? Oh my gosh! Kita bahkan tidak menemukan sepotong hantu pun di sini,” Bianca keheranan dengan tingkah Ammy. 
“Aku takut, Bianca. Siapa tau Cellia tergantung di kamar ini dan---” kalimat Ammy terpotong, karena daun pintu terbuka dan kedua gadis itu terperangah. 
Dua insan di dalamnya menggerubuk kaget. Salah satunya wajah cantik yang  mereka cari, seketika pucat. 
“You!?” Desisnya tertahan, sambil berusaha menutupi tubuhnya serta menghalangi lawan jenisnya. 
Bianca masuk dengan beringas, lalu mendorong tubuh Cellia dengan kasar sehingga gadis itu terjerembab. Wajah lelaki itu pun tampak. 
Plak! Sebuah tamparan mendarat sempurna. Sementara Ammy melongo di pintu kamar. 
Bianca menarik Ammy keluar tanpa mempedulikan dua wajah itu. Menutup pintu lalu menguncinya dari luar. 
“Mari pulang, biarkan mereka terkurung di kamar tanpa jendela itu. Kita katakan pada teman-teman bahwa kita tidak menemukan mereka.” 
“Tunngu! Kau yakin kamar itu tanpa jendela?” Ammy masih melongo. 
“Come on, girl! Kamu pikir aku tidak tau rumah ini milik siapa? Ini villa Papaku, dan si pengkhianat itu membawa perempuan lain ke sini.” 
Ammy semakin menganga heran. Tapi akhirnya ia paham. Rumah ini ternyata milik Papanya Bianca. Sebagai kekasih Bianca, Taylor sering diajak oleh Bianca main ke tempat ini, hingga Taylor pun dipercaya memegang kunci rumah. Sayang sekali, kini ia mesti terkurung di kamar tanpa jendela dengan Cellia, yang juga teman Bianca. 
Kedua gadis itu tak mengatakan apapun, perihal hilangnya Cellia yang membuat geger seluruh peserta camping, bukan lagi hal yang merusak tidur keduanya setelah kecapean keluar dari hutan. 
“Bagaimana kalau mereka balik menuduh kita?” bisik Ammy.
“Don’t worry! Kamar itu dilengkapi dengan spy camera. Apa yang mereka lakukan sudah terekam. Taylor hanya memegang kunci rumah, tidak dengan segala rahasia yang ada di villa itu.” 
“Oh my gosh! Ok-- let sleep!” 
Cheating never won-

Galau Itu Mematikan

Cara Ampuh Mengusir Galau

Galau?

Itu Penyakit yang banyak ditakuti oleh beragama usia di kalangan manusia, termasuk saya. Banyak orang meninggal karena galau akut yang sudah tidak ditemukan obatnya. Dan pada kasus ini, korbannya tidak hanya para artis yang sudah tak laku di publik, atau model yang mulai sepi dari job, bahkan penyanyi yang sudah sering batuk, galau akut yang menyebabkan kematian bisa menyerang siapa saja.

Ini beberapa tips yang bisa kalian manfaatkan untuk mengusir galau, walaupun saya gak jamin kalian sukses, karena suksesnya seseorang bukan karena Pak Jokowi, tetapi karena dirinya sendiri. Cukuplah Bapak Presiden kita mengurus masalah negara, kalau masalah galau pada rakyatnya, biarlah kita selesaikan secara individual saja.

Pertama; JANGAN KEINGINAN YANG SUSAH DAPETINNYA. Misalnya pengen tas Hermes, seperti tasnya seorang Ibu yang kini jadi tahanan KPK. Itu salah satu yang bisa membuat galau kaum hawa, keinginan yang rada tinggi bagi si menengah, biasa bagi si kaya, susah amirr bagi yang kayak saya. Kenapa si kaya saja bisa galau? Kan banyak duit tuh? Karena tas Hermes itu banyak modelnya, jadi yakin kalau beli semua model kayak Syahrini, bisa pusing kepala Ken. Intinya jangan ngidam barang mahal apalagi kalau buat pamer, entar bisa bikin galau. Ini berlaku juga bagi laki-laki, lho. Kalau misal kebelinya cuma Lamborghini yaa beli aja, gak usah pake galau-galauan pengen Ninja yang bisa nyulik wanita senyum-senyum.

Kedua; Jangan JATUH CINTA SAMA PASANGAN ORANG. Nah, ini paling horror, lho. Karena seperti yang dilansir oleh sebuah media massa, bahawa naksir pacar orang itu sangat berbahaya. Selain mengancam ketenangan orang lain, juga berpotensi untuk membuatmu gila. Saya pernah melihat sendiri orang gila di jalanan, yang nyanyi-nyanyi terus. Setelah merasa tidak enak memandang orang gila, saya putuskan untuk tidak pernah memandangnya lagi. Jadi kalau kamu gila, kan enggak ada yang mau memandangmu lagi. So jauhi naksir apalagi pake ngebet sama pasangan orang, ntar gila.

Kamu masih mau galau? Enggak takut nanti Gila?
Pikirkan lagi! 


(Photo by : hukuma 123 )




Kdua

Kusebut Ia Cinta


Kusebut Ia Cinta 


Dia membuatku tak percaya, bahkan kini sulit diterima bahwa kenyataannya memang aku sedang gelisah menunggu. Betapa tidak resah. Ini akan menjadi pertemuan pertama seumur hidup, lalu ia mengatakan bahwa setelah itu tak mungkin ada perpisahan lagi kecuali Tuhan yang berkehendak. 

Ah, semua orang yang jatuh cinta akan berkata begitu, bukan? Aku tidak ingin menjadi paranoid karena kalimatnya itu, namun bisa jadi saat ini pun kami tidak saling jatuh cinta tetapi menempatkan posisi masing-masing di tempat utama untuk hari-hari selanjutnya.

Ia seorang lelaki berdarah Minang, Lahir di Sumatera tiga tahun sebelum aku.  Laki-laki yang kini mengabdikan hidupnya pada desau pantai, dan ganasnya ombak samudera. Aku rasa, sebagai wanita yang mengalami phobia ombak, bersamanya adalah cara paling indah menantang maut. Aku tak takut jika kakiku digerayangi buih-buih ombak lagi, aku kini punya seorang hero yang bersahabat dengan lautan. Aku yakin mereka akan berkompromi untuk ketakutanku, aku yakin ombak akan lebih lembut menyentuh pergelangan kakiku, perlahan memusnahkan  kejadian itu, tatkala nyawaku hampir hilang olehnya. 

Ia lelaki yang  tak pernah aku impikan apalagi aku harapkan sebelumnya, namun semenjak itu aku memimpikannya bahkan berharap bisa menjadi seseorang yang tiada penggantinya dalam hati dia. Mungkin terlalu berlebih, tetapi inilah yang aku rasakan sekarang. 


Sunday, 12 April 2015

Meruqiyah Diri Sendiri

Meruqiyah Diri Sendiri 

Lama tak menulis di blog ku ini, terlalu sibuk dengan berbagai event menulis yang semakin hari semakin menantang. Padahal dulu, inilah rumahku. 

Hari ini, terlepas dari segala aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran, aku mengingat satu kejadian tadi siang. Kejadian yang membuat otak saya seketika mendidih dan rasanya ingin melakukan hal-hal yang didorong oleh rasa emosi tersebut. 

Siang tadi, seperti biasa aku menjemput Lulu ( anak majikan ) dari sekolah. Pekerjaanku sebagai pengasuh mengharuskan aku menjemput dan mengantarnya ke sekolah. Dan kembali perseteruanku dengan manusia itu ( tepatnya supir rumah ) memanas kembali. 

Kebiasaannya melaporkan setiap yang dilakukan pegawai lain hari ini terjadi padaku. Tadi aku membawa beberapa box lunch untuk Lulu. Ada tiga tuper ware yang berisi nasi, ayam dan waraq enab. Lalu sebotol air dingin dan satu juice 250 ml. Karena Lulu jika setelah tiba di rumah susah ditinggal, aku pun membawa makan siangku. Niat nanti makan bersama di mobil dengan Lulu. 

Dari pagi aku sudah kontak kepada majikan perempuan, kalau mau ikut jemput dari gym langsung saja ke sekolah. Mengingat jalan macet dan juga jauh. Tiba di sekolah parkiran sudah penuh, maka si supir gila itu parking di depan baqalah ( warung ) yang di sebelahnya ada apartment tua yang hampir saja roboh. 

Karena tidak punya pulsa untuk menelpon aku pun membeli pulsa dari warung tersebut, kemudian menelpon majikan perempuan, memastikan dia mau datang ke sekolah atau tidak. Posisiku tidak jauh dari tempat mobil diparkir tepat di depan apartment tersebut. Majikan perempuan pun ternyata datang ke sekolah, cuma masih agak jauh, belum sampai ke sekolah. Lalu aku mengatakan bahwa makanan Lulu masih di dalam mobil lain. 


Aku telpon supir sialan itu, agar datang dan membuka mobil karena mau mengambil kantong makanan Lulu. setelah tiga kali ditelpon dan terakhir bilang ke Majikan perempuan, barulah wajah sialnya itu muncul. Tanpa ba-bi-bu aku mengambil kantong dan langsung menuju ke mobil majikan perempuan. Selama berjalan, beberapa ia menelpon, padahal sudah tau bahwa aku dikasih tau tempat dia parking mobilnya. 

Begitu melihat mukaku, majikan perempuan langsung nanya.

"Kamu ngapain masuk ke apartment itu?"

Tentu saja aku planga-plongo, gak ngerti apa yang dia maksud. 

"Apartment mana?" 

"Maksudku kamu tidak memberikan sesuatu ke orang yang ada di dalam bangunan itu? Dia bilang kamu masuk ke apartment itu dan mengasihkan barang," 

Panas kepala berbie. Uasuuuu tenan tuh supir. Rupanya melihat aku membawa kantong besar, otak sintingnya langsung bereaksi, dan ngadu sesuka wajah jeleknya. 

Karena kesal aku pun menjawab gini " Hasbunallah wa ni'mal wakil. Kamu pernah bawa aku umroh, kalau aku bohong Allah tak akan diam," 

Mungkin karena sikonku sudah mirip banteng mau nyeruduk, majikan perempuan cepat-cepat bilang gini, "Wallah bukan dia kok yang ngadu, tapi hindi yang di JEP putih,"

"Lah emang dia kenal sama aku? Iseng bener dan beraninya juga pake ngomong sama kamu? Mau ikutan bohong?"

Dia diam. Beginilah keadaannya saat aku menjaga diri. Terutama saat mencoba mempertahankan apa yang seharusnya dipertahankan. Ketika mulut laki mirip jubalah saja dengan sombongnya ngoceh tentang para perempuan Indonesia ( TKW ) yang bertebaran dan tipis imannya. Bisa ditiduri dan dikencani dengan imbalan pulsa dan sebagainya. Maaf kali ini kesannya kasar, tapi memang aku tidak suka sama wanita yang lupa diri berada di negara orang, dijinjing si ini mau, dikencani gentong sampah saja bangga sampai diceritakan kepada selauruh teman yang dijumpainya, lupa status di kampung cucunya udah berojol, masih berstatus istri dsb. 

Itu sama sekali bukan karena kamu cantik mbak-mbak, tapi something error in your brain! 

Saturday, 28 February 2015

Sudah Lama Tidak Pulang

Ini rumahku, sedikit kotor setelah lama tak aku periksa.
Ada rindu yang menggebu untuk menuliskan seribu kisah yang terlewatkan.
Kekaguman, kebencian, bersatu padu
Membuatku hilang kendali
Menyerukan kebodohan pada setiap penjuru duniaku yang sempit
Yang tanpa kebodohanku pun aku sudah tak ada artinya

Tuhan, aku memang mahluk paling lemah
Lelahku berlebihan, melebihi kekuatan yang engkau berikan
Egoku tinggi, melebihi kekuatan do'aku yang tak seberapa
Tolong rengkuh aku sekali lagi.,
Aku tak ingin mengeluh lebih lama lagi


Z.s KWI 280215.

Tuesday, 20 January 2015

♫♥ My love ♫♥Giovanni Marradi Dedicated to J.R. Nando.





Kau tau? Bahwa setiap baris kalimat yang pernah aku keluarkan di muka bumi ini, belum ada satu pun yang aku sampaikan di depanmu, tapi rasanya aku sudah kehilangan kata-kata.

Malam tadi, sungguh takjub rasanya melihatmu menuliskan kisah-kisahmu untukku. Demi sebuah keinginan untuk menjadikannya sebuah kisah abadi yang mungkin bisa menjadi kenangan paling indah untuk mereka yang terlahir karena kita. Bukan aku memaksakan takdir untuk hidup bersamamu, tetapi memang hatiku ingin sekali menerima anugerah itu.

Kau tahu, aku kehilangan kata-kata ... ketika melihat betapa kamu berusaha menjadi yang terbaik untukku.


Just My Beginning, InsyaAllah :)

Sudah lama tak berceloteh di sini. Rumah yang dulu menjadi tempat berlatih setiap hari. Berlatih memainkan jari mengetik aksara demi aksara. Aku ingin menjadi seseorang. Seseorang yang membuat manfaat bagi orang banyak, meskipun itu hanya dengan tulisanku.

Mimpiku semenjak kecil adalah jadi penulis. Penulis yang tidak hanya membuat kisah-kisah yang tak pernah ada. Tak sekedar menulis dongeng yang tak pernah nyata. Tak hanya menuliskan cinta sejati yang berujung bahagia. Aku ingin menulis sesuatu yang bisa mengubah kelam menjadi cerah, mengusir hitam menjadi semburat senja yang banyak dirindukan manusia.

Pertama kali menulis, aku memang membuat banyak kesalahan sehingga banyak komentar negatif yang aku  terima. Kurangnya wawasan dan juga dangkalnya ilmu yang aku miliki menjadi salah satu faktor besar tidak bagusnya karya yang lahir. Tak hanya itu, ketidakpercayaan terhadap diri sendiri pun memicu makin merosotnya nilai-nilai yang penting untuk dituangkan kedalam tulisan.

Namun ada hal yang lebih penting dari pada itu, yaitu kekuatan niat dan besarnya harapan untuk tetap maju, tetap mencoba meski gagal dan gagal lagi. Tetap melangkah meskipun kerikil muncul di sana sini, di setiap ruas jalan yang sedang ditempuh.

Jujur, andai saja kekuatan niat dan harapanku hanya secuil, mungkin pada saat ini belum ada yang mampu aku sebut hasil. Pasti hanyalah omong kosong yang memuakan orang lain dan untuk diri sendiri juga membosankan.

Sebagai awal dari langkahku, aku bersyukur dengan lahirnya antalogi pertama yang langsung bisa mejeng di Gramedia seluruh Indonesia. Salah satu hal yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Jika aku yang dulu sempat diremehkan, disepelekan, bahkan dianggap ngigau, hari ini mampu membuka sayap yang dan mengepakannya perlahan.

Ayoo, kamu pun pasti bisa! ;)

Kuatkan niatmu, besarkan harapanmu ... majulah! Jangan mempedulikan tantangan sebagai penghambat kesuksesanmu.

Zahraa Senja-- Just my beginning 


Sunday, 18 January 2015

Caitlin Hart - Use Me (Unplugged Version)









Use Me 


I can hear it now, that waiver in your voice 
It tells me everything, it tells me everything
I can feel it now, the panic on your skin 
It tells me everything, it tells me everything

Its struggle in my pain, it's the poison in my stars
Its the feeling inside, covering my scars 
You won't choose me, so I'M LETTING GO
You just use me, so I'M LETTING GO 

You can't take it, when I turn my back 
And I don't know how, to cut your more slack 
And I could fake it, and let you fall of track 
You never had a choice , you never had a choice 

In the struggle in my pain, it's the poison in my stars
It'st the feeling inside, covering my scars 
You won't choose me, so I'm letting go
YOU JUST ME, SO I'M LETTING 


SO I'M LETTING GO 

Friday, 16 January 2015

Dear people

Nearly midnight here, with winter wrapping my body. I just get tired and bored.
Its almost six years, I'm waiting for the right time to take good decision after this.
I surely wish a good life, and staying like this not because I'm like it. Never was. I just accept it as a lesson, so ... I need to have a last exams and starting a new line.


Sometime. its hard to believe that I lost almost all my time for nothing.
But therefore, a light like a second shun shine didn't make it all wrongs. I still get another way to get some of my best wishes.

God, I'm asking you, just give me strength more and more, again and again.
I'm promise I'll never give up!

Wednesday, 14 January 2015

MEGA EVENT GRIYA LOVRINZ AND FRIENDS

Hallo Sahabat LovRinz ...!
Semoga kebaikan selalu bersama sahabat semua. Kali ini LovRinz akan mengadakan event yang dijamin pasti kereeeeeeeeen!

Mau tau seperti apa eventnya? Yukk, sama-sama kita intip! 

BERIKUT KATEGORI-KATEGORI YANG KAMI MASUKKAN DALAM EVENT MENULIS INI:

NASKAH NONFIKSI

Syarat dan Ketentuan Umum Naskah Nonfiksi:

1. Kategori naskah How to, Motivasi, Sitkom. Segmen teenlit atau young adult (pilih salah satu). Tidak mengandung SARA. Naskah adalah karya asli peserta, bukan sanduran dan tidak sedang diikutkan dalam event lainnya.

2. Gunakan bahasa yang ringan dan harus memuat nilai-nilai inspiratif di dalamnya.

3. Tema menarik, up to date, unik, & dibutuhkan pembaca masa kini.

4. Berlaku dari tanggal 1 Februari 2015-30 Juni 2015

5. Satu orang hanya boleh mengirim satu naskah untuk masing-masing kategori (jadi manteman boleh ikutan kategori non fiksi atau fiksi sekaligus. Tapi masing-masing hanya satu naskah ya.)

6. Naskah ditulis dalam kertas ukuran A5, Font Times New Roman 12, Spasi 1 ½, Format MS Word atau Adobe Reader.

7. Panjang keseluruhan naskah antara 250 - 350 halaman(sudah termasuk biodata + sinopsis naskahmu).

8. Tema bebas.

9. Kirim naskahmu ke novelnonfiksi.lovrinz@gmail.com cc redaksilrph@lovrinz.com dengan subjek #MGENonFiksi_judul naskah_ Nama penulis atau nama pena(badan email biarkan kosong. File naskahmu diattach, ya)

10. Peserta diwajibkan LIKE fanpage Griya LovRinz and Friends dan follow Twitte @Griya_LRF @SuEffIdris @SkeMaCin

11. Buat status di wall FB-mu(tag Griya LovRinz and Friends, Rina Rinz, SuEff Idris, Dandelon Ohara, Damar Hening Sunyiaji dan tag 20 orang teman FB-mu) serta tweet yang isinya “Bang gue udah kirim naskah lomba nonfiksi, ya. Retweet kalau sudah nyampe” cc @Griya_LRF @SuEffIdris @SkeMaCin @DamarHening

NASKAH FIKSI

Naskah fiksi novel remaja (Teenlit) atau Young Adult(pilih salah satu)

Syarat dan Ketentuan Umum Naskah Fiksi:

1. Karakter naskah novel umum. Segmen teenlit atau young adult (pilih salah satu). Tidak mengandung SARA. Naskah adalah karya asli peserta, bukan sanduran dan tidak sedang diikutkan dalam event lainnya.

2. Gunakan bahasa yang ringan dan harus memuat nilai-nilai inspiratif di dalamnya(style novel tentunya)

3. Boleh setting dalam dan luar negeri.

4. Berlaku dari tanggal 1 Februari 2015-15 Juli 2015

5. Satu orang hanya boleh mengirim satu naskah untuk masing-masing kategori(jadi manteman boleh ikutan kategori non fiksi atau fiksi sekaligus. Tapi masing-masing hanya satu naskah ya.)

6. Naskah ditulis dalam kertas ukuran A5, Font Times New Roman 12, Spasi 1 ½, Format MS Word atau Adobe Reader.

7. Panjang keseluruhan naskah antara 350- 450 halaman(sudah termasuk biodata + sinopsis naskahmu).

8. Tema bebas.

9. Kirim naskahmu ke novelfiksi.lovrinz@gmail.com cc redaksilrph@lovrinz.com dengan subjek #MGEFiksi_judul naskah_ Nama penulis atau nama pena(badan emil biarkan kosong. File naskahmu diattach, ya)

10. Peserta diwajibkan LIKE fanpage Griya LovRinz and Friends dan follow Twitte @Griya_LRF @SuEffIdris @SkeMaCin

11. Buat status di wall FB-mu(tag Griya LovRinz and Friends, Rina Rinz, SuEff Idris, Dandelon Ohara, Damar Hening Sunyiaji dan tag 15 orang teman FB-mu) serta tweet yang isinya “Bang gue udah kirim naskah lomba fiksi, ya. Retweet kalau sudah nyampe” cc @Griya_LRF @SuEffIdris @SkeMaCin @DamarHening

Penjurian:

1. Maksimal penjurian akan dilakukan selama 2 bulan setelah penerimaan naskah terakhir.

2. Juri akan memilih 1 novel terbaik untuk masing-masing kategori dengan hadiah sertifikat + uang tunai untuk masing-masig pemenang sebesar Rp, 1,000, 000, 00 + paket buku bukti terbit dan kontrak penerbitan. Kedua novel terebut akan diterbitkan secara mayor, dan tentu pasti seneng dong jika nama teman-teman yang menang di lomba ini mejeng di toko buku.

*Syarat dan ketentuan berlaku.

3. Semua naskah yang dikirimkan otomatis kami anggap setuju dengan segala prosedur yang kami terapkan. Naskah yang dikirimkan tidak boleh sedang diikutkan event lain, atau terikat dengan pihak mana pun, atau pernah dipublikasikan, termasuk di sosmed seperti blog atau FB.

4. Penjurian terakhir untuk sepuluh besar masing-masing kategori akan dilakukan oleh seorang penulis ternama di Indonesia. Jadi, jangan lewatkan kesempatan ini.

5. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

Nah, tunggu apalagi? Ayo liarkan imajinasimu, lincahkan jemarimu untuk Mega Event Griya LovRinz and Friends. Kami menanti karya terbaik dari sahabat semua.

Salam Pena

PL Event : SuEff Idris, Dandelion Ohara, Damar Hening Sunyiaji

KETERANGAN: Event ini perpanjangan dari event sebelumnya yang DL tanggal 13 Januari 2015 karena naskah yang masuk kurang. Adapun naskah yang sudah masuk akan kami ikut sertakan ke mega event ini. Apabila ingin melakukan revisi diperkenankan.

Terima kasih.