Ketika alasan untuk berpisah adalah alasan yang dicintai Tuhan ...
Percayalah ... cinta itu masih seindah yang seharusnya, meskipun dari dua cinta yang terpisah.
Jessica masih termenung, kata-kata orang tuanya menghantui pikirannya sejak minggu lalu, ketika hubungan dengan Taufik akhirnya diketahui oleh keluarga dan serta merta mendapat larangan. Rasanya ia ingin menangis ... mengapa harus dijadikan persoalan? Bukankah tujuan manusia itu sama dalam beribadah? Tujuannya satu, yaitu Sang Maha Pencipta.
''Jess, sebaiknya kamu jauhi lelaki itu. Dia itu muslim, sayang! Beda kepercayaan sama kita, dan Papa sama Mama gak mau kamu pindah agama ataupun kamu membuat orang lain murtad meninggalkan ajaran dan agamanya!'' Ujar Pak Hartono saat mengetahui Jessica masih menjalin hubungan dengan Taufik.
''Tapi Paa ...!'' Jessica menyela, ''Jessica sudah terlalu cinta sama dia Paa ... "
''Jessica sayang, apa artinya cinta jika membuat murka Tuhanmu?''
''Tapi Paa ...,''
''Sudahlah Jess, tolong mengerti, kamu sudah dewasa, dan ini bukan masalah sepele. Bukan masalah miskin atau kaya, baik atau jahat. Ini masalah kepercayaan. Tolong mengerti ya sayang. Demi kebaikan keluarga kita di mata semuanya.'' Pak Hartono bangkit dari duduknya, kemudian berlalu meninggalkan Jessica bersama Ibu Hartono yang sejak tadi hanya terdiam.
Sepeninggal papanya, Jessica memeluk sang bunda sambil tersedu.
''Maa ... haruskah seperti ini? Jess sangat mencintainya Maa ... Jess rela melakukan apapun!'' Air matanya membasahi kedua pipinya yang putih mulus, wajahnya sembab, ada duka mendalam di wajah cantiknya.
''Maafkan kami ... maafkan Mama, sayang. Tapi apa kata Papa itu benar, sayang. Semua demi kebaikan kamu, dan keturunan kamu juga. Kamu tahu kan, Papa mu itu Pendeta. Bagaimana omongan orang lain jika kamu memilih menikah dengan lelaki yang di luar agama kamu, dan leluhurmu?''
''Tapi Maa ...!''
''Sayang, lelaki itu bisa saja mengikutimu atau bahkan kamu mengikutinya, tapi kalian akan dimurkai Tuhan. Kami tidak ingin semua itu terjadi kepada kamu maupun terhadap dia!''
Bu Hartono mengusap-usap rambut Jessica. Jessica masih menangis, perih hatinya menerima anugerah cinta yang tak seindah yang dibayangkan. Luka menganga, darah mulai mengucur. Terbayang betapa manisnya setiap lembaran yang telah ia tulis dengan cerita bersama Taufik. Lelaki bersahaja yang membuatnya jatuh cinta dan merasa lebih hidup. Hari-harinya semakin berwarna setelah mengetahui bahwa Taufik merasakan hal yang sama. Hingga janji demi janji pun diucapkan tanpa menghiraukan perbedaan.
Apakah mungkin semua ini mutlak cinta yang murni? Atau karena usia mereka masih terlalu muda untuk mengerti seberapa jauh perbedaan mereka. Jessica maupun Taufik masih bertahan saling mengisi hari meski mereka tahu betul mereka berbeda kepercayaan dan tak mungkin hubungan mereka direstui kedua belah pihak orang tua.
****
Jessica menyusuri jalan setapak ditaman itu, taman yang mempertemukan dia dengan Taufik. Tiba-tiba matanya tertuju kepada sesosok yang sangat ia kenali, bahkan selalu ia rindukan.
''Tuafik ...!!'' Panggil Jessica, ketika jarak dengan lelaki itu semakin dekat. Lelaki itu berbalik ke arah suara, kemudian secepatnya berlari kecil menyambut kedatangan Jessica.
''Taufik, kamu sudah lama ya nunggu aku?'' Tanya Jessica ketika tangannya sudah berada dalam genggaman erat pemuda itu.
''Enggak kok, Jess. Ngomong-ngomong muka kamu kok pucat banget, kamu sakit ya?'' Tanya Taufik sambil memperhatikan wajah kekasihnya itu dalam-dalam.
''Ahh, enggak kok Fik! Aku baik-baik saja,'' Jessica mencoba tersenyum, mencoba memudarkan kesedihan di wajahnya, namun tetap saja, senyum getirnya sudah tertangkap makna oleh Taufik.
''Kita duduk di sana yuk! Biar bisa santai, aku yakin kamu kecapean,'' Taufik menuntun tangan Jessica menuju bangku taman yang ada di dekat danau. Jessica hanya menurut saja, langkahnya semakin tak pasti, hatinya mulai meracau memaki takdir cinta yang harus dia terima. Ia tak sanggup jika harus kehilangan Taufik, tapi ia pun tak mampu dan tak kuasa menolak ucapan orang tuanya.
''Nah, kalau begini lebih santai, ya kan? Cerita-ceritanya sambil duduk ... '' Taufik tersenyum, semanis biasanya. Jessica hanya mampu menahan getir, hatinya memberontak kuat namun bibir hanya mampu diam. Menikmati saat-saat terakhir ia menjadi kekasih Taufik, sebelum akhirnya ia harus pamit. Pamit dari kehidupan lelaki yang selama ini membahagiakannya, demi agama dan kepercayaannya.
''Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu,'' ujar Jessica pelan, suaranya bergetar. Pandangannya menerawang ke tengah telaga yang dalam.
''Soal apa itu Jess,?'' Taufik menatapnya tajam, ia mulai mengerti ketika bulir-bulir permata jatuh bergulir diwajah cantik kekasihnya itu. Bahwa ini masalah serius, hingga membuat Jessica menangis dari awal pembicaraan.
''Hu--hubungan kita, Fik. Kita harus pu--putuss!'' ujar Jessica terbata. Taufik hanya termangu, wajahnya murung seketika, pandanganny beralih mengikuti tatapan kosong mata Jessica.
''Aku mengerti.'' desis Taufik, ia memang tak menangis, namun suaranya terdengar sangat berat di telinga Jessica. ''Kamu? Benarkah?'' Jessica bergumam tanpa melihat ke arah Taufik.
''Iya aku mengerti, Jess-- , bahkan jauh-jauh hari semenjak hari pertama kita bersama pun aku sudah berjanji, untuk mengerti jika cerita kita tak berakhir bahagia.''
''Lalu ... kamu setuju dengan keputusan yang harus kita hadapi?'' Jessica kembali bertanya.
Taufik mengangguk pelan, tersenyum pahit.
''Bagaimana pun alasan orang tuamu benar, begitupun keduan orang tuaku. Tapi percayalah, cinta kita selama ini tidak salah. Keadaan yang memutuskan semua, dan semua demi kebaikan kita.'' jelas Taufik sambil membalas tatapan mata kekasihnya itu.
Jessica tak kuasa menahan diri, runtuhlah sudah kekuatannya, ia menangis dalam pelukan lelaki yang sebentar lagi bukanlah siapa-siapanya dia.
''Maafkan aku Taufik, aku tak bisa menepati janji aku sama kamu!''
''Maafkan aku juga Jess, janji ku pun sama, tak bisa aku tepati. Kita akhiri semua ini dengan baik-baik saja ya. Cinta kita semoga kelak bersama di Surga-Nya, dimana tidak ada lagi perbedaan yang bisa memisahkan cinta sejati.''
Keduanya masih berpelukan, masih menangis, saling melepaskan segala rasa yang mungkin akan tertinggal dan membenani kedua jiwa yang tak ingin berpisah namun takdir berkata lain. Keduanya sadar jika perbedaan mereka sangatlah berat, melebihi masalah perbedaan kasta dalam cerita-cerita cinta lainnya.
Keduanya berpisah atas kesadaran, tanpa saling menyalahkan dan merasa tersakiti. Karena sebenarnya cinta adalah anugerah Tuhan untuk siapapun insan di dunia ini. Tak ada pengecualian manusia, kecuali ketika Tuhan sendiri yang mengatakan 'harus berpisah'.
Jessica tahu betul ajaran agama dan kepercayaannya, begitupun Taufik sangat mengerti dengan apa yang seharusnya ia lakukan dalam agamanya perihal pasangan hidup. Dengan tersenyum mereka akhirnya berpisah, memilih jalan masing-masing yang lebih di ridhai Tuhan.
--Posted in KKIMS by Zahraa Nurie--