Tak ada lagi semangat kerja seperti saat Ibu masih ada. Serasa gak punya target apapun, tak ada lagi biaya-biaya yang biasanya selalu buat aku semangat dan bertahan dengan pekerjaan yang sekalipun sudah berada pada titik paling jenuh. Tak ada lagi catatan-catatan keuangan yang biasanya tersusun rapi. Sepertinya uang tak berharga seperti saat Ibu masih ada.
Bahkan sempat-sempatnya berpikiran '' Aku ini wanita, nabung banyak-banyak buat apa? Bahagiain pacar? atau calon suami? Gak banget!!!Buat biaya nikah? hah ... serius aja, kalau dia ngajak nikah berarti dia siap dengan segala biaya. Aku kan cewek, harusnya menerima, bukan memberi. Buat masa depan kalau sudah bersuami? Kan ada suami ... tinggal suruh dia yang kerja,toh itu kewajibannya. Buat pergi liburan? Kalau cuma sendirian , kan gak seru ... mau ngajak orang lain, malas bener entar suruh bayarin."Lucu juga saat alasan-alasan diatas muncul. Menambah malas bekerja, bahkan mikir-mikir mending gak kerja sekalian. Buat apa ..., duniaku seperti berakhir. Uang seperti gak ada gunanya. Urat sadar masih belum sepenuhnya lurus, persendian nikmat saat berkecukupan tanpa membebani orang lain sepertinya masih sakit dan bermasalah. Dan untuk sadar bahwa hidup ini masih indah dengan berbagi ke sesama masih sulit.
Namun perlahan aku coba bangkit dari kesedihan, aku tak tahu ini tak benar. Ada banyak hal yang mesti aku pikirkan, salah satunya adalah Ayah tercinta. Aku masih punya tanggung jawab sebesar tanggung jawabku terhadap almarhumah Ibu. Aku harus berjuang tetap seperti dulu, semangat yang sama saat keduanya masih berdampingan. Bahkan kini aku lebih semangat untuk membahagiakannya dengan keinginan terakhir mereka yang tak sempat Ibu saksikan. Aku ingin menikah :) dan mulai memikirkannya.
No comments:
Post a Comment