Wednesday, 3 September 2014

Catatan Malam

Part of; On the Way Twenty Five


Hai malam yang panjang, ingin kusampaikan kegelisahanku saat ini. Kegelisahan yang tak seharusnya aku besar-besarkan setelah apa yang Allah berikan kepadaku. Kau tahu dan aku sadar, bahwa Tuhan begitu baik padaku. 

Malam ini aku kembali merasa diserang kejenuhan yang teramat besar. Mulai bosan dengan rutinitasku yang monoton serta hidup yang aku rasa tidak ada kejelasan. Tiba-tiba aku merindukan aku yang dulu, yang penuh derita namun tak pernah aku publikasikan. Hanya pena yang menodai kertas sebagai bukti bahwa dulu aku pernah hidup dalam gelimang luka dan perih yang tak mungkin orang lain rasakan. 


Entah bagaimana dulu aku bisa sesabar itu, terbaring di sehelai kasur lapuk dan sebilah selimut tipis dalam ruangan pengap dan kecil tanpa seorang pun teman bicara. Hanya tinta dan pena yang menemani. Menghapus garis-garis kesedihan di wajahku dengan menciptakannya menjadi untaian kata yang tertulis di buku harian. Usiaku pun masih remaja, namun kerasnya hidup tak memberikan kesempatan kepadaku untuk mengeluh dan menolak atau setidaknya bertanya '' Mengapa harus aku? Mengapa tidak gadis lain saja, karena seharusnya Engkau tahu cita-citaku dan merestuinya. Ya Allah mengapa Engkau tak adil?'' 

Menangis bukanlah lagi kebiasaanku. Karena tak pernah air mata yang kutumpahkan sejadi-jadinya memberikan sebuah jalan keluar dari deritaku. Tapi entah mengapa saat itu aku semakin kuat, meskipun seolah ujian dari-Nya belum harus terhenti, terus bertubi menghujani duniaku. 

Tubuh kurusku dan semua tentang kepahitan itu kembali terbayang kini, saat aku mulai jenuh dengan segala yang berhasil kuraih dan kumiliki, namun masih aku menganggapnya hanya kebetulan saja. Karena sebenarnya yang aku mau bukanlah ini. Tapi hal lain yang memang mungkin tak akan pernah aku dapatkan. 


Hingga akhirnya aku tersadar bahwa, Allah itu Maha Kuasa atas segalanya yang ada di muka bumi ini. Pun begitu dengan derita yang selama ini kuanggap adalah takdir ternyata hanyalah ujian, ketika aku kuat menahannya dan tetap melangkah tibalah jua aku kesaat ini. Saat-saat di mana aku hampir mendapatkan semua yang aku impikan, namun aku tak jua bersyukur. Hingga perlahan cobaan kembali berat kurasakan, perlahan orang-orang yang kukasihipun menghilang, salah satunya adalah Bundaku, seseorang yang paling berharga dalam hidupku, penyemangat bahkan bagaikan urat nadiku. Tanpa nya kini aku serasa mati.

Ya Allah, ternyata apa yang dari-Mu kepada-Mu lah semuanya kembali. Kembalikan pula aku pada-Mu saatnya nanti. 

No comments:

Post a Comment