Inggit terbangun malam itu, suara gaduh dari kamar Papanya terdengar nyaring di tengah kesepian malam. Dengan tergesa-gesa Inggit keluar dari kamar dan mngendap menuju ke kamar orang tuanya. Kemudian berdiri di depan pintu yang tertutup rapat. Tapi suara keduanya terdengar jelas.
“Seharusnya kamu tau kalau itu sudah jelas-jelas di luar batas! Kamu keterlaluan, Mira!” terdengar suara Papanya dengan nada tinggi. Padahal Pak Indra terkenal pria yang lemah lembut.
“Kau bilang itu salahku? Ooo ..., tidak! Kamu yang tidak tau di aturan. Itu sudah jelas milik kita! Kenapa masih kamu biarkan diambil seenaknya sama adikmu itu?”
“Diam kamu! Jangan sok tau!”
“Aku tidak akan diam! Selama kamu masih gila ..., aku tidak akan diam!”
Inggit tertegun di depan pintu kamar, mendengarkan semua pertengakaran dua insan di dalamnnya. Nafanya seperti tersenggal batu. Ia merasa sesak. Inggit paham apa yang selalu jadi bahan keributan di antara mereka. Cuma karena sebuah rumah tua peninggalan Nenek, yang kini ditinggali oleh adik satu-satunya Papa.
Setelah beberapa menit, Inggit membalikan tubuhnya dan kembali ke kamar.
**
Esoknya, Inggit bangun seperti biasanya. Bi Imah sudah menyiapkan sarapan. Inggit mendapati Papanya sudah rapi untuk berangkat ke kantor.
“Selamat pagi, Pa,” sapa Inggit dengan senyum manis seperti biasanya. Setelah mengecup kening Papanya, Inggit segera duduk di kursi sebelahnya. Sama sekali Inggit tidak mau pria itu tahu, jika semalam ia menguping pertengkaran mereka.
“Pagi sayang, ayo kita sarapan bareng,” jawab Papanya.
“Mama mana, Pa? Kok gak sarapan sama kita?” tanya Inggit
“Mungkin dia masih tidur. Sudahlah, kamu sarapan saja ..., jangan sampai telat ke sekolah.”
Inggit menurut. Ia secepatnya mengambil makanan dan dengan lahap memakannya. Untuk lebih mencairkan suasana, Inggit segera membicarakan beberapa kegiatannya di sekolah kepada Pak Indra. Hingga sarapan pagi selesai dan Pak Indra berangkat ke kantor, Inggit pun bersiap ke sekolah.
“Non, Pak supir sudah menunggu. Non sudah siap? Tas sudah bibi masukan ke dalam mobil,” lapor Bi Imah. Inggit keluar dari dalam rumah diantar Bi Imah.
“Bi, Mama kemana?” Bisik Inggit sebelum masuk ke dalam mobil. Inggit melihat ke sekeliling halaman yang luas itu, dan mobil kesayangan wanita itu tak ada di tempatnya.
Bi Imah meringis, lalu dengan setengah berbisik menjawab.
“Nyonya subuh-subuh sekali keluar, Non. Bawa koper segala. Bibi tak tahu mau kemana, takut mau bertanya juga, kayaknya nyonya lagi marah.”
Inggit mengangguk-angguk. Rupanya itulah kenapa pagi-pagi Bu Mira tak kelihatan. Inggit tak berkata lagi, ia masuk ke dalam mobil untuk diantarkan ke sekolah.
**

“Kamu serius, Mir? Astagfirullah Mir, nyebut Mir ..., nyebut!” Rani membuatku heran. Baru kali ini curhatanku dijawab dengan seperti itu.
“Nyebut apaan Ran? Aku sudah nekad kok, kalau dia tak mau mengambil rumah itu dan membaginya sesuai hak masing-masing aku akan mengajukan permintaan cerai!” jelasku lagi.
“Kamu kurang apa, Mira? Suamimu kaya, pekerjaan bagus, direktur lho! Anak tirimu juga anak yang baik tak pernah macam-macam bahkan menyayangimu. Apa yang kamu harapkan dari rumah itu?”
“Tapi tetap Ran, ada uang Indra di sana. Uang suamiku dan uangku juga!” Aku bersikukuh.
“Lebih baik kamu bersyukur deh, Mir! Gak usah pake kabur-kaburan segala. Pulanglah Indra pasti khawatir.”
Aku tak bisa banyak bicara lagi. Rani kali ini seperti bukan sahabatku lagi. Perkiraan akan mendapat support malah menambah kesal dan amarah. Aku keluar dari flat Rani, tujuanku tentu saja bukan ke rumah, tapi ke mana saja asal dapat ketenangan.
Kupacu mobil dengan kecepatan tinggi, dengan hati yang penuh kekesalan dan otak yang panas, aku tak peduli dengan keadaanku. Hingga pada sebuah tikungan aku tak mampu lagi mengendalikan mobilku yang meluncur bagai anak panah. Hanya dalam hitungan menit, sebelum aku lupa diriku yang berdarah-darah terhimpit mobil yang sudah terbalik.
**
“Ya Allah berikan kekuatan kepada hamba untuk menerima semua ini, semoga ini menjadi pelajaran bagi hamba dan Mira,” bisik hati pak Indra saat mendorong kursi roda yang diduduki istrinya yang kini tak berkaki.
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku.“(QS. 2:152)





