Kuwait, 00:54 am
Catatan tengah malam.
Kangen Ummiku, tak terasa air mata merembes, tak diundang dan alasannya terlalu banyak untuk kuat agar tidak menangis. Mulai dari chating dengan seorang pemuda yang menulis status tentang salah satu keluarganya yang sedang sakit parah. Dia mengkhawatirkan anak-anaknya yang masih kecil.
''Percayalah dek, rezeki mereka sudah Allah atur. Mereka tidak akan terlantar, salah satunya kan ada kamu.''
Mudah rasanya mengatakan semua itu, tanpa disadari bahwa selama ini aku sangat takut kehilangan Ibuku, meskipun aku sudah sebesar ini. Bahkan sudah bisa meninggalkan beliau sampai ke luar negeri. Adalah benar, jika menasehati itu mudah, berbeda jika kita sendiri yang harus melakukan nasehat itu.Ya Allah ... tolong sembuhkan Ibuku.
Selepas isya, aku mencoba mengubah rutinitas malamku. Aku ingat seorang teman memberikan Juz Amma beberapa bulan lalu. Dengan malu-malu ... memang hanya sekali aku sentuh, malam ini izikanlah ... aku harus mendapatkan beberapa jawaban tentang kehidupan ini.
Tapi suasana tak setenang yang aku mau, kedua temanku asyik cekikikan dengan teman mereka lewat video call. Sebagai inisiatif, aku nyalakan laptopku, maksud hati hanya ingin mendengarkan ayat-ayat suci yang banyak ada di Youtube.
Begitu laptop menyala ... terdengar suara adzan yang khas, suara adzan yang dulu tak pernah lekang tiap hari dari telinga. Muadzin di tanah air, tengah malam ini suaranya meyapa telinga. Rupanya selepas nonton sinetron CHSI via tv online aku lupa mematikan program. Ya Allah ... yang
di tanah air pasti tahu, adzan subuh di RCTI itu video nya seperti apa. Tentang Ibu. Ya ... lagi-lagi tentang Ibu. Tak ayal ... air mata tambah deras, bayangan tentangnya semakin jelas.
di tanah air pasti tahu, adzan subuh di RCTI itu video nya seperti apa. Tentang Ibu. Ya ... lagi-lagi tentang Ibu. Tak ayal ... air mata tambah deras, bayangan tentangnya semakin jelas.
'Assolatu khairum minnan naum' ---- Dulu sekali ... enam belas tahun yang lalu, dengan senter kecil yang Bapak berikan, kami ( aku, sepupu, dan kawan ) berlarian melewati embun yang masih bergelayut di rumput pematang sawah, menuju mesjid. Bahkan kami akan selalu takut ... jika datang dan langsung mendapatkan pertanyaan pak ustadz ,
''Bagusss ... kalian terlambat, siapa yang seharusnya adzan pagi ini?''
Kami semua akan diam, dan aku sepulangnya ke rumah pasti akan langsung mengomel, anak perempuan memang tidak harus adzan tapi datang sebelum adzan itu pahalanya tinggi, begitu kata pak Ustadz.
''Ummi bangunin aku telattttt ... ustadz marah lho.''
Namun kini, setelah masa demi masa ... apa yang dulu kuingat perlahan terlupa, dan yang tak ingin kedengar, kulihat, kualami seperti tak pernah lelah mengganggu.
Ya ALLAH ... andai aku boleh meminta, dan bisa memilih. Aku hanya ingin seperti masa kecilku, dibangunkan teriakan Ibu dan lari ke mesjid ... ditemani panggilan suci yang membuat damainya subuh, dan jika aku boleh membenci ... aku jenuh dengan saat ini, saat bangun dengan kepala pusing, subuh berlalu, dan orang-orang yang berhati abu-abu menyapa.
Mii ... aku rindu,
--Zahraa--
https://www.facebook.com/amore.Gleenda
No comments:
Post a Comment