Cinta yang bersemi di tempat yang salah.
Bukan mauku, kanda. Semua terlahir begitu saja, tanpa dipinta apalagi diundang. Senyum manis dan tutur lembutmu seharusnya kusalahkan, namun aku tak mampu ... sebab itulah kekuatanku selama ini. Wahai permaisuri kerajaan cinta ... maafkan aku yang telah menjadi selir cinta diantara kalian.
''Sudah selesai, dinda?''
Engkau melirik ke arahku yang masih asyik mengetik. Mau tak mau, kubalas senyum manismu. Senyum yang hampir datang di tiap malamku. Tak pernah kupikirkan bahwa sebenarnya senyum itu telah menjadi milik seseorang. Wanita yang memanggilku 'dik' walaupun hanya sekali.
''Besok-besok saja lagi menulisnya, sudah sore nih. Kuantar pulang ya,'' tanpa basa-basi Engaku mengambil laptopku, di save-nya tulisan yang sudah kuketik tadi. Seakan jawabanku tak penting, namun setiap pemaksaanmu yang mesra dan peduli seperti ini semakin membuatku tergila padamu.
''Aku bisa pulang sendiri kok,'' ujarku, seraya membereskan beberapa kertas yang berserakan di meja.
''Mau diculik ya.?'' Godamu, sambil tersenyum.
''Ih, kok gitu? Nakut-nakutin aja ah!''
''Serius. Wanita cantik dilarang pulang sendirian, apalagi sudah sore begini.''
''Yang menyuruh nyelesein naskah hari ini, siapa?''
''Saya, Nona. Makanya saya harus bertanggung jawab!''
Ahh ... andaipun harus setiap hari pulang hampir senja, aku mau. Demi engkau... pemuda yang selalu membuatku rindu. Meskipun aliran karya sastra yang kita suka berbeda, namun debat denganmu adalah moment paling indah dalam hari-hariku. Kau tahu? Setiap hari aku mencoba memandang bulan, seperti yang kau ajarkan. Sayangnya ... tak ada satupun kata yang bisa kurangkai untuk menggambarkan betapa berharganya engkau untukku, pangeran cintaku.
Sepanjang jalan, setiap hari ... kau selalu membawaku menyusuri pematang ini. Luasnya hamparan sawah bak harapanku, yang selalu ingin memiliki engkau seutuhnya. Angin sore yang mendesis lirih di saat tubuhku bersandar dipundaknya, selalu dan selalu berbisik, ''Cemburulah! Katakan padanya, jangan menemui mawar putih itu lagi.''
''Kamu memikirkan apa sih?'' Tanyamu, menggeggam tanganku. Aku harusnya menepiskan, apa daya ... cinta itu sudah terlalu dalam. Bahkan aku selalu merindu, bertanya-tanya apakah tangan mulus itu tengah digenggamnya saat kau tak di sampingku?
''Tak ada yang kupikirkan kok, Mas. Sore yang indah aja, sayang kalau dirusak dengan kata-kata tak jelas.''
''Tak jelasnya seperti apa?''
Engkau memang penggoda!! Haruskah bertanya dengan rona wajah seperti itu?
''Sudahlah,''
''Sudah apa?''
''Jangan menggodaku untuk cemburu,''
''Kau sedang cemburu, dinda.''
''Aku Melati, bukan dinda!''
''Dindaaaaaaa ... ''
Merona wajahku yang kembali tersentuh jemarinya. Tuhan, tak usahlah kami akhiri senja ini. Senja di bulan juni yang bermekaran bunga-bunga. Engkau tahu aku salah, tapi Engkaupun merestui cinta ini. Ini buktinya, Engkau tetap ingin aku bahagia. Aku pun hamban-Mu, ikrarku pada-Mu, aku adalah wanita yang akan setia pada lelaki yang Kau kirim kepadaku. Meskipun aku ... adalah yang kedua.
''Biasanya kalian ngobrol dimana?'' Lirih bibir mencoba menahan hati yang cemburu. Aku tahu Engkau santai-santai saja. Pertanyaan yang sering kuulang di saat senja.
''Ya di sini, dinda. Tempat terindah di bulan Juni, bersama menikmati hujan.'' matamu tertuju padaku, senyummu mengembang. ''Lupakan tentang dia, kita nikmati yang ada.''
Dengan mesra Engkau mengapit tanganku, menuntunku meniti setiap ruas pematang sawah. Sesaat terasa indah, tapi ... bukankah ia bersamanya selalu di sini Seromantis ini, bahkan lebih? Haruskah aku diam saja, atau marah?
Aku bagai bulan juni, dengan hujannya yang mendua. Bunga-bunga mekar di dua tempat berbeda ... Mawar - Melati, merah dan putih. Engkau tahu, mengalah itu mudah, bertahan juga mudah. Yang sulit adalah memilih, mengalah atau bertahan? Menjadi juni yang di duakan hujan.
Seindah Engkau menjadi hujan, memberikan jejak harum tanah yang tersiram ... di langitmu pesona pelangi pun mulai mempercantik suasana. Juniku indah ... juniku bermakna ... berair mata dan bimbang.
''Kanda ... bisakah kau memilih?''
Engkau berhenti berjalan, menatapku ... lalu, ''Tuhan memberikan cinta, memberikan pilihan, seterusnya Ia mengatur sebaik-baiknya. Tuhan akan memberikan jawaban, jika engkau bertanya pada-Nya. Percayalah ... Ia mendengar do'amu. Maafkan aku, Dinda ... ''
Kau benar! Aku tak harus mempermasalahkan dengan siapa aku memilikimu.
-Melati;
No comments:
Post a Comment