Tuesday, 4 November 2014

SERONG

Penat kurasakan setelah seharian berkeliling di pasar tradisional hari itu.  Sesuatu yang mesti aku rasakan untuk beberapa hari ini,. Ya sampai aku tahu persis setiap kejadian yang harus aku dokumnetasikan beberapa minggu lagi.
Sebenarnya aku tak mau mmbuat cerita lain, selain tugasku. Tapi aku punya satu ide yang tak bisa aku lupakan begitu saja. Kubuka laptopku, tampilan words tersemyum manis.
Mungkin inilah saatnya sedikit relax dan bersahabat dengan gejolak jiwa.

***

Langkah-langkah perempuan dengan stocking hitam dan sandal hak tinggi itu, berhenti di tepian jalan. Bajunya yang merah menyala dengan sedikit terbuka di bagian dada. Bisa dibilang cantik, namun lebih tepatnya disgusting .

Rambutnya hitam mengkilat, menutup bahu. Ia sedang tersenyum-senyum dengan ponselnya. Entah insan mana yang mengirimkannya pesan. Sepertinya itulah yang membuat dunianya benar-benar hidup. Hembusan angin mengelus rambutnya, dia diam. Sehingga udara pun penasaran, ditiupkannya lebih kencang lagi, rok mininya bergoyang.

Sebuah mobil berhenti, bergegas wanita cantik itu masuk ke dalamnya. Blab!!! Tak ada lagi yang telihat. Hanya sebuah desahan nafas berat tersulut emosi. Sebuah mobil dinas berhasil melarikan seorang wanita muda pada jam kerja. Ini sungguh diluar kendali.

Hari itu cukup sampai di sana saja. Semua masih baik-baik saja.  Nasi terhidang dengan lauk-pauk kesukaannya. Makan malam romantis. Tangan mungilnya cekatan menyeduk nasi ke piring si lelaki berdosa. Tak ada curiga, tak ada pertanyaan. Senyum masih mampu dipalsukan.

"Bagaimana masakanku?'' tanyanya, seperti biasa.

Si lelaki berdosa memainkan sendoknya, setengah mencari-cari kalimat yang tepat untuk dikeluarkan. Memuji, atau sebaliknya. "Enak ...." Seraya menjatuhkan pandangannya kembali ke piring.

"Malam ini sepertinya aku tak bisa menemani beberapa jam saja, ada sesuatu yang harus aku bereskan." sang Istri terlihat serius.

"Oh, ya? Tentang project-mu?" Si lelaki berdosa seolah biasa saja. Padahal malam itu sedikit kehangatan akan terenggut.

Si istri mengangguk. Deal, keduanya melanjutkan makan malam. Si lelaki berdosa tak sedikitpun menangkap bahwa dosanya siang hari tadi sudah tercatat dengan rapih.

***

Aku kembali menatap layar laptopku, aku klik minimize ms.words. Terlihatlah foto kami berdua, dua tahun lalu. Aku masih mengenakan gaun putih, pun dia mengenakan stelan jas dengan warna yang sama. Kami tersenyum bahagia. Akhirnya cinta terikat dan janji mengunci. Entahlah sampai ke akhir jalan atau tidak, aku yakin setiap persimpangannya menyimpan sejuta misteri.

Cangkir kopiku mulai kosong.Sudah hampir seperempatnya aku minum. Sepertinya aku membutuhkan tambahan caffeine. Kakiku mengajaku ke dapur, melewati kamar yang daun pintunya sedikit terbuka. Terhenti di sana sejenak, menatap tubuh lelaki tercinta yang menikahiku. Tubuhnya yang selalu membuat birahiku naik, harumnya yang membuatku terbuai, sentuhan-sentuhannya yang tak pernah mampu kutolak.


Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat, membawa rasa kecewa, menumbuhkan rasa jijik.

***

Dia tak tahu bagaimana tiba-tiba dia sudah berada di sampingnya. Ingin  dia tarik selimutnya, sedikit saja. Seperti biasa, untuk mengajaknya bergumul mesra di kehingan malam sehangat ini. Tapi dingin menyelinap ke dasar hati. Menyelimuti birahi yang muncul tatkala wangi si lelaki tercium olehnya.

Dia hanya terduduk lesu, lalu mengambil bantalnya. Sepertinya lantai yang dingin lebih asyik untuk di cumbu, daripada mencumbu seorang lelaki yang merelakan tubuhnya di gerayangi perempuan jalang.

Dan si lelaki berdosa sebenarnya tidak tertidur, dia masih mengingat perkataan seorang temannya, siang tadi di kantor, "Aku rasa kamu sedang menukarkan emas dengan tembaga."




Tuesday, 7 October 2014

Surat Cinta Untuk Ditha

Part 2

'Win, jemput aku jam lima dari rumah Tante Mia'

SMS dari Nina masuk. Apa pula ini perempuan? Selalu menganggap aku tukang ojeknya! Tapi ancaman Nina cukup membuatku tunduk. "Aku tak akan segan-segan bilang ke semua orang kalau kita berhubungan!"

Aku tak mau semua orang mengetahui affairku dengan Nina. Ya seenggaknya sebelum aku menyaksikan Ditha menikah dengan Obie. Ingin sekali melihat Ditha untuk yang terakhir kalinya dengan busana pengantin. Walaupun dia bukanlah bersanding denganku.

Langit kamar ini terasa runtuh. Sesak dada tatkala rindu kepada Ditha kembali menghujam-hujam rasaku. Dengan malas aku memaksakan diri untuk bangun, untuk menjemput Nina. Langit begitu mendung, tak mustahil tubuh akan menjadi santapan hujan.

Tak lama, aku sudah sampai di depan rumah Tante Mia. Sepi. Segera kukirim pesan ke Nina, bahwa aku sudah di luar. Nina keluar dari dalam rumah, wajahnya seperti biasa ... ceria. Tak punya otak! Bagaimana bisa kau betah keluar masuk ke rumah orang yang di dalamnya terdapat wanita yang tahu aibmu? Bagaimana kau tetap berakting seoalah tak pernah menyakiti Ditha.

"Sudah lama ya?" tanya Nina, manja.
"Gak usah banyak tanya, ayolah! Bentar lagi hujan." Aku ketus.

Nina hanya tersenyum sinis. Tangannya mulai melingkar di pinggangku. Dia memeluku dengan erat. Ah, Nina! Siapakah kau? Terkadang aku membencimu. Namun setiap kali melihatmu terlelap di pelukanku, perasaan berdosa tak mampu kubendung.

"Windy, hujan nih! Berenti yuk!" Nina mengajakku berhenti dulu ketika hujan mulai turun dengan derasnya. Aku menurut saja. Tanpa banyak cek-cok, kuparkirkan motor di pinggiran toko yang sudah tutup. Yaa ... malam mulai larut. Keadaan gang perumahan ini mulai lengang.

Nina kembali memeluku dari belakang. Nafasnya terasa hangat menghembus tepat di leherku.

"Windy ...," Bisiknya pelan.
"Ya ... "
"Kamu bener-bener ya gak bisa mencintaiku?"

Kembali pertanyaan menyebalkan itu sampai ke telingaku. Entah harus ku jawab apa? Jika aku mencintainya, meskipun masih saudara mungkin bayangan Ditha bisa hilang dari otakku. Tapi kalaupun aku tak mencintainya, entah mengapa Nina sulit kuhindari. Bahkan ketika aku tak ada yang mempedulikan, Nina yang selalu hadir dan menghiburku. Tapi Nin ... kamu telah membuat harapanku hancur! Harapan yang tak sekedar harapanku. Bagaimana perasaan Mamaku, jika tahu gadis yang dulu ia kenalkan akhirnya menjadi milik sepupuku? Maafka aku, Ma.

"Jawab dong, Win!" Nina kembali bersuara.
"Aku belum bisa jawab, Nin."
"Kamu belum bisa move on dari Ditha?''
"Maksud kamu apa?"

Kutepiskan tangan Nina dari pinggangku, dengan kasar. Hingga wanita berbibir sensual itu terlihat kaget. Bahkan mundur beberapa langkah, hingga tubuhnya mepet ke tembok.

"Yaa ... aku heran aja ... masih aja mikirin Ditha. Ditha sudah jadi calonnya Obie, Win! Sadar donk!" suara Nina meninggi. Wajahnya mulai terlihat kesal.

"Inget ya kita di mana? Di jalan! Aku gak mau ribut!" tukasku tak kalah sengit.

Nina terdiam dan menunduk. Hujan masih sangat deras. Sederas hujan di malam itu, ketika pintu terkuak dan Ditha yang basah kuyup berdiri dengan tatapan duka. Tubuhku lekat ke tubuh Nina dalam keadaan mabuk. Lalu antara sadar dan tidak aku mengejar Ditha yang berlari keluar. Hanya terbalut handuk aku berlari tanpa malu mengejar Ditha. Kala itu hujan deras seperti malam ini. Masih mampu kulihat Ditha berlari menerobos hujan. Lalu menghilang di tikungan jalan.

"Kita pulang!" tiba-tiba Nina membuyarkan lamunanku.
"Hujannya masih deras."
"Gak apa-apalah! Di sini pun kedinginan!!" ketusnya.

Ah, Nina ... apalagi sih? Kuraih juga tangannya, hingga badannya tertarik dan jatuh ke pelukanku. Terpaksa aku peluk kau lagi! Seandainya kau tahu isi hatiku, sungguh kau akan kecewa selalu dan selalu merelakan tubuhmu kujamah. Nama Ditha belum terusir, meskipun aku tak pernah seintim itu dengan Ditha, cintanya lebih mematri hatiku. Asal kau tahu itu! Kau cuma buat aku bernafsu, selebihnya ... tak ada!




Monday, 6 October 2014

Gelora Asmara

Datanglah ... nyatakanlah cintamu
Katakan bahwa kau menginginkan diriku
Datanglah bawa bunga-bunga

Aku di sini duduk manis menantimu 
Aku pun ingin membuat kau tak menyesal
Bahwa kau telah memilih diriku ini
Yang akan terus membuat hidupmu indah

Datanglah, nyatakan janji cinta
Yang akan kau ucapkan itu yang terakhir
Datanglah bawalah aku pergi
Bersama dengan semua gelora asmara

--Derby-Gelora Asmara--

Dear Riva Nando,

Karena hadirmu telah membuatku percaya bahwa hidup ini indah, hidup ini begitu berarti dan hidup ini bukan untuk disesali. Telah kukaji kisahmu agar kumampu tetap menulis cerita yang lebih bermakna bersamamu. Sejak kemarin, sekarang dan selamanya aku tak ingin kamu menyesal telah memilihku.

With love --
( Me )


Pernah Selingkuh? Ayo Jujur Berhadiah!


Argh, sesak.
Apa ini? Perut perawan tapi buncitnya minta ampun ... bahkan ketika duduk seperti ini, bersila depan laptop terasa menyiksa sekali. Ugh ...

Agak ngantuk sih sebenarnya, tapi ada yang harus kutuliskan malam ini juga. Yaitu tentang 'Selingkuh'. Penyakit mayoritas insan di muka bumi ini. Ada banyak alasan ketika cinta berpaling, seakan kekurangan dan kelebihan seorang yang telah ada di samping kita adalah hal  yang tak wajar.

Jika kamu adalah salah satunya, apa sih alasanmu untuk selingkuh? Apa tak ada jalan lain selain itu? Misalkan, bicara baik-baik kalau memang sudah bosan. Atau jika ada sesuatu hal yang tak bisa kamu dapatkan dari dia, ada satu hal yang kamu benci dll.

Aku pernah selingkuh? Uhm ..., pernah gak yaa? Hehehe ...
Pernah.

Kapan aku selingkuh terakhir kali? Susah diingat. Karena keseringan aslinya hehehe ...
Nah aku punya tantangan yang keren buat kalian, kira-kira kalian siap gak untuk jujur?

Tantangannya mudah, coba jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

  1. Kamu pernah selingkuh?
  2. Apa alasannya?
  3. Selama selingkuh adakah ketenangan?
  4. Bagaimana ending dari ceritamu?
Jawab pertanyaan tadi di ya, post di komentar bagi yang kisah selingkuhnya begitu menyentuh akan mendapat pulsa sebesar Rp. 50.000.



SURAT CINTA UNTUK DITHA


Part 1

Bukakan aku pintu-Mu ...Aku ingin berbicara sebentar kepadanya, aku tahu dia di sana bersama para bidadari lainya.

Sudah kukatakan kepada Nina, bahwa hari ini aku tak ingin berkunjung ke rumah Obie. Masih merasa tidak enak dengan apa yang dikatakan Tante Mia tiga hari yang lalu.

"Jangan sering-sering maen ke sini, Win! Kamu tahukan? Obie tak lama lagi akan menikah." Tante Mia seperti langsung memblokir persahabatanku dengan Obie. Padahal aku sudah tak ada niat apapun lagi atas hubungan Obie dan Ditha.

"Tante ... jangan karena Ditha pernah jadi pacar Windy, lalu Tante memisahkan Windy sama Obie. Ditha sudah masa lalu Win, dan Tante juga tahu Win tak ada kejelakan apapun dengan Ditha." Protesku.

Tapi akhirnya, aku rasa tak ada gunanya bersikeras dengan aturan Tante Mia. Lebih baik memang tak menjumpai Obie lagi. Meskipun persahabatan dengan Obie semenjak kami kanak-kanak harus terputus begitu saja.

"Sudahlah ..., jangan diambil hati. Tante Mia sangat mengkhawatirkan kalian kenapa-kenapa menjelang hari H-nya Obie dan Ditha." Hibur Nina.

"Tapi gak segitunya kali, terlalu over protective gitu!"

Aku melangkah di antara rintik hujan. Mendung yang dari tadi menggelayut akhirnya menjadi kucuran hujan. Tak apa basah kuyup. Biar tak ada orang yang mengetahui bahwa lelaki setegar dan searogan Windy, bisa menangis karena wanita.

Ya ... aku berbohong selama ini. Ditha masih dalam pikiranku. Malam kejadian di mana Ditha memergokiku di kamar hotel itu. Tak bisa kulupakan expresi wajah Ditha. Air mata yang meleleh di pipi mulusnya, seperti tak ingin hengkang dari mataku.

"Maafkan aku, Ditha!"

Aku memang tak mampu menahan gejolak nafsu. Ketika Nina menawarkan segalanya dan aku tengah kecewa dengan penolakanmu. Tapi ini bukan berarti kamu bisa membalas dendam kepadaku dengan menerima Obie, sepupuku. Walaupun aku tahu, kamu tak mengenal Obie dari awal, dan tak tahu jika Obie adalah sepupuku.

"Aku kenalan dengan cewek imut banget, lugu lagi," Terang Obie suatu hari ketika keluarga besar mereka tengah berkumpul.

"Wahh, keren. Lain kali kenalin dong sama kita-kita ..." Aku menimpali dengan diiringi tawa. Nina yang sejak tadi melempar-lemparkan tatapan mautnya mulai membuatku risih. Apa sih, Nina? Kita ini masih saudara jauh. Cukuplah yang sudah terjadi. Tak ingin ada kesalahan lagi di antara aku dan kamu, batinku.

Tapi hampir setahun setelah Obie mengatakan tentang gadis kenalannya, aku pindah ke luar kota karena tugas dari kantor. Delapan bulan yang aku lalui di tempat baru, tak mampu membuatku lupa akan kesalahanku kepada Ditha. Dengan Nina pun masalah semakin meruncing. Entahlah aku mencintai Nina atau tidak, tetapi kesalahan itu terulang dan terulang lagi. Nina seolah tak mau aku menjauh begitu saja.

"Win, kapan kamu bisa menikahiku?" Nina selalu menanyakan itu.
"Kamu tuh, ya! Kita masih saudaraan Ninaaa ... bagaimana mungkin kita bisa mendapat Restu!"
"Lalu bagaimana dengan yang sudah kita lakukan? Kamu harus tanggung jawab Win!"

Memang benar, apa yang sudah terjadi tak bisa aku pungkiri. "Makanya jangan mengganggu aku terus! Aku kan sudah bilang Nin, kita tak mungkin melanjutkan hubungan ini,"

Nina menangis. Bisa juga perempuan seperti kamu, menangis! Kaulah perusak hubunganku yang sudah bertahun bersama Ditha. Wanita terbaik yang pernah ada dalam kehidupanku, yang dalam beberapa hari ini akan menjadi istri sepupuku sendiri.

"Win, satu hal saja yang aku mau kamu tahu! Aku mencintaimu, Windy!"

Akhirnya Nina tetap menjeratku, bahkan Nina mulai berani mengatakan bahwa ada hubungan spesial di antara kami. Namun meskipun begitu, tak terlalu aku fikirkan selama Nina hanya terobsesi untuk menjadi istriku. Toh kalau dia tidak sampai hamil, aku tak akan pernah menikahinya. Bejat biarlah bejat! Memang seorang Windy adalah lelaki bejat.

Semua tak lagi membuatku sekuat itu. Hatiku hancur tiba-tiba setelah aku jauh-jauh pulang untuk menghadiri hari pertunangan Obie dengan gadis itu yang ternyata adalah Ditha. Aku pun bisa merasakan saat Ditha melihatku di sana dan dikenalkan Obie. Ditha terlihat sangat shock!

"Ini Windy, sayang, sepupuku," Obie mengenalkan Ditha pada lelaki yang sudah membuat dia kecewa setahun lalu. Aku tergagap, pun begitu dia. Ditha malah seakan tak mampu bergerak.

"Sayang, kamu kenapa?" Obie heran melihat ekpresi Ditha. Ditha yang terlihat sangat cantikmalam itu cepat-cepat menyunggingkan senyum manisnya.

"Oh, gak apa-apa kok sayang!"ujar Ditha. Begitu cepat kekagetannya ia sembunyikan. Tetapi meski begitu, pada akhirnya Ditha menceritakan semua pada Obie. Hingga Obie menanyakannya kepadaku dan mulailah keretakan antara aku dan Obie mulai terasa. Hanya saja Ditha tidak cerita bahwa gadis yang pada malam itu bersamaku adalah Nina.






Seorang Penulis Itu ... Sesuatu deh!

Hai-hai semua ...
Kembali dengan curhatan penulis abal-abal profesional yang cantik nan jelita :P
Hari ini aku baru ingat kalau aku punya kontrakan yang sudah lama tak aku lihat. Ternyata spider ( tanpa Man) udah di mana-mana. Debu pun di mana-mana. Hmm ... ketahuankan? Betapa malasnya sang pemilik rumah kontrakan ini :(

Bertambah usia bukan malah tambah pinter, malah tambah keblinger :( tapi aku tetep bersyukur karena setiap masalah yang menerpa tetap memberi hikmah.

Sepeninggal Ummi, kehidupanku seperti dirampas begitu saja, banyak kejadian yang tiba-tiba terjadi padaku.

Jadi Cowok Keren? GAMPANG KOK!

IKUTI TRIK MENJADI COWOK KEREN DALAM 10 MENIT!!

SIAP!?


  1. Jangan suka bohong.
  2. Jangan suka pamer.
  3. Jangan suka alay.
  4. Jangan jadi tukang php
  5. Jangan selingkuh
  6. Jangan cerewet.
  7. Jangan playboy
  8. Jangan kuper
  9. Jangan sok pinter
  10. Jangan mimpiiiiiiiiiiiiii deh, kamu!!

Surat Untuk Kekasih

Kepada Pemilik Hati 

Malam menjelang menebar kesunyian panjang.
Hembusan angin membelai mesra jiwa yang dilanda rindu.
Kau yang telah lama mengisi hati dan hari-hariku
Semoga selamanya menghiasi dinding jiwa yang selalu inginkan kamu.

Kekasihku ... temanilah aku dalam menjalani kehidupan ini.
Ajak aku untuk mengarungi lautan cobaan yang telah Tuhan siapkan.
Jangan pernah tinggalkan aku ...
Aku akan lemah tanpamu



Saturday, 4 October 2014

PUISI DARI KEKASIH

Manis senyummu ...
timbulkan sejuk di kalbu
Misteri cintamu ..
Mendebarkan jantungku ..

Kadang terlintas tanya
Adakah kau merasa apa yang kurasa
Cobalah dengar suara rinti-rintik hujan
Sebanyak itulah aku merindukanmu ... 

















A poem by : Riva Nando

Tuesday, 23 September 2014

Sajak Bunga


ya ... daku perempuan
penikmat air mata tatkala rindu tak memberi jawaban
bersama rinai hujan aku menunggumu 
kembali mengisi hari-hari yang kosong

di mana engkau?
haruskah kulangkah kaki demi mencari
sementara aku tak bersayap
akar melilit kokoh
aku bunga terpatri di tanah
takdir tak mampu ku lawan




Dandelion O'Harra  _


Monday, 22 September 2014

Serial Munaroh

Serial Munaroh
Kecewa Lagi
Seminggu ini, Munaroh mendapat kabar berita bahwa pak Haji bapaknya bang Ujang tengah mencarikan putra kesayangannya itu seorang calon istri. Muslimah, wajib! Sholehah, pasti! Pinter ngaji rajin puasa, harus! Pintar memasak dan beres-beres, ya 70% minimal menguasai. Begitu syaratnya. Munaroh sadar, siapalah dia? Yang kalau tidak dibangunkan emak, ya kesiangan. Kalau belum malam jum’at ya gak ada jadwal yasinan. Masak apapun rasanya kalau tidak asin, ya manis, spesialnya ... tawar. Beres-beres rumah hari minggu saja, itu juga kalau emak sudah angkat senjata, sapu.
Tapi bukan Munaroh yang cerdas, jika harus menyerah begitu saja. Apalagi jatuh cinta pada bang Ujang sudah sejak lama, apalagi rumah mereka depan-depanan. Apa jadinya hati Munaroh jika yang menjadi istri bang Ujang adalah wanita lain sementara tiap hari Munaroh akan melihatnya. Karena Pak Haji sudah membuat pengumuman jika rumah itu adalah warisan untuk bang Ujang.
“Aku Munaroh, pantang menyerah!!” Munaroh mengacungkan tinjunya didepan cermin. Selesai mematut diri dengan gaya baru, gamis lebar dengan jilbab tak kalah lebarnya, Munaroh melenggang ke teras rumah. Tujuan? Ya ngintip bang Ujang, siapa lagi!.
Tapi ternyata bang Ujang tidak nampak. Yang ada cuma Pak Haji yang sedang baca koran dengan jarak koran ke mata hanya dua senti. Eumm, Pak Haji seharusnya beli kaca pembesar selain kaca matanya itu. Munaroh sedikit kecewa, setelah satu jam dandan yang ketemu malah bapaknya. Tapi tak apalah, ada istilah tak ada rotan, akarpun jadi. Anaknya tidak ditempat, ya Bapaknya saja digangguin.
“Assalamu-alaikum, babeh Haji,” dengan lembut mempesona Munaroh menyapa pak Haji. Memang orang sekampung juga kalau memanggil pak Haji selalu dengan sebutan ‘babeh’.
Pak Haji mengangkat mukanya, dan senyum Munaroh mekar bersemi bagai pohon cabe, gamis hijau dengan jilbab merah. Pak Haji, shock!
“Wa-alikumm salaaaammm ... Munaroh?’’ Pak Haji langsung bertanya heran.
“Iya, Beh.”
“Sejak kapan ganti kostum? Berjilbab lu sekarang yee,?’’
“Iya Beh, alhamdulillah aye udah dapet hidayah.” Munaroh senyum-senyum tak henti.
“Oo ... Syukur alhamdulillah. Nah, bagusan begitu, Mun! Lu jaga tuh aurot lu, gak boleh sembarangan mata memandang. Biar cuma suami lu aje nanti yang lihat!” jelas pak Haji.
“Babeh Haji kok gak nanya aye dapet hidayah dari mane?”
“Hidayah di mane-mane datengnye ya dari Allah. Jadi ngapain babeh tanya, hah? Emang dari siape?”
“Babeh malah tanya, ya kan aye yang tanya tadi, gimana sih?’’
Munaroh mulai manyun, seminggu dia belajar luwes dan dewasa ternyata gagal seketika gara-gara ini. Pak Haji memperhatikan penampilan Munaroh yang seperti pohon cabe gede di masa panen. Ada rasa ingin tertawa, tapi pak Haji menahannya. Dia tiba-tiba ingat dengan sang Istri yang sedang pulang ke kampung menegok saudaranya.
“Ya sudah. Lu bisa masak kagak? Yang pedes-pedes kesukaannya si Ujang?” Tanya pak Haji tiba-tiba.
Munaroh terperanjat. Setelah tadi merasa diperhatikan, sekarang ditanya bisa masak apa tidak, dan salah satu sarat wanita yang dicari buat calon istri bang Ujang adalah pinter masak, berarti ini?
“Bisaaaaaaaa Beh!!! Bisaaa banget!!’’ Setengah berteriak Munaroh menjawab. Hampir saja jawabannya membuat jantung pak Haji copot.
“Pelan-pelan nape sih, lu jawabnye bikin jantung Babeh kambuh!”
“Hehee ... Maaf Beh, ma-aaff ... Saking bisanya aye masak Beh, gitu aja kok.”
Munaroh nyengir, melihat Pak Haji yang melotot kaget.
“Lanjut Beh. Harus bisa apalagi nih, biar aye jadi ...’’ kalimat Munaroh terpotong.
“Beres-bereslah, nyuci, kepasar, sama masak tuh tadii, inget apapun masakannya harus pedes.”
“Ok, Beh! Bisa banget. Bangun pagi-pagi ya Beh?’’
“Subuh lah, si Ujang sarapan pagi jam 6 harus sudah siap!”
“Ok, Beh! Siap!”
Angan Munaroh sudah di langit ke-tujuh. Ia sudah merasa terpilih jadi menantu yang langsung diinterview sama Babeh Haji. Tapi tiba-tiba dia ingat isu tentang rajin sholat, pinter ngaji, rutin puasa. Hello ... Munaroh mendarat lagi.
“Tapi Beh, gak harus pinter ngaji kan Beh?”
“Lu belum bisa ngaji?’’
“Bisa sih Beh, tapi belum fasih bener, gitu Beh.”
“Ya belajar aje sama si Ujang kalo lu udeh gak sibuk.”
“Puasanye Beh? Senin sampe Kemis apa Senin ame Kamis doang?’’
“Emang siape yang mau puasa nyenen-kemis?”
“Aye, Beh.”
“Ya udeh semampu lu aje,” Jawab Pak Haji ringan.
Munaroh memekik dalam hati, “Yesssss!!!” Akhirnya tujuannya tercapai dan sukses. Ternyata Babeh Haji pengertian banget, fikirnya.
“Yaudah, mulai sekarang aje lu kerja di rumah Babeh. Masak buat makan siang si Ujang ye!” Pak bicara santai sambil kembali meraih koran yang tadi dia baca.
Dukk! Kepala Munaroh seperti kejedot pintu. Kerja?
“Kok kerja Beh? Siape yang mau kerja?’’
“Yaelah ... Ya Elu, Munarohhh! Itu tadi kan udeh Babeh jelasin. Lu jawab siap, gimane sih Lu?’’
“Jadi ... tadi bukan interview buat calon istri bang Ujang?”
“Interview calon istri? Apaan interview-iterviewan segalaaa? Si Ujang udeh dewasa, calon istrinye dia sendiri yang nentuin. Bu haji lagi pulang kampung, makanye Babeh butuh orang buat masak sama beres-beres rumah.” terang Pak Haji.
Angan Munaroh mendarat lagi. Lemess seketika mabuk perjalanan naik ke angkasa.
“Kiarin tadi aye di tanya bisa masak apa kagak buat di jadikan calon istri bang Ujang,” Munaroh mulai layu.
“Emang lu denger dari siape babeh mau carikan istri buat si Ujang?’’
“Tetangga, Beh!”
“Hoax itu.” Jawab Pak Haji santai.
“Ngomong dong dari awal!”
“Yee ... Elu nya aja gagal paham.”
“Babeh tuh, tukang PHP!”
Munaroh kecewa lagi. Manyun dan berlalu meninggalkan Pak Haji.
“Eh, jadi kagak lu kerja di rumah Babeh?’’ Pak haji teriak, melihat Munaroh sudah memasuki rumahnya lagi. Munaroh menoleh, dari pintu dia menjawab.
“Noooooo ...!

Thursday, 4 September 2014

Gagal Posting

fffftttttttt ...... Judulnya -BUKAN TAKDIR
ya Allah tinggal endingnya malah laptop pake acara mati segala.

Satu kata buat malem ini? KECEWA!!!!!

Wednesday, 3 September 2014

Catatan Malam

Part of; On the Way Twenty Five


Hai malam yang panjang, ingin kusampaikan kegelisahanku saat ini. Kegelisahan yang tak seharusnya aku besar-besarkan setelah apa yang Allah berikan kepadaku. Kau tahu dan aku sadar, bahwa Tuhan begitu baik padaku. 

Malam ini aku kembali merasa diserang kejenuhan yang teramat besar. Mulai bosan dengan rutinitasku yang monoton serta hidup yang aku rasa tidak ada kejelasan. Tiba-tiba aku merindukan aku yang dulu, yang penuh derita namun tak pernah aku publikasikan. Hanya pena yang menodai kertas sebagai bukti bahwa dulu aku pernah hidup dalam gelimang luka dan perih yang tak mungkin orang lain rasakan. 


Entah bagaimana dulu aku bisa sesabar itu, terbaring di sehelai kasur lapuk dan sebilah selimut tipis dalam ruangan pengap dan kecil tanpa seorang pun teman bicara. Hanya tinta dan pena yang menemani. Menghapus garis-garis kesedihan di wajahku dengan menciptakannya menjadi untaian kata yang tertulis di buku harian. Usiaku pun masih remaja, namun kerasnya hidup tak memberikan kesempatan kepadaku untuk mengeluh dan menolak atau setidaknya bertanya '' Mengapa harus aku? Mengapa tidak gadis lain saja, karena seharusnya Engkau tahu cita-citaku dan merestuinya. Ya Allah mengapa Engkau tak adil?'' 

Menangis bukanlah lagi kebiasaanku. Karena tak pernah air mata yang kutumpahkan sejadi-jadinya memberikan sebuah jalan keluar dari deritaku. Tapi entah mengapa saat itu aku semakin kuat, meskipun seolah ujian dari-Nya belum harus terhenti, terus bertubi menghujani duniaku. 

Tubuh kurusku dan semua tentang kepahitan itu kembali terbayang kini, saat aku mulai jenuh dengan segala yang berhasil kuraih dan kumiliki, namun masih aku menganggapnya hanya kebetulan saja. Karena sebenarnya yang aku mau bukanlah ini. Tapi hal lain yang memang mungkin tak akan pernah aku dapatkan. 


Hingga akhirnya aku tersadar bahwa, Allah itu Maha Kuasa atas segalanya yang ada di muka bumi ini. Pun begitu dengan derita yang selama ini kuanggap adalah takdir ternyata hanyalah ujian, ketika aku kuat menahannya dan tetap melangkah tibalah jua aku kesaat ini. Saat-saat di mana aku hampir mendapatkan semua yang aku impikan, namun aku tak jua bersyukur. Hingga perlahan cobaan kembali berat kurasakan, perlahan orang-orang yang kukasihipun menghilang, salah satunya adalah Bundaku, seseorang yang paling berharga dalam hidupku, penyemangat bahkan bagaikan urat nadiku. Tanpa nya kini aku serasa mati.

Ya Allah, ternyata apa yang dari-Mu kepada-Mu lah semuanya kembali. Kembalikan pula aku pada-Mu saatnya nanti. 

Saturday, 30 August 2014

The World is Empty without Mother

Pernah aku mendengar, bahwa jika Ibu sudah pergi maka seluruh kehidupanpun berakhir. Aku tak yakin jika ini terjadi kepada semua orang, tapi saat terjadi itu padaku, aku membenarkannya 100%. Saat Ibu sudah pergi semua kehidupanku serasa terputus, serasa tak ada lagi hal berharga yang mesti aku perjuangkan.

Tak ada lagi semangat kerja seperti saat Ibu masih ada. Serasa gak punya target apapun, tak ada lagi biaya-biaya yang biasanya selalu buat aku semangat dan bertahan dengan pekerjaan yang sekalipun sudah berada pada titik paling jenuh. Tak ada lagi catatan-catatan keuangan yang biasanya tersusun rapi. Sepertinya uang tak berharga seperti saat Ibu masih ada.

Bahkan sempat-sempatnya berpikiran '' Aku ini wanita, nabung banyak-banyak buat apa? Bahagiain pacar? atau calon suami? Gak banget!!!Buat biaya nikah? hah ... serius aja, kalau dia ngajak nikah berarti dia siap dengan segala biaya. Aku kan cewek, harusnya menerima, bukan memberi. Buat masa depan kalau sudah bersuami? Kan ada suami ... tinggal suruh dia yang kerja,toh itu kewajibannya. Buat pergi liburan? Kalau cuma sendirian , kan gak seru ... mau ngajak orang lain, malas bener entar suruh bayarin."

Lucu juga saat alasan-alasan diatas muncul. Menambah malas bekerja, bahkan mikir-mikir mending gak kerja sekalian. Buat apa ..., duniaku seperti berakhir. Uang seperti gak ada gunanya. Urat sadar masih belum sepenuhnya lurus, persendian nikmat saat berkecukupan tanpa membebani orang lain sepertinya masih sakit dan bermasalah. Dan untuk sadar bahwa hidup ini masih indah dengan berbagi ke sesama masih sulit.

Namun perlahan aku coba bangkit dari kesedihan, aku tak tahu ini tak benar. Ada banyak hal yang mesti aku pikirkan, salah satunya adalah Ayah tercinta. Aku masih punya tanggung jawab sebesar tanggung jawabku terhadap almarhumah Ibu. Aku harus berjuang tetap seperti dulu, semangat yang sama saat keduanya masih berdampingan. Bahkan kini aku lebih semangat untuk membahagiakannya dengan keinginan terakhir mereka yang tak sempat Ibu saksikan. Aku ingin menikah :) dan mulai memikirkannya.

Dear Pagi ...

It's Sunday ... iya Minggu ... di mana kebanyakan orang menghabiskannya untuk liburan, atau pun sekedar relax di rumah. Lain hal nya denganku, minggu adalah awal pekan yang harus dilewati penuh semangat. Hari ini, hari pertama masuk kerja ... ( not really feel better ) ngantuk masih menggelayut di mata, akibat kebiasaan bangun siang selama libur panjang.

Bicara tentang semangat, yang seperti angin kadang kencang, kadang sepoi-sepoi dan kadang juga seperti tak ada sama sekali. Semangatku pagi ini? Ya setengah dari yang seharusnya, karena masih merasakan efek malas-malasan.

Mencoba mengingat kembali semua cita-cita dan impian untuk saat ini ke depan. Teringat ke bulan lalu saat semua masalah menerpa seperti badai kencang. Juga kepergian Ibu menghadap sang Pencipta. Rasanya semua itu seperti mimpi yang tak pernah nyata ... namun aku harus rela dihadapkan pada semua kenyataan itu.

Pagi ini aku bersyukur, bisa terbangun dalam keadaan sehat dan sadar. Bisa kembali menata mimpi yang sempat berantakan dan harapan yang terputus. Alhamdulillah ...

Tuesday, 5 August 2014

Love Destiny

Ketika Cinta sejati tak menemukan arah, namun cinta suci berlabuh di dermaga. Hadeuz dan Leamor terpisah, namun Kapten Jack berhasil menemukan mutiaranya dalam diri Leamor.

*PART 1

Sebut saja namanya Leamor. Seorang gadis desa yang jatuh cinta pada pangeran Negeri Langit. Dia bukan saja seorang pangeran yang mewarisi seluruh kekayaan Kakeknya yang penguasa negeri itu, namun juga seorang panglima perang yang handal. Dia tak pernah kalah di medan perang.

"Betapa gagahnya Pangeran Hadeuz, lihatlah!" Bisik Leamor kepada bibi Tien. Bibi Tien adalah pengrajin kain tenun yang sudah dipercaya untuk menyulam kain-kain sutera untuk kerajaan.

"Tentu saja dia gagah. Dia akan menjadi pemimpin negeri ini." Bibi Tien tersenyum melihat aura Leamor yang berbinar tatkala melihat Pangeran Hadeuz melintas di sekitar jalan pedesaan mereka.

"Beruntung sekali putri-putri di sana, yang mungkin saja terpilih menjadi istrinya." Leamor seolah berbisik.

"Jodoh urusan Tuhan, Lea!" Hardik Bibi Tien. "Pulanglah, Ibu mu pasti sudah menunggumu."

Leamor terdiam. Bibi Tien adalah majikannya. Namun Bibi Tien sangat menyayangi Lea. Lea ... begitulah gadis cantik itu dipanggil oleh siapapun yang mengenalnya.

---

"Ibu ..!"

Lea menyibak tirai yang menutup pintu katil Ibunya, terlihat wajah tua itu terlelap pulas. Lea mendekatinya pelan, sejurus kemudian mencium kening yang mulai keriput itu.

"Ah, kau."

"Maafkan aku, telat pulang lagi." Lea berbisik, diusapnya rambut putih mahkota sang Ibu.

"Tak apa. Bibi Tien pasti menahanmu. Aku mengerti dan percaya padanya."

Lea terdiam. Sesungguhnya bukan Bibi Tien. Namun kedatangan pangeran Hadeuz ke desa yang membuat Lea rela pulang malam. Kesempatan untuk ikut mengagumi ketampanan dan kegagahannya. Bukan ia seorang, puluhan gadis lain tadi dalam satu pikiran yang sama.

"Ah ... aku tak pernah bermimpi menjadi seorang putri istana langit. Tapi aku bisa menjadi ratu kelak, dari seorang penguasa samudera."

Lea tak hanya cantik, ia adalah gadis yang pintar. Namun ia menolak menjadi penari, meskipun dengan menjadi penari ia terjamin menjadi bunga diantara hati para lelaki. Bahkan mungkin Pangeran Hadeuz. Musik dan tarian sangat kental di negeri langit.

Siapa menyangka, air laut tak pernah pasang dan ombak meninggi meruntuhkan karang? Meski kecil kemungkinan sesekali hal itu terjadi. Ialah Pangeran Hadeuz yang menaruh hati pada Leamor. Ketika gadis itu dibawa Bibi Tien ke Istana untuk membantunya mengganti kain tirai di Istana.

Namun sejauh ini Sang Pangeran telah dekat dengan salah seorang putri pemanah handal, Erendale. Gadis tangguh yang mahir meluncurkan panah di medan perang. Tak ada cinta terucap, namun Pangeran Hadeuz begitu mengasihinya. Bahkan Erendale bertingkah bak kekasih bagi Pangeran Hadeuz.

"Siapa dia, Bibi?" Pangeran Hadeuz bertanya pada Bibi Tien tanpa mengalihkan pandangannya.

"Maaf yang Mulia. Dia adalah Leamor. Sudah hamba anggap sebagai anak hamba." Bibi Tien menjawab penuh hormat.

"Apakah dia masih bersama keluarganya?"

"Benar, yang Mulia. Ibunya masih ada, namun sudah renta. Dia bekerja padaku semenjak Ayahnya meninggal ketika pasukan Ufuk menyerang desa kami."

"Panggilkan dia ke ruanganku!"

Bibi Tien terkejut. Namun dengan segera ia mengangguk dan bergegas berjalan menemui Leamor yang tengah sibuk mengganti tirai dengan pelayan yang lain.

"Lea, rapihkan bajumu, rambutmu! Pangeran memintamu untuk ke ruangannya!" Bibi Tien berbisik di telinga Lea.

"Apa? Apa kau tidak salah bicara, Bibi?"

"Aku tidak salah. Cepatlah!"

"Ahh, Bibi aku tak yakin ... " Lea tampak gusar bahkan melirik ke arah Pangeran Hadeuz pun tak mampu.

"Ayolah, Lea! Jangan membantah perintahnya!" Hardik Bibi Tien.

"B-ba-baikk, Bibi!"

Dengan langkah gemetar Leamor menuju ke arah pangeran Hadeuz. Tanpa mengankat wajahnya hingga kakinya secara repleks berhenti di hadapan sang pangeran.

"Ikuti aku, Lea!"

Leamor terkejut. Namanya disebut dengan tanpa basa-basi. Pasti Bibi Tien telah membocorkan namaku, pikir Lea.

"Baik yang Mulia."

Leamor mengikuti langkah gagah Pangeran Hadeuz. Dua penjaga pintu ruangannya menggangguk hormat, membukakan pintu dan menutupnya kembali setelah Lea masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan yang tak pernah ia mimpikan sekalipun apalagi kini ia tengah berdua dengan pangeran tampan negeri Langit yang menjadi idaman para putri Istana. Tiada henti ia mencubit tangannnya sendiri. Namun tetap sakit bahkan memerah kulitnya. Ini pertanda bahwa bukanlah mimpi.

"Apa benar namamu Leamor?" Tanya sang pangeran.

"Benar, Tuan."

"Kau juga bisa menyulam benang sutera seperti Bibi Tien?"

"Benar, Tuan."

"Baiklah, aku ada honor buatmu, Lea. Buatkan aku kain sutera yang paling bagus. Untuk kuhadiahkan kepada Ibuku. Jangan sampai gagal! Nyawamu taruhannya! Aku beri kau waktu dua minggu saja."

Kata-katanya yang tegas berwibawa menghunus tajam ke jantung hatinya, tanpa sanggup menjawad Lea hanya mampu mengangguk.

"Ingat! Ini tugas berat dan rahasia. Aku percaya padamu! Kau boleh keluar sekarang, Lea."

Kali ini suara pangeran menjadi lembut, membawa majik yang mengangkat wajah memerah Leamor hingga mata indah itu menyaksikan sebuah senyum laksana dewa.

Jantungnya berdegup kencang, tak mampu lagi ia menahan senyuman maut itu, namun kekuatan untuk menunduk pun tak ada lagi. Tenaganya sirna, hanya desiran indah yang menjalar hangatnya hingga peluhnya hampir menetes.

Mengapa, Tuhan?  Ahh ... Leamor tersadar. Bergegas ia berbalik menuju pintu kokoh itu. Disudahinya angan indah pesona pangeran Hadeuz. Kini adalah tugas! Ya tugas, menyulam sutera terindah dalam waktu dua minggu.

Friday, 1 August 2014

Malam Terakhir di Westminster, Mayfair, London

Dear Marylebone.

Kau sudah banyak memberiku kenangan Indah.
Hari-hari yang aku lewatkan penuh semangat dan rasa syukur. Kini aku yakin ... bahwa mungkin persuaan di antara kita tak aka lama lagi. Kamu akan menjadi tempat yang sangat aku rindukan.

Besok kutinggalkan engkau ... kota indah.
Nantikan aku kembali menginjakan kaki ini di sini bersama kekasihku :)

Friday, 25 July 2014

24 Hours in Colombo ( 7 Hari Sepeninggal Bunda )

Tujuh hari sepeninggal Ibunda, dengan berat langkah aku melanjutkan perjuangan menuju puncak. Aku yakin, do'a tulusnya masih untukku.

Jika mayoritas orang-orang, mudik saat lebaran ke kampung halaman adalah hal yang sangat menyenangkan.
Berbeda denganku ... pertengahan puasa aku pulang ke kampung halaman. Namun dua minggu yang aku lewatkan di sana hanyalah memberikan luka abadi. Aku kehilangan Bunda tercinta di minggu ke tiga ramadan. Rasanya tak percaya, karena tiga bulan yang lalu semua begitu indah. Aku masih bisa menghabiskan waktu untuk bahagia dan bercanda tawa bersamanya.

Tak mampu kutatap wajah bapak. Karena setiap aku menatapnya, dipastikan air mata akan secepatnya mengalir. Tak terkira perjuangan cintanya selama ini, dan setianya belaiu pada Ibu hingga akhirnya mereka terpisah maut. Omongan-omongan Ibu yang selalu berkata tak mau ditinggalkan Bapak, akhirnya menjadi kenyataan. Ibu meniggalkan Bapak :'( . ( Semoga tenang di surga sana ya Mii .. ) 

Melihat kamarnya, aku menangis. Pun begitu saat melihat barang-barangnya. Semuanya terasa mencabik-cabik perasaaanku. Rasa penyesalan terkadang menyeruak, menyusup ke dalam sanubari. Keinginan terakhirnya untuk melihatku bersanding dengan lelaki pilihanku tinggalah mimpi yang tak mungkin lagi terwujud.


-Minggu, 20 JULLY 2014-

Aku hanya mampu menangis dan menangis, saat sadar bahwa beliau sudah gak ada lagi. Matanya sudah tertutup untuk selamanya. Senyumnya, marahnya, canda tawanya, kini tinggal kenangan yang tak mungkin terulang kembali. Mii ... secepat ini kah?? 
Bahkan janjiku untuk memberikanmu cucu pun masih jauh di ambang sana.

Seminggu setelah kepergiannya dengan keraguan dan luka yang masih mendalam, aku mencoba bicara pada Bapak. Aku bicara masalah pekerjaan yang masih harus aku selesaikan. Walaupun dengan berat hati aku harus memutuskan untuk melangkah, mengejar cita-cita yang belum aku capai. Akhirnya dengan perasaan lega karena Bapak memberikan izin aku untuk kembali bekerja, aku pun bersiap meninggalkan kampung halaman lagi. Dan inilah nasibku, lebaran tanpa keluarga lagi :'(