Sebenarnya aku tak mau mmbuat cerita lain, selain tugasku. Tapi aku punya satu ide yang tak bisa aku lupakan begitu saja. Kubuka laptopku, tampilan words tersemyum manis.
Mungkin inilah saatnya sedikit relax dan bersahabat dengan gejolak jiwa.
***
Langkah-langkah perempuan dengan stocking hitam dan sandal hak tinggi itu, berhenti di tepian jalan. Bajunya yang merah menyala dengan sedikit terbuka di bagian dada. Bisa dibilang cantik, namun lebih tepatnya disgusting .Rambutnya hitam mengkilat, menutup bahu. Ia sedang tersenyum-senyum dengan ponselnya. Entah insan mana yang mengirimkannya pesan. Sepertinya itulah yang membuat dunianya benar-benar hidup. Hembusan angin mengelus rambutnya, dia diam. Sehingga udara pun penasaran, ditiupkannya lebih kencang lagi, rok mininya bergoyang.
Sebuah mobil berhenti, bergegas wanita cantik itu masuk ke dalamnya. Blab!!! Tak ada lagi yang telihat. Hanya sebuah desahan nafas berat tersulut emosi. Sebuah mobil dinas berhasil melarikan seorang wanita muda pada jam kerja. Ini sungguh diluar kendali.
Hari itu cukup sampai di sana saja. Semua masih baik-baik saja. Nasi terhidang dengan lauk-pauk kesukaannya. Makan malam romantis. Tangan mungilnya cekatan menyeduk nasi ke piring si lelaki berdosa. Tak ada curiga, tak ada pertanyaan. Senyum masih mampu dipalsukan.
"Bagaimana masakanku?'' tanyanya, seperti biasa.
Si lelaki berdosa memainkan sendoknya, setengah mencari-cari kalimat yang tepat untuk dikeluarkan. Memuji, atau sebaliknya. "Enak ...." Seraya menjatuhkan pandangannya kembali ke piring.
"Malam ini sepertinya aku tak bisa menemani beberapa jam saja, ada sesuatu yang harus aku bereskan." sang Istri terlihat serius.
"Oh, ya? Tentang project-mu?" Si lelaki berdosa seolah biasa saja. Padahal malam itu sedikit kehangatan akan terenggut.
Si istri mengangguk. Deal, keduanya melanjutkan makan malam. Si lelaki berdosa tak sedikitpun menangkap bahwa dosanya siang hari tadi sudah tercatat dengan rapih.
***
Aku kembali menatap layar laptopku, aku klik minimize ms.words. Terlihatlah foto kami berdua, dua tahun lalu. Aku masih mengenakan gaun putih, pun dia mengenakan stelan jas dengan warna yang sama. Kami tersenyum bahagia. Akhirnya cinta terikat dan janji mengunci. Entahlah sampai ke akhir jalan atau tidak, aku yakin setiap persimpangannya menyimpan sejuta misteri.
Cangkir kopiku mulai kosong.Sudah hampir seperempatnya aku minum. Sepertinya aku membutuhkan tambahan caffeine. Kakiku mengajaku ke dapur, melewati kamar yang daun pintunya sedikit terbuka. Terhenti di sana sejenak, menatap tubuh lelaki tercinta yang menikahiku. Tubuhnya yang selalu membuat birahiku naik, harumnya yang membuatku terbuai, sentuhan-sentuhannya yang tak pernah mampu kutolak.
Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat, membawa rasa kecewa, menumbuhkan rasa jijik.
***
Dia tak tahu bagaimana tiba-tiba dia sudah berada di sampingnya. Ingin dia tarik selimutnya, sedikit saja. Seperti biasa, untuk mengajaknya bergumul mesra di kehingan malam sehangat ini. Tapi dingin menyelinap ke dasar hati. Menyelimuti birahi yang muncul tatkala wangi si lelaki tercium olehnya.
Dia hanya terduduk lesu, lalu mengambil bantalnya. Sepertinya lantai yang dingin lebih asyik untuk di cumbu, daripada mencumbu seorang lelaki yang merelakan tubuhnya di gerayangi perempuan jalang.
Dan si lelaki berdosa sebenarnya tidak tertidur, dia masih mengingat perkataan seorang temannya, siang tadi di kantor, "Aku rasa kamu sedang menukarkan emas dengan tembaga."








