Setelah membaca buku *Asslamualaikum Beijing & Sakinah Bersamamu karya Bunda : Asma Nadia*
Kepala sebenarnya terasa berat, Mag yang kambuh dibarengi migrain membuat obat yang kuminum sama sekali gak ada reaksi apapun. Kemudian mencoba alternatif lain dengan membuat mie instant yang super pedas juga hasilnya nihil, gara-gara cabenya ternyata cabe muda.
Kesal. Migrain semakin mengganggu.
Teringat kemarin 7 buku best seller sudah masuk ke kamarku. Ah, saatnya membaca lagi. Jika kemaren mood naik turun dengan kisahnya Dewa dan Ra, kali ini tersenyum-tersenyum sendiri dengan dua cerpen yang baru selesai dilahap dari *Sakinah Bersamamu.
Teringat kemarin 7 buku best seller sudah masuk ke kamarku. Ah, saatnya membaca lagi. Jika kemaren mood naik turun dengan kisahnya Dewa dan Ra, kali ini tersenyum-tersenyum sendiri dengan dua cerpen yang baru selesai dilahap dari *Sakinah Bersamamu.
Aku sudah lama mendambakan berbagai macam dialog bersama suamiku nanti. Juga tentang khayalan punya anak dan masalah seputar rumah tangga lainnya. Meskipun harapan yang mirip dengan PLN mati-hidup, mati-hidup ini kadang membuatku emosi juga.
Bagaimana tidak, berulang kali aku dijatuhkan cinta! Seenaknya saja orang-orang itu datang dan pergi. Tapi kadang terpikir jika mungkin ini salahku. Mirip taman kota, indah sih iya, nyaman untuk dikunjungi. Disinggahi. Tapi ya begitu ... singgah sebentar, refreshing, kemudian pulang ke tempat masing-masing.
Sempat jatuh dari tempat paling tinggi.
Yaitu gagal menikah! Sakit iya ... tapi memang harus tabah seperti Ra. Karena yang terbaik itu akan datang. Dan sesakit apapun tak perlu di elu-elukan lagi. Cukuplah menjadi pelajaran.
Yaitu gagal menikah! Sakit iya ... tapi memang harus tabah seperti Ra. Karena yang terbaik itu akan datang. Dan sesakit apapun tak perlu di elu-elukan lagi. Cukuplah menjadi pelajaran.
Kini, dua kisah pertama di *Sakinah bersamamu membuat aku tercengan. Merenung. Kemudian tiba-tiba merasa kangen pada seseorang yang selalu kuanggap terlalu cuek, dingin, susah cerita dan sama sekali tak memperhatikan aku. Bahkan mungkin tak pernah benar-benar menginginkan aku menjadi istrinya nanti.
Padahal beribu harapan sudah aku sampaikan padanya, selain kepada Allah tentunya. Hanya satu yang dia respon dengan baik yaitu nama calon anak. Karena maunya sih ketika menikah nanti ya secepatnya saja dikasih kepercyaan buat punya anak. Hehehe ...(menikah saja belum) padahal hubungan ini lebih banyak dilalui dengan LDR karena cinta kami beda pulau. Bahkan sekarang terpaksa beda benua ... hiks!
Aku kangen sikapnya yang cuek. Tak lebih. Namun damai saat merasa berada diantara kasih sayangnya. Kadang pikiran 'gak mungkin bersatu, dia itu terlalu cuek. Gak peduli. Gak peka. Gak suka cerita. Gak banyak waktu buat orang secerewet aku.' Tapi setelah membaca Novel dan cerpen-cerpen luar biasa tadi, aku bisa tersenyum bahagia.
Tak semestinya aku takut dengan perbedaan karakter, cinta jarak jauh, dan luka saat Allah memberikan pilihan lain. Terima kasih Bunda Asma Nadia yang sudah memberikan karya terbaik di bumi Allah ini. Saya adalah satunya yang terharu dan sadar melalui kisah inspiratif yang diceritakan dengan tulisan seindah itu.

No comments:
Post a Comment