Dear, pagi ...
Betapa bersyukurnya saat jemariku masih menari bersama pena yang tak lelah menemaniku.
Semalam lilin bercerita, jika pengorbanannya tak pernah ia sesali.
Karena redup yang pernah ia beri meneranginya hingga sang surya datang kembali.
Berbicara tentang cinta sejati seperti yang tertulis di beratus-ratus novel.
Aku adalah salah satunya yang ingin bercerita tentang cinta sejati itu, meski hanya cerita, sebatas cerita. Tuhan ... mengapa meski terjadi semua ini?
Atau mungkin tak harus aku permasalahkan lagi.
Bayangan itu samar-samar menghilang, menjauh, mengikuti hembusan angin yang lelah bersamaku. Membawa sekeping hati yang menangis, kehilangan.
Tuhan ... peluklah aku sebentar saja.
Peluklah raga yang lelah dimainkan cinta.
Mengapa?
Zahraa senja, 28 May 2014
No comments:
Post a Comment